MANGALAHAT HORBO DALAM TRADISI BATAK

Monang Naipospos

Disampaikan pada diskusi yang diselenggarakan WAG FGD BATAKOLOGI, 19 Desember 2021

MANGALAHAT.

Pengertian.

Mangalahat bersumber dari kata dasar “lahat”. Lahat itu artinya giring, mangalahat adalah kata kerja yang artinya, sesuatu kegiatan menggiring kerbau atau lembu ke tiang “lahatan”. Lahatan itu disebut “borotan” atau tambatan.


Borotan.

Borotan dalam pengertian mangalahat horbo adalah tujuan untuk menambatkan kerbau tersebut. Borotan itu adalah lambang “hau sangkamadeha” yang diartikan memiliki cabang membentang yang menjadi radius lingkaran yang terbentuk oleh ujung ujung cabang itu. Batangnya sendiri adalah tegak sampai kepucuk, yang melambangkan “hau sundung dilangit”.

Cabang terpanjang dan terbesar itulah yang membentuk lingkaran terluas dari pohon itu, lingkaran itulah yang disebut “sangkamadeha”. Sementara garis tegak vertical itu dimaknai menuju ke langit atau sundung di langit.

  sangka

Sangka adalah bambu yang dibentuk melingkar biasanya untuk ayam bertelur. Bila dalam ruangan rumah adalah untuk tempat perdupaan dan urapan

Photo; Imri Afriani Youtube Channel

Apa makna borotan itu sebenarnya? Itu adalah titik nol.

Apabila kita membayangkan roda sepeda, as itu adalah titik nol. Jarijari sepeda itu adalah garis lintasan mangalahat dari lingkaran sangkamadeha menuju titik nol yaitu sundung di langit.

Apabila kita menarik garis dari nol menuju lingkaran sangkamadeha, itu memaknai awal lahir hingga berkembang dalam kehidupan dan mempertahankan eksistensi kehidupan. Apabila kita tarik garis dari lingkaran sangkamadeha itu ke titik nol adalah mengartikan hari semakin tua, pencapaian dunia sudah harus diakhiri menuju titik nol yaitu sundung dilangit.

Manusia lahir, berekspresi dalam kehidupan, menuju pencapaian kehidupan duniawi secara maksimal sesuai kemampuannya, dan pada akhirnya akan kembali ke asalnya datang dan sundung tu langit, yaitu alam penciptaannya.

Manusia senantiasa harus mengingat kodrat kehidupannya. Harus memahami, memaknai dan meyakini bahwa ada garis penuntun dia dari kelahiran hingga kembali. Pikiran dan keyakinan itulah yang menuntun dan menggiring (mangalahat) dirinya ke titik nol itu.

Mamelehon diri artinya mempersembahkan diri. Dalam diri seseorang ada tiga yang harus dipersembahkan, yaitu; roha (pengetahuan), ngolu (kehidupan), tondi (keyakinan dan perbuatan). Bila terwujud ketiga ini membentuk diri manusia seutuhnya dan memenuhi syarat menjadi persembahan, itulah yeng menggiring dirinya dari lingkar kehidupan (sangkamadeha itu ke sundung di langit, sumbu titik nol itu).

Borotan dipilih dari kayu bintatar, diatasnya dirangkai daundaunan dan ada bentangan “ina ni desa” atau induk desa.

Namun karena diri manusia secara utuh masih ada di lingkaran kehidupannya, namun keyakinannya itu di konversikan dengan persembahan dari hewan yang sesempurna keyakinannya.


HORBO SANTI

Horbo adalah salah satu yang utama (kadang juga lembu hitam) sebagai pengganti diri manusia itu. Dipilih yang terbaik, sitingko tanduk, siopat pusoran. Kulit dan bulu cerah menghitam dan ekor menjuntai melewati dengkul.

Borotan

Borotan sebagai tambatan kerbau yang dilahat.

Dalam photo ini adalah Upacara Horja Bius di Tomok

29 November 2019

Sumber Photo; genpi.id

Karena horbo itu adalah persembahan dan sebagai pengganti manusia itu, maka dipeliharalah dengan baik sebelum waktunya dipersembahkan. Tidak ada warga yang menolak giliran melakukan perawatan kerbau ini, malahan ada yang memohon untuk mendapat giliran merawat. Kalau kerbau biasa merusak tanaman orang, tentu akan didenda, namun tidak berlaku untuk horbo santi yang dalam pemeliharaan ini. Malah kebalikannya bisa terjadi, dianggap tuah bila horbo santi itu memakan atau merusak tanamannya. Mungkin ini berlebihan, tapi keyakinan itu tak serta merta dapat dibantahkan.


