MANGGOMAK TUMPAK

Monang Naipospos

Ada ungkapan bijak leluhur masa lalu mengatakan SADAMPANG INDAHAN NI PANINGGALA NIHABOSURHON, SANJOMPUT SIPIR NI TONDI PINARTUAHON.

Dalam tradisi leluhur, saat parohon parumaen (mantu), tumpak pun terkumpul dari boru, aleale dan pariban. Ada tradisi “maniup tua” oleh parumaen, agar rejekinya kedepan selalu melimpah. Lalu dengan bimbingan situatua, parumaen meletakkan kedua tangannya diatas kumpulan tumpak itu, lalu tiga (tolu) jarinya “manjomput” tumpak itu. Tolu selalu dimaknai dengan tubu ngolu.

Seperti halnya sipir ni tondi, sedikit namun bermakna sritual, seperti kerasnya beras begitulah jiwanya (tondi) kokoh dan kuat.

Tumpak itu juga, sanjomput bermakna luas. Parumaen mamuhai, memulai membuka ruang kehidupan dan mendapatkan hasil melimpah (godang) di kemudian hari.

Ada ungkapan leluhur mengingatkan membuka kesadaran kita mengatakan; “Ndang ingkat sibahen na dijolo, ndang ahut sibahen nagodang”

Kewaspadaan, kecerdasan, kebijaksanaan senantiasa akan menuntun langkah kepada kebijaksanaan hidup. “Hamauliatehon nadapotmu, pajimpo bahulbahulmu, parade bonim”. Itulah siklus bekerja, menjadi pesan kepada pengantin baru.

Mangahut dan manggomak adalah perilaku yang kurang baik dari keluhuran budi. Manjomput dan mangahit adalah budi pekerti luhur, mengambil yang sedikit dan mengumpukan yang banyak.

Kalian para parhata dan kerabat pengantin. Jangan cemari watak baik pengantin perempuan hanya karena lucu-lucuanmu. “Gomak ma gomak, tambai tambai…sambil tertawa. Si perempuan pun bertindak karena seruan itu, hingga mertuanya kesal dan meninggalkan acara. Itu pernah saya lihat di medsos.

Marsapata tu hamu ma molo so denggan muse hubungan ni mertua dohot parumaenna.

Tinggalkan komentar