ANTITESIS SIPELEBEGU

Monang Naipospos

Dalam PEMAHAMAN TENTANG BEGU DALAM TRADISI TOBA sudah saya uraikan tentang pemahaman apa itu begu dan praktik masa lalu dan masa kini.

Bicara Sipelebegu orang akan langsung menuding ke belakang. Itu praktik yang dilakukan para leleuhur. Namun, bila fakta silepebegu di cerna lebih mendalam, bahwa sipelebegu itu tidak terbatas jaman masa lalu, saat ini juga masih ada bahkan lebih masif.

Hanya masa yang mempangaruhi tampilan, dari dulunya pakaian yang tradisional dan sekarang pakaian modern yang jadi kemasan, seolah olah yang dipraktikkan sipelebagu masa kini bukanlah sipelebegu.

Namun ada yang dilupakan kaum agama moden. Bahwa kepercayaan tradisional yang tak pernah disebut agama itu juga melakukan tata ritual ibadah dengan persembahan persembahan.

Agama modern juga mengenal persembahan, tapi berupa uang. Tapi selalu dipertentangkan kepercayaan tradisional, bahwa persembahan berupa kurban itu adalah bagian dari sipelebegu.

Apa yang terjadi saat ini?

Marak saat ini melakukan praktik persembahan di alam semesta, di rumah atau ditempat terpilih yang dianggap sakral. Baik itu dilakukan perorangan, kelompok marga, huta dan satu satu kelompok.

Soal pakaian, walau mereka sudah manusia modern, tetapi mereka menggunakan atribut pakaian masa lalu seperti penyesuaian dengan apa yang dilakukannya itu.

Mereka yang melakukan persembahan di alam semesta dan yang melakukan pensucian diri di Danau Toba maupun sumber air.

Mereka tidak lagi sembunyi sembunyi. Tidak ada lagi rasa takut dituding sipelebegu, tidak ada Yang tabu, tidak lagi merasa malu dituding perdukunan dan sipelebegu.

Kaum agama fokus kepada tudingan bahwa mereka melakukan sembah kepada kekuatan yang ada di alam semesta, sementara agamanya melakukan sembah kepada pencipta alam semesta.

Karena kepercayaan tradisionak juga mengakui ada pencipta semesta alam yang mereka sembah, sehingga tudingan kaum agama mereka sepelekan. Kalau kaum agama mengataka tidak ada lagi hubungan manusia dengan orang sudah meninggal, kaum tradisional tetap malakukan hormat dan hikmad kepada orang tua hingga leluhur yang sudah meninggal.

Inilah fenomena pembrontakan jiwa orang yang terkungkung dan ditekan berlama lama.

Mereka dengan tajirnya berbangga diri memposting perbuatan mereka di medsos.

Para penuding leluhur kita sepelebegu, mungkin akan jengkel seperti cacing kepanasan hendak menuding, namun jawaban para pendukung kegiatan itu sangat tajam dan menohok.

Apakah anda tau mereka itu siapa? Mereka pada umunya ber KTP dan ada agamanya. Kecuali mereka yang sejatinya adalah Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan terdaftar.

Kalau anda mengatakan mereka Sipelebegu, kira kira bisa nggak menduga apa jawaban mereka?

Tinggalkan komentar