Monang Naipospos
BAGIAN 1.
Oke, mari kita menenangkan diri seraya menelusuri dunia perbeguan yang anda pahami masa kini dan yang dipahami leluhur di masa lalu.
Dalam rangka menelisik pengetahuan tentang begu ini, lepaskan dulu kepentingan anda yang sudah seperti cadas memahami sebelumnya bahwa begu itu adalah, roh jahat, setan, hantu dan iblis, dan leluhur kita masa lalu menyembahnya?. Lepaskan dulu kekejaman finah itu.
Jauh sebelum pengetahuan dan kepercayaan asing masuk ke tanah Batak, leluhur sudah memahami tentang begu itu sesuatu yang menakutkan.
Jangan heran, bila di kawasan Toba dimasa lalu sebutan begu, nabegu dan habeguon adalah hal biasa dan jauh dari pemahama setan, namun pemahaman yang sama adalah menyeramkan, menakutkan, sangar.
Setiap Raja parbaringin di Toba pada umumnya memiliki perangkat harajaon, salah satunya adalah “nabegu” atau Raja Nabegu. Karena kerennya peran itu ada yang melekat nama leluhur bernama “Puraja Nabegu”
Seperti apa nabegu atau “nabegu” itu bertindak?
Kalau sang Raja Parbaringin melakukan perjalanan, selalu banyak rakyat yang menghayokan di sisi jalan. Namun bagi Raja Nabegu, perjalanan tuannya tidak boleh terkendala dan terhambat karena semangat para rakyatnya.
Dengan wajah yang sangar, nabegu berjalan didepan serta-merta melotot kepada masyarakat seraya berkata; “Unang riboi pardalanan ni raja i”, jangan hambat raja melintas.. Maka orang orang pun menyingkir. Karena diketahui yang bisa memegang peran raja nabegu adalah sosok mandaraguna.
Para Raja Nabegu pengawal Raja Parbaringin itu sebenarnya tak harus ditakuti karena tidak akan menganiaya rakyat. Dia hanya menunjukkan kekuatan dan kesaktiannya kepada pelaku kejahatan.
Onan Parbiusan juga diamankan Raja Nabegu. Ada perangkatnya selalu disana, ada yang menyebut Partigabolit. Partigabolit, sebagai simbol ketertiban onan.
Onan parsingguran tigabolit parsaoran. Osos hau tanggurung sitongka masipaurahan.
Onan itu menjadi pusat pertemuan, silaturahmi dan informasi, selain menjadi pusat dagang. Onan kadang padat orang melintas, tak melihat orang dengan jelas. Bila ada bersenggolan dua orang yang bermusuhan, di onan berpantang bertengkar.
Partigabolit adalah pemeran “nabegu” di onan untuk mencegah pertengkaran, pencurian dan penipuan. Bila nabegu melakukan pengawasan keliling, siapa pun tidak berani melakukan kecurangan.
BAGIAN 2
Seperti apa rasa takut itu? Bayangan dalam pikiran tentang sesuatu hal yang membuat dirinya ketakutan disebut juga begu. Kadang ada kalanya sesorang membuat cerita menyeramkan sehingga yang mendengarkan ketakutan. Cara penyampaian itu disebut “marbegu”. Bila yang mendengar tidak merasa takut tentang apa yang diceritakan itu, maka dia menentang, “begu aha patudu tu au”, begitu responnya.
Namun, tibalah waktunya di masa lalu ada penyakit menular dan penyakit yang mematikan. Penyakit manular ini disebut “begu nurnur” dan penyakit mematikan itu disebut “begu antuk”. Ada juga “begu laos”, yang mengganggu saat ada yang melahirkan dan kehabisan darah.
Virus menular seperti pandemi yang terjadi di masa lalu itu disebut begu. Namun pada saat datangnya Corona, pada masa orang Batak memahami begu adalah roh jahat, maka virus itu walau menakutkan seluruh dunia tidak disebut lagi begu.
Rasa takut adalah bayangan pikiran tak tidak bisa dipecahkan secara rasio. Selalu ada pemikiran tradisional mengatakan, ada kekuatan lain yang tak terduga. Itulah yang membuat rasa takut itu. Dan semua hal menakutkan itu disebut juga begu.
Namun apabila ditelusuri, apakah rasa takut seseorang itu bisa dimaknai seperti sosok penjahat, pembunuh, menyakitkan?
Muncullah kemudian (masa kini) pemahaman baru dan sangat diyakini banyak orang dengan bukti bukti entah seperti apa. Cerita ini menyebar membuatnya menjadi fakta yang menakutkan yaitu “begu ganjang”, karena ini berawal cerita dari daerah Simalungun, lalu saya melakukan penelusuran secara kebetulan. Saya punya teman Guru STM Negeri di Kampungbaru Medan bermarga Girsang kebetulan ketemu pada satu acara di Kaliurang, Jogja 1985. Beliau pernah jadi Ketua Habonaron Do Bona.
