Monang Naipospos
Perdebatan ini sudah lama saya dengan. Di Gedung Serbaguna Laguboti 30 tahun yang lalu, seorang pengetua adat diminta berdoa untuk memulai acara. Belau pun berseru “Martamiang ma hita” dengan cara Kristen Protestan. Doa pun berjalan tanpa hambatan. Usai doa dan acara hendak dimulai, ada seorang pembicara yang beletulan Kepala Sekolah berkata; agar jangan lagi menyebut tamiang karena itu unsur hasipelebeguon, agar tetap berpedoman pada pengucapan tangiang saja.
Saya lihat tokoh tua itu merah wajahnya dan tidak ada ruang debat tersedia. Saya menghormati tokoh itu, namun sayangnya Kepala Sekolah itu teman saya.
Akhir akhir ini saya masih mendengar teman di Fesbuk menyindir yang menyebut “Partamiangan” yang seharusnya “Partangiangan”. Banyak yang menukungnya bakan ada yang mencemoh tamiang itu nama tempat di Aceh, ada yang mengebut itu nama kue. Mereka tidak tau bahwa Sitamiang ada di Samosir.
Ada pertanyaan dalam benak saya; Kata Tamiang dan Tangiang itu produk asli siapa ya? Kalau ada yang mengaku itu produk leluhur, siapa yang berhak meminjam salah satu dan mengklaim yang satunya “hasipelebeguon?”
Versi doa menurut leluhur
1. Uari.
Pernahkah anda mendengar sepenggal syair lagu O Tao Toba ciptaan Nahum Situmorang yang isinya seperti ini; “Dison au maruari rap dohot donganhi……”
Uari adalah doa dalam hati. Walau pun dekat dengan temannya (Syair lagu Nahum Situmorang) manum mereka mengucapkan doa sesuai pengharapan mereka masingmasing.
2. Tamiang
Tami itu sendiri mermakna “mohon” atau pinta.
Iang, adalah berisi, banyak, cukup. Hyang bermakna suci. (Tidak diketahui apakah leluhur mengadopsi Hyang menjadi Iang?)
Tamiang adalah ucapan doa yang bermakna, berisi, suci, tulus, dan mungkin ada melibatkan persembahan.
Tamitami adalah sebuah benda perwujudan sembah, dari mulai sekapur sirih dan sesajen besar. Tamitami itu seiring dengan doadoa terucap bahwa permintaan itu berlapis sesembahan. (Ini mungkin alasan Agama lain menolak)
Partamiang adalah orang yang memimpin doa itu sendiri.
3. Tangiang
Tangi adalah dengar. Mengikutkan diri dalam sebuah doa adalah dengan mendengar apa isi doadoa itu. Melibatkan diri dalam seruan doadoa yang bermakna, berisi, suci dan tulus.
Dalam doadoa leluhur tak ada kesepakatan “Berdoa bersama sesuai keyakinan masing-masing” Karena yang hadir wajib mengikuti tamiang dengan mendengar sepenuh hati yaitu tangiang.
4. Tonggotonggo
Tonggo adalah mengundang dengan hormat, seru dengan hormat. Raja Tinonggo adalah para pemuka adat yang paham hukum adat dan menjaga norma dan etika hukum ada dengan baik. (Beakan dengan Raja Tinonggo saat ini yang hanya datang demi sesuap nasi dan tempat duduk terhormat)
Tonggo tonggo adalah doa doa yang sama dengan Tamiang. Bedanya Tamiang agak perlahan pengucapannya sampai yang lantang. Tonggotonggo pada umumnya lantang pengucapannya dengan berbagai macam seruan puja puji penciptaan semesta alam.
Nah, pada anda semua, janganlah pula menggunakan kata “tangiang” dalam kegiatan keagamaan anda, karena kata tangiang sudah ada sejak lelulur belum mengenal itu. Kalau toh anda mencela mereka sipelebegu dan menyisakan satu untuk mereka yaitu tamiang, harus anda pastikan bahwa kata tangiang juga produk mereka.