Jones Gultom
SEKALI waktu ketika main-main ke Tigalingga, Sidikalang, aku terkekeh-kekeh mendengar cerita para ompu di parker tuak, tentang pengalaman mereka mabuk. Rupanya ada seorang jago minum. Julukannya aja si tuak. Maklum namanya juga di kampung, tuak lebih diminati daripada minuman botol. Yang cerita ini juga dah tua. Dah ubanan, ceking, ompong pula. Dengan logat Karo-Pakpak, setengah mabuk, dia pun bertutur. “Ia…dah empat teko diminumnya, tak tenggen-tenggen dia.. Tapi teko kelima bilang pintu pun enggak tahu. Mana punti…mana punti..katanya, ketawa kami setengah mati!!”
Yang jadi pembicaraan kami malam itu, memang jagonya minum. Se-kecamatan enggak ada yang bisa nandingin. Biasanya dah berteko-teko tapi enggak tumbang (mabok) juga. Rupanya malam itu dia naas. Di teko kelima dia teler. Ketika hendak keluar dari parker (kedai tuak) dia meper. Mo bilang pintu jadi punti! “Mana punti..mana punti…!”
Pernah juga ketika rombongan wartawan yang meliput acara di Samosir dijamu masyarakat dengan sejeregen tuak. Alhasil banyak yang jalan merangkak menuju penginapan. Besoknya macamlah keluhan, peninglah, pegal-pegallah, muallah. Syukur tak jadi berita, apa kata dunia..?
Cerita-cerita soal mabuk, temanku yang lajang lain lagi. Seorang pasaran, preman, pokoknya garanglah. Waktu itu kami minum sambil genjreng-genjreng gitar. Tahulah batak, ngomongnya nyenggak-nyenggak tapi kalo dah nyanyi, hem… mellonya minta ampun. Nyanyinya pake sesenggukan segala.
“Hajar lae… hajar terus. Besok, besoklah,” katanya sambil menekan tuak. Enggak terasa kami yang berlima dah ngabisin 8 teko, artinya 32 gelas. Wajar mata dah berkunang-kunang. Tapi karena lagu dan tambol, biusnya masih bisa ditahan. Malah nyanyinya makin paten. Tak dikomando, masing-masing ambil suara 1, 3 dan 5. Apa enggak paten. Makanya jarang ada tetangga yang ngomel, meskipun sampai larut malam. Malah tak jarang ketagihan. Lumayan dengar langsung album gratis
Nah gitu acara bubar, mulailah bermunculan masalah. Ada yang enggak sanggup lagi diri. Ada yang ngomel melulu sambil sempoyongan, ada yang muntah tapi yang keluar cuma angin, ada yang pasrah aja tidur di teras rumah orang.
Gitupun kami pulang juga, bermaksud tidur di rumah teman. Sampe gang, langsung digonggongi anjing. Palak kawan maju ke depan; “Enggak syur kau, ayo main!” tantangnya. Teman lain melempar sepatu sambil nggerutu; “Macem hebat kali kau!”
Sampai di sebuah rumah berpagar, kami berlima nyelonong aja dan langsung bertumbangan di teras. Mulailah teman ngetuk-ngetuk pintu. “Mak… mak… buka pintu..” Mak.. buka pintunya..” Tapi sepi. Tak ada jawaban. Malam hampir jam 3. “Mak..mak..!” kali ini lebih keras. Yang membuka pintu malah tetangga. Seseorang setengah baya, bersarung keluar dari kegelapan. Kemudian tunduk mengambil sesuatu.
“Puk…! Ngapaen kok di situ, bodat!” Hahaha… Besoknya tahulah aku rupanya, teman kami salah mengetuk pintu.
Satu lagi. Biasanya kalo mabuk, apa yang kita pendam dan rahasiakan justru pingin kali dikeluarkan. Pernah pula rahasia kawan terbongkar tak sengaja. Si kawan menceritakan pengalamannya pacaran dengan si A. Padahal si A ini pacarnya kawannya cerita. Tapi syukurlah mereka sama-sama mabuk, jadi tak nangkap. Keduanya malah terbahak-bahak enggak karuan. Rupanya ketika mabuk, tak selalu anarkis seperti yang dinilai umum. Maka betul juga imbauan; Sesekali mabuklah, supaya tahu bagaimana rasanya waras.
