Jones Gultom
Beberapa hari merasakan atmosfer Samosirr, seperti membuka catatan-catatan sejarah yang mulai rapuh kertasnya. Ada danau, tapi masyarakat kekurangan air. Dikelilingi pegunungan, tetapi udara kosong melompong. Ada lembah-lembah, tapi tak bisa bercocok tanam. Ada petani, tetapi tak ada lahan yang bisa dikerjakan.
Memang, banyak yang salah di “Negeri Air di Atas Air” ini. Apakah alamnya? Manusianya? Atau peradabannya? Entahlah! Aku hanya mampu merenung. Menatap sambil meratap. Terasa, kehidupan melambat, seperti sedang menunggu hari-hari yang berat. Ataukah sesungguhnya kita sudah sepakat membunuh kehidupan di Samosir. Ataukah peristiwa puluhan ribu silam, memang menyuguhkan takdir yang berbeda.
Ah, aku mereguk, kopiku yang mulai dingin. Di luar tak ada gerimis. Beberapa kawan, tergeletak di ruang tamu yang tak pernah rapi. Kemarin, kami sama-sama berpikir keras, mencari gagasan yang paling tepat untuk keberlangsungan hidup Samosir. Ha… syukurlah orang muda selalu tak pernah kehabisan tenaga!
Dari Samosir, aku bayangkan Indonesia. Apa yang sebenarnya terjadi atas negeri ini? Benarkah semua ini adalah pelampiasan atas dendam yang berkepanjangan di masa lalu. Sehingga setiap orang berlomba-lomba menghancurkan negeri ini. Entah itu politisi, pejabat pemerintah, wartawan, aktivis bahkan juga rohaniwan. Seakan-akan sebuah koor yang sumbang, karena sang kondak, kabur dari panggung.
Lalu kepada siapa lagi kita mengadu? Ataukah kita memang tak perlu mengadu? Lantas harus berbuat apa? Ketika orang-orang tak sadar telah menjadi zombie. Berjalan di tengah malam, tanpa arah dan tujuan, dengan tangan terjulur ke depan.
Aku melihat masyarakat sedang dalam kebingungannya sendiri. Hanya mampu berbisik-bisik. Dari satu kedai ke kedai yang lain. Tentang padinya yang kekeringan. Tentang kopinya yang diserang wereng. Tentang sulitnya air bersih. Tentang pengangguran. Tentang pejabat-pejabat yang berulah. Tentang angka-angka fantastis yang dikorupsi bersama-sama. Tentang anak-anak yang menjelma serigala. Tentang muda-mudi yang berusaha melompati zaman, tapi terpeleset.
Oi.. mengapa pesismisnya tulisan ini? Adakah negari ini sudah tak lagi menyediakan ruang-ruang harapan, bagi generasi-generasinya? Aku tak berani menjawab. Saat ini, hanya kopi dan rokok jadi teman setia. Hujan mulai berhenti. Pebukitan mulai tampak. Aku bermaksud keluar. Ada sesuatu yang ingin kucari; pelangi! (Samosir, 27 Februari 2014)
Tulisan Jones Gultom
Warna Batak Dan Teori Freud
Teori Fisika Modern Lebih Dulu Ada Di Batak
Musik Ekologis Dalam Kebudayaan Batak Toba
BATUK SINABUNG, TOBA DAN BLACK HOLE
Sumbangan Kebudayaan Batak Untuk Lingkungan
Menguatkan Wacana Geopark Toba
Hentikan Eksploitasi Danau Toba
Euforia Nasionalisme Tor-Tor Dan Gordang Sambilan
EUFORIA NATAL PADA SEBUAH KAMPUNG
MENGAPA (HARUS) KARO BUKAN BATAK
NDH Korregir
PERHATIKAN
1. Togu Simorangkir : Airminum Alusi
2. Pupuk Lembaga Simanjuntak : Wirausaha Agrobisnis. 3. Pionasi Lingkungan oleh Annette Ny Silalahi – Siallagan + Br Gultom 4. Keramba Haranggaol dll kini pakai Nitrobacter TJ ide babntuan sebaran Jakowi + Modelmaju di Jawa dan Riau pada Petani. 5. Dorongan dari Persepsi Jones Gultom segera dijawab. 6. Maju Triaspolitika + LSM + Pengusaha Pionir 7. NDH 8. Hamburg 8 3 2014
Bangsa batak perlu keluar dari tradisi adat yang sangat mengikat
mari lah sekarang kita pilih pemimpin yang dapat mensejahterakan masyarakat, jangan hanya yang cuma menghamburkan uang untuk hal yang tak berguna, tapi tak ada hasilnya.
Blognya bagus lae, ijin share ulang ya….
Tidak sengaja ketemu dari googling ternyata ada blog bagus disini, mantap (y)
Jones Gultom yang kukenal kah admin dari blog ini.
nice share gan, sangat menginspirasi, memang generasi muda kita perlu diberi ruang untuk berkreasi, berkarya,dan diberi wadah untuk mengembangkan skill yang ia punya, banyak generasi muda kita yg memilih keluar negeri dibanding di negeri sendiri, karena pemerintah tak terlalu peduli dengan pemuda-pemudi kita, yang mereka peduli hanyalah melaksanakan tugas mereka sebagai aparatur negara, tp kebanyakan dari mereka hanyalah “tikus berdasi”, jarang pejabat kita yang benar-benar peduli dengan rakyatnya
artikel yang sarat akan informasi dan inspiratif. mudah-mudahan artikel ini bermanfaat untuk orang banyak.
terima kasih informasinya gan.
Semoga Toba semakin maju