Monang Naipospos
Di Sumatera bagian timur, parsuhian sangat penting dan dituntut dengan serius. Toba pun hampir ikutikutan menetapkan todoan parsuhian. Kita jangan hanya memberi, kapan kita menerima? Itu alasana sebagian Toba.
Lebih pentingkah menuntut todoan untuk parsuhian daripada todoan ni tulang ni calon parumaen?
Ini perdebatanku saat membicarakan manggoli sinamot di Toba dan Pematang Siantar.
-
Di Toba Kecamatan Sigumpar. Setelah semua pembicaraan selesai disepakati, lalu ada salah seorang pembicara pihak parboru menyampaikan permintaannya. “Parsuhian” katanya. Lalu saya tanya apa itu karena kita di Toba belum ada istilah itu?”. Lalu mereka menjawab. “Itu jalan yang kalian lalui tadi, kami gotong royong mengerjakannya. Untuk meningkatkan kualitas jalan itu maka kami menyepakati “parsuhian” dibayarkan paranak saat ada boru kami menikah”, katanya. Lalu saya menjawab dengan tegas; “Anda perbaikilaj jalan ke kampung kalian ini, biar hanya orang mentereng membawa mobil mewah mangaririt boru kesini. Pantaskan kami ikut memperbaiki jalan agar bisa mangaririt boru dari kampung ini?”. Mereka pun mengalah dan tidak jadi kami bayarkan.
-
Di Pematang Siantar. Setelah todoan untuk tulang kami sepakati lalu dilanjutkan dengan permintaan todoan untuk “Parsuhian”. Ada lima kelompok persatuan yang diikuti parboru yang harus kami berikan todoan, dan mereka menentukan nilainya dan tak bisa kurang. Lalu saya pertanyakan hal ini; “Tadi todoan untuk tulang ni calon parumaen bisa kita berembuk tawar menawar, kenapa ini terlalu banyak dan tak bisa diturunkan. Kami tidak terima karena kami tidak ikut menentukan aturan dalam kelompok itu, dan kami bukan bagian dari kelompok itu”, saya menegaskan. Mereka menjawab; “Nanti dari kelompok ini masing masing akan memberikan ulos kepada pengantin”, jelas mereka. Kami tidak butuh ulos dari kelompok itu, yang kami harap adalah dari parboru dan tulang. Lebih baik kami naikkan todoan ni tulang daripada kami membayar parsuhian itu”, tegasku. Pertemuan mulai menghangat dan saling serobot. Tanpa saya sadari rupanya parboru berbisik dengan hasuhuton paranak yang kami dampingi. Ahirnya suhut paranak mengatakan ada kesepakatan mereka dengan parboru dan tak perlu diutarakan dalam pembicaraan ini. Pertemuan pun diakhiri.
-
Kecamatan Porsea. Ini langsung saya suhut paranak. Saat todoan ni tulang dibahas, raja parhata menyampaikan kepada saya agar saya jawab sendiri nilainya. “Saya akan memberikan todoan ni tulang (Sekitaran seperdelapan dari somba ni uhum panogu tu parboru) asal pihak parboru tidak membebankan parsuhian kepada saya”. Awalnya agak bersikeras namun kemudian disepakati.
Yang mengherankan saya selama ini adalah, todoan ni tulang tak pernah dihargai, dan hanya sekedar dialaman diberikan sewajarnya. Kenapa parsuhian ini lebih penting daripada tulang ni namuli?
Sejatinya, todoan ni tulang itu sanghae horbo, minimal sambola tambirik. Karena horbolah yang diberikan kepada parboru jaman dulu sebagai adat “somba ni uhum dan pagopas panogu” setelah sinamot ni boru selesai di-“goli”.
Saya akan tetap menolak parsuhian untuk kongsi kongsi, punguan marga, parsahutaon, koperasi, grup parende, panghail, paranduhur, sapartuahan, dlsb. Kalau ada banyak kumpulan diikuti parboru maka seharusnya itu beban untuknya, jangan “dijergotkan” paranak yang tak tau AD/ART memikul beban. Itu kan jebakan betmen bro. Tapi kalau “todoan ni tulang” minimal sambola tambirik saya tidak akan menghidari.