TORTOR LIATLIAT

Setelah horbo santi ditambatkan ke borotan, maka akan ada selanjutnya tortor liatliat. Tentu saja setelah doa persembahan dilakukan.

Mangaliat tidak lepas dari sikap yang melekat yaitu “langka siamun”. Bila kaki kanan duluan melangkah maka putaran pun akan menuju kekiri. Setiap mangaliat dalam tortor batak adalah putaran melingkar menuju kekiri (melawan putaran jam). Prosesi mangaliat itu adalan mengitari borotan yang sudah tertambat horbo santi disana.

bandicam 2021-12-19 12-30-20-366

Ini contoh gerakan mangaliat melawan arah jarum jam

Sumber Photo; https://tanobatak.wordpress.com/

Borotan itu adalah sumbu untuk keduanya, yaitu putaran waktu dan putaran sangkamadeha yang berlawanan arah. Bila matahari terbenam, artinya sundut ari. Bila manusia meninggal artinya sundut ngolu.

Sebenarnya bumilah yang berputar kekiri, sehingga dalam tortor liat ini mengikuti putaran bumi. Diartikan bahwa eksistensi kehidupan itu, manusia tetap pada koordinatnya sehingga mengikuti putaran bumi. Bila berlawanan, artinya dia dengan sengaja melawan arah mengikuti matahari terbenam.


UCAPAN SYUKUR

Horbo Santi adalah persembahan. Karena persembahan itu wujud dari roha, ngolu dan tondi, maka dilakukan bila manusia itu memaknai anugerah yang didapat dan berucap syukur. Hati memaknai, anugerah terwujud dari materi (harta benda dan keturunan), ketulusan tumbuh dari keyakinan, sehingga secara sepakat suatu entitas satu sikap dan keyakinan bersama melakukan upacara “pameleon” dengan wujud horbo santi.

Masyarakat batak (dulu) adalah hidup dari pertanian dan peternakan. Penentuan waktu adalah usai masa panen. Setiap warga melakukan panen perdana yang disebut “mamonamona” artina memulai yang berdasar kata “mambonabona”. Warga pergi kesawah memetik bulir padi bernas dengan memetik dengan tangan (manggotil). Petikan itu dibagi menjadi dua ikatan. Satu ikat kelak menjadi bekal benih tahun depan, dan satu ikat lagi ditumbuk menjadi itak gurgur dan dipersembahkan kepada yang memberi anugerah itu (Mulajadi Nabolon).

Orang batak (masa lalu, dan sebagian yang masih ingat) melakukan persembahan syukur lebih dahulu sebelum menikmati. Masa panen biasanya pada bulan Sipahatolu perhitungan kalender batak. Sipaha opat biasanya seluruh warga sudah selesai panen dan melalukan matumona. Direncanakanlah upacara bersama pengucapan syukur itu dalam wilayah Bius yang biasanya bertepatan di bulan sipahalima. Titik ini juga sering disebut dalam waktu “asean taon”. Artinya masa pergantian tahun kerja, karena selanjutnya akan dilakukan awal tahun kerja baru. Di sela waktu itulah sering terjadi upacara adat perkawinan. Ini salah satu momen kegiatan yang ada dalam kalender musim pada peradaban batak.


RANGKUMAN

Dari rangkaian penjelasan singkat ini maka dapatlah disimpulkan bahwa leluhur kita sudah melakukan tafsiran kehidupan itu dari asal dan kembali ke asal. Bahwa kehidupan itu harus dimanfaatkan secara maksimal dan selalu ingat ke asal dan ingat selalu bersyukur.

Mempersembahkan segala sesuatu dalam diri manusia itu secara utuh (menuju sempurna) diaktualisasikan dengan memilih persembahan kerbau yang terbaik (menuju sempurna) sebagai manifestasi diri yang dipersembahkan. Karena manusia sudah tergantikan dengan horbo santi, itulah makna mempersembahkan kehidupan dari apa yang didapat dan disyukuri, dan selalu ingat, akan kembali ke asal, sundung di langit.

Tautan ; SANGKAMADEHA

Satu tanggapan untuk “MANGALAHAT HORBO DALAM TRADISI BATAK

  1. Mauliate amang Monang Naipospos. Saya jadi jelas pemahamannya, walau pernah kami lakukan tahun 2015 saat oppung saya Op.Jujur Tambunan meninggal(monding) umur 91thn di Sigotom.
    Borotan di tancapkan di halaman dengan hiasan Bulung rata dohot tobu.
    Horas.

Tinggalkan komentar