Monang Naipospos
Ulaon Sadari itu yang lajim dilakukan orang Batak Toba saat ini. Itu katanya pemenuhan adat. Bila tidak dilakukan saat itu (seolaholah) tak ada lagi waktu kedepan ketemu karena akan terancam bencana atau hambatan lain.
TINGKIR TANGGA.
Yang dilakukan dalam ulaon sadari itu pun disebut TINGKIR TANGGA. Aneh menurutmu? Yang nggak ngerti dan yang memahami ini kebenaran sejak lama, ya dianggap kebenaran bakulah jadinya sampai sekarang.
Lajimnya jaman dulu dilakukan tingkir tangga adalah langkah intelijen untuk menemukenali calon besan dan menantunya. Ada yang kasar dan ada yang halus.
Yang kasar;
Bila seorang pria melarikan anak perempuan yang disukainya, maka parboru menyuruh para pemuda mengejar. Setelah tiba diharbangan kampung paranak, para pemuda pun berteriak teriak hingga masuk halaman, menuntut agar boru yang dilarikan dikembalikan.
Namun mata mereka jeli juga. Diharbangan sudah ditanyai identitas paranak dan perilaku harian mereka dan anaknya. Apabila baikbaik saja, tak ada lagi niat mereka untuk membawa pulang, namun mereka tetap lantang berkata tidak membiarkan saudara perempuan mereka celaka dan menderita, terlebih jangan sampai terhina.
Parnak dan kerabat pun memohon maaf dan mengajak mereka untuk naik kerumah. Satu pantangan bagi utusan parboru adalah jangan sampai naik ke rumah parboru. Setelah mereka pulang, pihak paranak menyusuk kemudian untuk menyampaikan berita bahwa si perempuan diperlakukan dengan baik sesuai adat, dan ditunjukkan sebagian dari upa sira dan daging matang. lajim disebut “manaruhon ihurihur”
Namun, ada juga kawinlari terjadi atas kesepakatan dengan parboru. Ini tak perlu keras tindakan para intelijen, ada yang pulang dari tengah jalan dan ada yang tidak pergi mencari. Namun masih ada kewajiban pemberitahuan dengan “Manaruhon ihurihur” itu.
Yang halus;
Bila ada seorang pria hendak menikahi perempuan, maka disuruhlah utusan untuk menyampaikan niat itu kepada pihak parboru. Biasanya dari pihak boru/hela dari paranak. Banyak info yang didengar dan diketahui dari utusan ini, namun kejelasannya harus disaksikan langsung. Maka diutuslah dikemudian hari berkunjung ke kampung paranak secara rahasia, untuk mengetahui kejelasan riwayat keluarga itu. Dari harbangan pun dilihat bentuk rumah paranak. Ada beberapa narasumber ditemui. Utusan itu pun dapat menyimpulkan apa yang akan disampaikan kepada parboru.
Itulah kejelian masa lalu dimana alat komunikasi belum ada. Untuk mengetahui sesuatu yang penting harus ditemukenali secara pandangan mata dan info didengar telinga.
Kesemuanya itu dikategorikan “maningkir tangga”. Tingkir tangga adalah untuk mengetahui penghuni rumah dari halaman dan harbangan, tidak sampai naik kerumah.
Uniknya, para intel tingkir tangga yang halus ini berpurapura mencari kerbau untuk dibeli, mencari bibit padi dan macammacam, sehingga orang sekampung tidak tau tujuan sebenarnya.
TINGKIR TATARING.
Apabila pasangan dinikahkan dengan adat alap jual, maka pihak (paranak) yang datang akan pulang hari itu. Tidak boleh menginap di rumah dimana acara unjuk dilakukan. Bila pun dimasa lalu tempat berjauhan dan harus bermalam maka dipilihlah rumah kerabat di seberang kampung. Sama saja dengan taruhon jual, parboru langsung pulang juga. Berlaku juga saat perkawinan taruhon jual. parboru langsung pulang dan tidak ada acara mampir ke rumah paranak.
Pasangan pengantin kemudian akan dimandirikan. Walau perkawinan ajap jual maupun taruhon jual, semuanya akan melakukan acara lanjutan di lain hari yaitu “pajaehon” atau memandirikan keluarga mereka.
Apabila paranak akan memandirikan pasangan “manjae” maka dikabarilah parboru. Mereka pun datang ke tempat hela/borunya. Bila di perjalanan ada yang bertanya tentang perjalanan mereka mau kemana dan mau apa, maka dijawab; “Maningkir tataring ni borunta tu lumban sisoding, manjae ma nasida sadari on”, kirakira begitu jawabnya.
Ingat… …. Bila tingkir tangga tidak masuk rumah, kalau tingkir tataring jelas masuk rumah. Bila tingkir tangga, ditawari makan pun tak diterima, bila tingkir tataring, parboru membawa dengke dalam jual dan paranak pun menyiapkan makanan. Ada acara makan dirumah paranak, dan ini merupakan rentetan adat pernikahan.
Baca juga :
MENJAMIN HAK PEREMPUAN BATAK SETELAH MENIKAH