ADAKAH ADAT SITOMBOL?

Monang Naipospos

Sitombol, Sibotang, Sikobol, Simokmok, Sigulopong, adalah kata yang mendekati pengertiannya, “kekar”. “Sitombol Bitis” Adalah orang yang tinjunya keras dan kuat.
Pernahkah anda mendengar pelaksanaan adat perkawinan disebut SITOMBOL?

Pasti sama yang kita dengar bahwa Sitombol adalah pelaksanaan pernikahan di halaman parboru? Betul kan?

Nah, inilah yang membangongkan, siapa memulai istilah ini dan sejak kapan? Kayaknya sudah lama ya, karena sudah mengakar dan berbuah dan banyak yang sudah memakan pemahaman ini dan ada yang menabur kembali.

Kapan istilah adat pernikahan “Sitombol” itu muncul dala perbincangan masyarakat adat Toba? Tahun 90 an belum ada saya terdengar.

Dalam peradaban manusia Batak, holong adalah yang mendasari pernikahan itu untuk disetujui. (Memang, dulunya ada sebagian kasus pemaksaan hingga menjadi dongeng). Kemudian ada tambahan tuntutan lain sebagai pelengkap, dalam pemikiran parboru antara lain; Adakah ada sumber hidupnya? Taukah mengayuhkan sampan keluarganya? Baguskah perangainya/adatnya? Rukunkah orangtuanya? Baguskah relasi sosialnya? Makanya ada istilah menyebut; “Pangaririt baoa pangariritan do natuatua”

Tidak salah parboru mangaririt sampai seluas itu demi kenyamanan putrinya dan nama baik keluarganya.

Kalau semuanya baik dan hanya satu yang kurang yaitu harta tidak ada, apakah cinta remaja itu harus diputus? Bila parboru kaya tapi paranak miskin, apakah holong harus diputus?

Bila harapan parboru adalah holong dan karakter calon helanya yang baik dan rajin bekerja, ada harapan kehidupan yang baik ke depan dan dapat ditopang parboru. Direnungkan, disetujui dan dipikul.

Pernikahan pun direncanakan jadi. Karena parboru memiliki kerabat san sahabat orang orang terpandang di masyarakat, tak mungkin dia melakukan pernikahan anaknya sesuai kemampuan paranak saja. Maka dia bersedia “manuruni”, menanggung semua biaya adat pernikahan itu.

Ketika ada yang bertanya berapa yang dia terima “Somba ni uhum” untuk acara adat? Parboru dengan santun dan kerendahan hari mengatakan “Tombol do hujalo”. Kadang kata tombol dan rambu pinudun sering muncul dalam penyebutan agar simpel, tidak ribet, padahal itu menutupi kekurang mampuan.

Orang bijak pasti akan tau bahwa itu “bermakna pembalikan”. Sebenarnya dia hanya menerima sekapur sirih dan berlapis sitio soara yang tidak ada kemampuannya menggelar acara. Tombol dalam arti kekar, sebenarnya adalah kurus kerempeng. Bandingkan dengan karakter manusia pongah saat ini (bila masih ada), akan menjawan culas; “Ai so adong, amang… rahar do paranak i songon hau narupahon. Au nama manuruni apala luhut, dang oloan maila tu angka tondong”.

Parboru yang kaya dan arif bijaksana tak mungkin mempermalukan calon besannya yang miskin. Biar bagaimana pun kelak mereka akan menjadi besan kerabat dekat dalam keluarga. Inilah upaya membuat semuanya baik dan bagus terlihat. Selama parboru yang kaya menjaga martabat menantu dan besannya, siapa pun tak berani lagi nyinyir dan mencemoh.

Nah, ……

Bila acara pernikahan anak anda disepakati di halaman parboru, dan semua biaya dan somba serta panjaean anda siapkan dan setujui dalam pembicaraan adat (manggoli sinamot), dan anda pada kenyataannya adalah orang kaya berpunya, ada mengatakan itu adat sitombol, pantas anda marah.

Karena adat pernikahan anak anda sejatinya dalam kebudayaan kita disebu “Alap Jual” dan bergengsi. Parboru dalam kondisi ini adalah “Naniambangan”. Saat anda datang ke rumah parboru bawa makanan diawali makanan dan makan bersama, itulah “Mangan Sibuhabuhai”

Tautan : Menjamin Hak Perempuan batak Setelah Menikah

Satu tanggapan untuk “ADAKAH ADAT SITOMBOL?

Tinggalkan komentar