Monang Naipospos
Ada permintaan pembaca tentang “patortor parumaen” yang mengganjal hatinya. Ada penolakan, ada yang menerima. banyak alasan penolakan karena patortor parumaen dianggap sebagai pengumpulan dana.
Saya akan menjawab, tapi standarnya adalah Gondang Batak Toba yang memenuhi syarat hukum adat.
Apa syaratnya memukul gendang?
1. Tidak dalam keadakan berduka kematian dalam setahun
2. Mampu menyediakan parjuhut namanggagat di duhut atau paling tidak namanggagat di padang.
Bila sudah “dihalang gordang bolon, disangkothon maungmaung ni namora”, tentu saja parumaen yang datang juga dipatortor.
Ingat, gondang itu ada karena dia ada (parumaen).
Terakhir saya lihat semasa saya masih remaja, parumaen diantar dengan iringan gondang, dan disambut di kampung dengan gondang bertalutalu. Pokoknya “seru”.
Lalu, bagaimana selanjutnya?.
Setelah parumaen masuk kerumah, dijomput sipir ni tondi, lalu dihobahobai.
Datu memangku pinggan na hot lalu mengiringkan suhut, pengantin dan dongan tubu menari dari rumah turun ke halaman dan langsung mangaliat. Kemudian datu berorasi tentang maksud dan tujuan gondang itu. Setelah ada tortor khusus hasuhuton, lalu pengantin pun dihadirkan ke tengah untuk manortor. Itulah yang selalu dibicarakan “patortor parumaen”.
Tidak ada masalah dengan itu dan itulah puncak acara manortor itu.
Di masa lalu, jauh sebelum saya memahami adat istiadat, ada banyak argumen dan pendapat yang muncul saat melihat seperti apa tortor parumaen.
Menurut keterangan orang tua tua, bahwa disana bisa saja ada hadir banyak ahli melihat tortor parumaen itu.
Ada Sibaso Bolon ahli kebidanan, dapat melihat dengan prediksi menghitung parbue yang ada pada tubuh si boru. Kalau disebut ada 5 boraspatina, merarti dia kelak melahirkan 5 anak.
Ada Tiang Aras ahli geomansi dan perbintangan, mampu melihat dari tenung hari, nama, tanggal dan gerak gerik siboru, anak pertama yang dilahirkan adalah lakilaki.
Ada Datu Panusur ahli karakter, memiliki keahlian membaca gerakan tortor itu. Sanggulnya (dari ranting beringin) dari lambaian sanggul baringinnya dibaca, apakah kehadirannya membawa bahagia bagi keluarga. Bila gerakan daun melambai tegak maka dianggap dia itu tegak lurus, jujur dan adil dan disenangi seluruh keluarga. Bila beringinnya melambai condong kedepan, berarti dia kelak akan menentang apa yang dikehendaki kadang bicara melewati batas. Bila beringinnya melamba condong rebah ke belakang dia kelak sering menyangkal dan menolak melakukan yang seharusnya dia lakukan.
Walau pun tak ahli seperti yang saya sebutkan, pada umumnya leluhur masa lalu banyak memahami gerakan tortor menunjukkan karakter seseorang. Dan saya menduga, saat ini pun masih ada orangnya.
Bagaimana tortor parumaen itu terlihat indah dan sesuai pakem kebaikan dan keluhuran jiwa?, maka tidak heran jauh jauh hari sebelum pernikahan, parboru akan melatih borunya tari menari. Dengan bimbingan dan pemenuhan kriteria tarian itu, si boru akan terpengaruh oleh beban pakem itu. Itu akan merasuk dalam jiwanya.
Donda adalah syarat dasar tortor si boru. Berpantang tertawa nampak gigi seperti manortor saat ini “ngilngil”. Tidak boleh menggoyangkan pinggul seperti tarian “sijambe jalang”. Tangan tidak membentang jauh seperti tarian “pangardang”. Tidak boleh gerakan terhempas hempas seperti tarian pendekar yang disebut “jorhujorhu songon tortor ni nabegu”.
Tegak lurus “urdotnya”. Walau terlihat kaku tapi itulah prinsip keteguhan yang harus di jaga agar kelak memenuhi soripada mardingding sipripada marparapara.
Kalau yang dipertanyakan patortor parumaen masa kini, yang tariannya diiringi musik barat atau musik banci dengan taganing dan sulim, tentu saja saya tidak bisa berkomentar. Saya tidak tertarik dengan gondanggondangan masa kini dan tak pernah saya bahas, karena saya tidak tau pakemnya dimana dan siapa yang menentukan itu gondang batak yang layak ada manortor.
Kalau masalah waktu berteletele yang dihindari, dan juga taburan uang olopolop, saya juga tidak tau cara penyelesaiannya. Itu kan tergantung hasuhuton. Kan ada ungkapan berkata; “Raja parajaraja, guru di suhut do ulaonna” Kenapa kita seperti terbebani keputusan orang pada acara kita sendiri?
Melihat fakta saat ini sepertinya orientasi patortor parumaen adalah mengharapkan saweran. Dan sudah terlihat seperti arisan sawer menyawer. Paranak pun berdiri disamping pengantin hilanglah makna patortor parumaen. Dan ikut dapat saweran, termasuk dari hulahula. Makna sudah tergerus.
Pada pernikahan anak saya, ada gondang, ada patortor parumaen, ada olopolop.
Pembawa acara sudah saya pesankan agar memberitahukan hulahula tidak memberikan olopolop berupa uang. Mereka cukup membentangkan ulosnya sebagai simbol mangulosi hasuhuton.
Saya sudah melihat secara umum, baha hulahula ikut ikutan mangolopi pengantin dan hasuhuton dengan uang. Saya takut itu terjadi.
Bila parboru bersikeras karena kasihsayangnya mangolopi boru dan helanya, maka cukuplah kepada mereka berdua. Dan itu berjalan sesuai arahan.