![]()
Waktu saya LITTUN di korea sana, kubuktikanlah kalo aku anak MEDAN. Sampe geleng-geleng kepala puang korea itu, nggak nyangka ada orang indonesia se GARANG itu mabuk. pokonya, ASAL isi KOSONG, ASAL KOSONG isi.
tersebutlah seorang rekan dari singapur, yang sipanggaron, katadia, kalo dia di kampungnya alias di dekat bandara changi, kalo dia jagonya minum. Awak sebenarnya nggak percaya, sejago-jagonya dia minum, pasti lebih jago si JAMORDONG asli kampung kami par-pakkat, saking jagonya MINUM dan TENGGEN, lihat batang ni BAGOT langsung dia MABUK.
Pagi tuak, siang tuak, dan malam tuak, bahkan ketika istrahat sejenak ketika kerja di ladang maka kalau dikamoung lain, biasanya minum AIR PUTIH, di kampung kami ini, adalah TUAK sebagai penggantinya.
berkat latihan di PAKKAT, awakpun menunjukkan jati diri sebagai seorang PEMINUM ulung di hadapan korea-korea itu. Purak-purak laha awak bilang nggak bisa minum, awalnya. Lalu setelah pesanan menu makanan datang sebagai tambul yaitu BPK, BIANG PANGGANG KOREA, maka segelas demi segelas, pelan tapi pasti, botol-botol pun berpindah dari temapt LUSINAN Krat ke bawah meja.
Pengalamanku, kenapa kami nggak jadi mabuk malam itu, adalah karena cara minumnya. Kalo orang batak, minum itu asal main tenggak, tak ada aturan. nah, di korea beda lagi. Setiap dah terasa OYONGnya, maka mik KARAOKE di sediakan oleh si yang punya LAPO.
Capek kali mata awak, nyari-nyari lagu batak!! tak ada puang, semuanya lagu korea dengan tulisan HANGULnya. Bah,..akka bodat on, pikirku kan.,…yang nggaktaunya orang ini, kalo awak cuman bisanya lagu batak??. Dan sengaja tuh, dikasi MIK ke awak,…Nyanyi kau,..katanya.
Bah….apa pulak ini, kalo Tulisan AKSARA BATAK, mungkin masih bsa ku tarik senada dua nada, ini beda pulak. Lalu patentengan, awak carilah lagu bahasa inggris.
Nah, biar nggak mabuk, caralainya adalah PINDAH LAPO. jadi ketika RARU dari SOJU ( minuman khas korea, setara tuak) bekerja, maka segeralah cabut dari lapo itu. Pindah kota bila perlu!. Sekali malam minggu awak pernah minum di lima LAPO KOREA, tinggal naik TAKSI, atau SUBWAY. mungkin jauhnya dari SIATTAR ke TEBING kali itu, hanya untuk neglanjutin minum TUAK KOREA ini. Salut!!.
Minum tuak semalam suntuk!!, tidak mabuk.
Pengalaman saya di PAKKAT, beda lagi, dari jam lapan hingga jam tiga pagi, sai holan di lapo ni sipakpahan….apa ngak cepat mabuk???
Pengalamanku di Jakarta beda lagi, waktu dah menunjukkan pukul lima pagi, lalu dengan sedikit sepoyongan aku men-stater mobil tumopangan kami ini. Kebetulan, dari kami bertiga awaklah yang paling SADAR. Dengan gaya meyakinkan, keluarlah kami dariparkiran lapo ini. Setauku sih jalanku sudah BENAR. Lalu, beberapa saat kemudian, aku berhenti.
“dah sampe…kata awak.
“dimana???”
“dibekasi..tuh lihat tulisanya….”
awak menunjukkan kata Bekasi TIMUR.
ya udah, tidur dimobil aja dulu, nanti siang baru bangun. Dengan semangat awakpun menyandarkan diri di jok mobil ini. Tak kami sadari, hari dah siang, dan seseorang menggedor pintu.
“Om…om…bangun…”
Setelah menucek mata, awak merasa lapar dan segera meboreh ke belakang, dan berujar…lae..Sarapan dulu…
Begitu keluar dari mobil, aku merasa aneh, kok Bekasi RAME kali??….ada pulak REL Keretanya…. Astaganaga!!!!….rupanya masih di jakarta awak, tepatnya di dekat JATINEGARA, Jalan BEkasiTImur….untung nggak kparkirkan mobil itu di atas rel itu….
Baca juga lah cerita dibawah ini…..toho do suhutan on.
saotik saran
tos jo lae…..asa masuk lissoi2 i?
waktu mabuk memang enak tp klu rasa mabuknya habis baru hitir-hitir…..
Saya nggak bisa komen hanya bisa tertawa…..
Ada-ada aja…Eh tahe…hahahhann
Cerita segar..
Makasih..