Girsang menjelaskan, dulu ada seorang pemuda bernama Ganjang di Simalungun. Disebut Ganjang karena memang postur tubuhnya tinggi. Dia meninggal, dan semua orang membayangkan rohnya hadir. Dalam bayangan itu apa yang menjadi menghitam tinggi itulah penampilan sisi lain si Ganjang. Keterangan pak Girsang membuat saya berpikir, kesadaran magis krbanyakan orang akan memunculkan ketakutan.
Dan banyak yang mengkambing hitamkan si Ganjang ini dengan sebutan Begu Ganjang, hingga menganiaya bahkan membunuh orang yang dituding memeliharanya secara bersama sama. Ingat peristiwa Muara.
Dalam situasi rasa takut pada misteri menguasai diri, bila seorang orangtua meninggal, biarpun itu bapak dan ibu, malam pertama setelah penguburan, bayangan dan pemikiran pun berkelana. Takut itu pun membayangi pikiran dan menanti bukti. Ada keyakinan yang muncul bahwa akan datang ke rumah malamnya setelah pemakaman.
Saat ada tikus menyenggol kaleng, atau kucing menjatuhkan piring, maka spontan penghuni rumah diam dan berkata; dia datang. Rasa takut pun datang, dihubungkan dengan ungkapan mengatakan; “martondi namangolu, marbegu naung mate”
Namun ungkapan ini semakin kesana semakin kesini, diputar dan dipelintir, seolah semasih hidup manusia itu ada rohnya dan setelah mati menjadi begu. Waww….. belajar bahasa darimana mereka ya. “Marbegu” tidak sama dengan “menjadi begu”.
Cerita bisa marbegu, bukan menjadi begu. Setelah meninggal ada efek menakutkan, bukan menjadi hantu. Mungkin mirip dengan fakta masa lalu bahwa leluhur “martungko” di bawah pohon rindang gerbang kampung, kemudian mereka berdoa dibawah pohon itu. Lalu pemikiran barat mengatakan berdoa menyembah pohon itu. Dibawah pohon, menjadi menuju pohon, konyol tolol bukan?
BAGIAN 3.
Hal yang menakutkan dan menggangu pikiran dan kesehatan serta menghambat perjalanan, itu dalah begu.
Bila seorang pemuda hendak mertandang kepada gadis pujaannya, tapi ada anjingnya sangat galak, menyerang hendak menggigit, itu menakutkan. Lalu dia punya cara, diberikan umpan makanan kepada anjing itu, setelah tenang, baru dia melanjutkan partandangonnya. Dalam hal ini, kita sepakati atau tidak, dia telah mamele yang menakutkan dirinya, kita sebut begu.
Pada masa lalu, adalah pangallung dari Toba menuju Asahan mengangkut barang dagangan dari Toba dan membawa garam dari Asahan. Di perjalanan tengah hutan mereka berhenti istirahat. Mereka tidak tau bahwa tempat itu “langgak” (sebutan untuk tempat yang dianggap berpenghuni).
Entah apa salah mereka, bisa saja karena mengotori tempatnya, bicara sembarangan, bikin keributan, sehingga penghuni alam sekitar itu marah. Mereka yang istirahat dan melintas pun diganggu. Mereka takut melintas kemudian hari dari sana.
Apakah mereka harus manghindari melintas dari jalan itu?. Bila menghindar, mereka akan berkeliling sangat jauh dan sangat merugikan dari segi waktu. Kemudian mereka mengambil kesimpulan, membujuk penghuni tempat itu dan memberikan apa yang layak untuk “ulian”, inilah kemudian disebut mamele.
Ada juga solobean di tao. Solobean bisa pengganggu perjalanan. Kalau diamati solobean itu adalah angin dan ombak, topan dan tornado.
SALING MENGHORMATI DI ALAM YANG BERBEDA.
Ada kebiasaan dan pemahaman dan juga anjuran, agar saling menghormati sesama antara manusia dengan mereka yang di alam lain itu. Ada penyebutan nama bagi tempat yang harus dihindari melakukan perbuatan yang tisdak menyenangkan mereka. Mereka disebut “namartua……, sombaon…..”.
Contoh tempat yang langgak; Di Samosir ada “namartua sioma”, di Toba ada “namartua simanukmanuk”. Dikampung saya ada “sombaon nagukguk”. Sebutkan di daerah anda dulu ada sebutan untuk tempat yang dianggap angker.
