HULAHULA (TULANG) MANOGU PARUMAEN TU JABU, APA ALASANNYA?

Monang Naipospos

Ini pengalaman sendiri. Saat bere saya mangoli. Di penghujung acara, raja parhata berkata; “Mangarade ma hamu tulangnami manogu parumaennami tu jabu”, begitulah siarannya.

Saya kaget, di Laguboti tak pernah terjadi hal seperti itu. Tiba saatnya saya bertanya kepada raja parhata, lalu dijawab; “Songon i do namasa di hami rajanami”, katanya dengan hormat. Mau saya tolak, saya melihat wajah ito saya yang pasrah apa kata raja parhata. Dengan maksud agar ito saya tidak kecewa lalu saya malakukan walau terasa janggal dan tidak pernah menerima dalam hati.

Di Toba, saat mangudurhon parumaen tu alaman adalah pihak parboru dan kerabat dekatnya. Usai acara mereka juga mengiringkan kerumah untuk dondon tua. Dondon tua, artinya agar pasupasu dari Tuhan yang dimohonkan para raja dan kerabat, mengikat bagi penghuni rumah.

Anda lihatlah di Toba Laguboti saat pernikahan dengan gondang batak. Sang datu (pemimpin upacara) mangiringkan hasuhuton bersama parumaennya turun dari rumah dan langsung mangaliat di alaman. Dan begitu juga setelah selesai pangampuon dan panggohi. Datu kemudian mengiringkan hasuhuton dan parumaennya bersama kerabat dongantubu marudur tu jabu mardondon tua.

Namun saya terus berpikir dari mana mulanya adat sumetera timur melakukan itu?

Hanya ada satu kejadian bila harus tulang manogu parumaen.

Bila parumaen pulang ke rumah orangtuanya karena “mardandi” merajuk karena pengalamannya di rumah mertuanya tidak nyaman. Ini sangat memalukan bagi kedua belah pihak. Maka parparumaen dan anaknya pergi menjemput dan membujuk, namun parboru dan sang parumaen tak setuju. Berulang cara dilakukan namun tidak setuju.

Tulang yang mengetahui kejadian itu pun bangkit melakukan solusi. Bersama paranak dan berenya berangkat ke rumah parboru.

Karena padan saat menerima dan memberi tintin marangkup, maka ada kesetaraan diantara mereka. Dia mengatakan bahwa dia sudah marah kepada berenya, juga kepada ito dan laenya atas perlakuannya terhadap boru mereka. Maka dengan berbagai cara, tulang menawarkan solusi dan agar dihargai hadirnya dan wajahnya. Bukankan dulu dia barkata kalau ada kemelut antara mereka supaya mengadu padanya?

Setelah terlihat ada kelembutan hati dan ketundukan maka dia bangkit menarik tangan “Si boru namardandi, anggiat mulak tondi tu ruma maup begu tu balian”. Parboru pun tak berkutik lagi.

Apakah ini dasarnya?, atau mengadaada saja aja? Siapa pun yang sudah melakukan dan mengerti makanya, mohon penjelasan biar kita sama memahami dan saling menghargai.

Tinggalkan komentar