Apabila hanya demi keselamatan perjalanan dan jalan pintas harus melewati tempat persemayaman para roh itu, mereka memberi sajian khusus Apa boleh buat demi manghidari kerugian lebih besar.
Prinsip dan perlakuan mereka itu masa lalu adalah hal yang biasa dan tidak ditabukan. Semua orang paham bahwa mereka bukan menyembah untk keselamatan, untuk berkat dan rejeki, untuk kesuksesan karir. Mereka tidak dipersalahkan dengan itu.
Saya melihat di tiktok saat ini, marak melakukan praktik hadatuon dengan mengunjungi tempet tempat yang dianggap memeiliki enegrgi seprti yang mereka butuhkan. Makin seru… kan?
BERHALAWAN MASA LALU.
Ada kemampuan para datu masa lalu mengkerangkeng dan memerintah roh gentayangan. Mereka punya kemampuan melenyapkan roh tingkat kedua. Roh itu pun takut dan tunduk diperintah melakukan apapun sesuai kemampuannya. Peliharaan ini disebut “sibiaksa” dan “pohung”. Kalau pun sibiaksa dan pohung diberi sajiannya adalah biar tetap jinak dan siap diperintah.
Sibiaksa punya keahlian menakuti sekampung, melongsorkan tanah sekitarnya sehingga orang sekampung takut tinggal disana. Pohung punya keahlian menyesatkan orang. Mereka dibuat menjaga kebun. Bila ada masuk dengan niat mencuri, ketika hendak pulang dia disesatkan tidak mengenal jalan keluar.
BERHALAWAN MASA KINI.
Bila saya bandingkan perilaku para tetua masa lalu, mereka melakukan praktik memberikan sajian pada apa yang menghambat, merugikan pekerjaan dan perjalanannya. Eh, saya temukan juga pada masa kini.
Sangat beda dengan penyembahan masa kini yang berjiarah dan membuat sejajen pada tempat berhala, bertuah, sakral, untuk mendapatkan kesuksesan menjadi anggota DPR/DPRD, Bupati dan Gubernur, jabatan lain dan bisnis.
Dan perbuatan seperti itu di masa lalu kemudian disebut sipelebegu, namun perbuatan yang meminta rejeki dimasa kini tidak pernah dituding sipelebegu karena di KTP ada agamanya.
Apakah pemelihara benda berisi roh yang bisa diharapkan membantu masih ada disekitar anda? Nah itulah dia abdi berhala masa kini.
BENTUK LAIN SIPELEBEGU MASA KINI
Seorang kontraktor hendak mendapatkan proyek yang sudah diincarnya. Dia tau ada orang yang kuat yang tak bisa disinggung. Padanyalah keputusan terakhir proyek itu kepada siapa. Dia pun melakukan sesembahan berupa uang dalam amlop, dan dengan sopan serta tutur kata menjadi doadoa penyenang bagi penguasa itu.
Penentu proyek itu akan menjadi sosok yang menakutkan dan harus disembah dengan persembahan uang. Demikian juga tentang kesuksesan pekerjaan dan karir. Ada sosok yang harus diterobos. Dan upaya penerobosannya pakai persembahan dengan sesajen “uang balga”. Apabila tidak dilakukan, ada ancaman menakutkan tidak lolos, bisa dipindah ke tempat/meja kering.
Pelean masa kini tidak tanggung tanggung pula. Kalau dulu bisa dengan “sangatup napuran, itak gurgur, ayam dan ihan”, kalau sekarang?
Tak aci seekor ayam, seeokor ikan dan sepiring nasi. Bisa nilainya persembahan sekarang ini sebanyak ayam yang ada dipeternakan Charoen Pokphand. Itak gurgurnya sebanyak beras di gudang Bulog, dan ikan satu isi jala apung Aqua Farm di Ajibata.
Maraknya korupsi dari dulu dan sekarang adalah karena ada begu dan pengabdinya, yaitu yang mamele para begu itu hingga makmur, sama sama makmur….. hahahaha
Hahahaha… saya ini begu… Tak taat kau, nanti kulengserkan kau ke tempat yang kering….
Hahaha. ……saya ini begu…. Pakai jas dan sepatu berkilat dan dasi melintang, hatihati kau…..
Hahahaha, saya ini begu….. Jangan kira saya menunggang kuda dan sepeda angin. Saya hendak melintasi alam dengan Inova Neo Reborn.
Hahahaha…saya ini begu. Perjuanganku telah melintasi banyak rintangan, dan menundukkan berbagai karakter begu begu berkuasa… Saya sekarang perkasa…. Kau minta apa?
Baca juga ;
Satu tanggapan untuk “PEMAHAMAN TENTANG BEGU DALAM TRADISI TOBA”