BEDA DATU PARPULUNGAN DENGAN DATU PARJUJUNGAN

Nonang Naipospos

Dalam statusku, SIRONGIT TEMPAT TANDING PARA DATU, cenderung menjelaskan karakter datu dari pelatihan dan perguruan. Mereka para datu yang secara alami melatih diri meningkatkan kapasitasnya.
Ada yang bertanya; “Lalu bagaimana dengan datu yang jujunganon itu amang?” Nah itu beda.

DATU PARPULUNGAN
Sebutan ini sengaja saya katakan karena mungkin beda di lain tempat. Mereka berguru dari guru, atau yang ditempuh dengan penelusuran sendiri. Mereka mengumpulkan kekuatan dan enerji dengan melakukan (marbahudung) tapa.
Dengan kemampuan meracik ramuan yang sudah dia kuasai, eksistensinya akan bertahan lama. Bila penelitian terus berlangsung, peningkatan kapasitas tetap berjalan. Ilmunya bisa diturunkan, dan mereka biasanya selalu mempunyai murid.
Ini bisa saja tersus berjalan. Praktek dan pembelajaran dan mengajarkan, inilah kelak masuk kategori DATU BOLON.
Para datu seperti ini tidak pernah ada lagi menurut pengamatan saya.

DATU PARJUJUNGAN
Ilmunya instan, datang melalui mimpi. Ada yang melalui datangnya roh yang sandar pada dirinya. Mereka tibatiba bisa mengobati orang sakit. Hanya dengan bantuan jeruk purut air dan cawan putih bisa menyelesaikan masalah.
Praktisi seperti ini marak muncul saat ini dan sering pamer diri di Medsos, Youtube dan TIKTOK. Kategori seperti ini ada dua bagian. Pertama adalah dengan kesurupan (sandar) bisa melakukan pengobatan. Kedua, dengan pengakuan bahwa melalui perantara mimpi atau dengan adanya sahala pangajari memberikan pembelajaran pada dirinya. Dalam waktu singkat bisa membuat ramuan menyembuhkan penyakit.
Sering Datu Parjujungan ini bisa meminta “Gondang Sabodari”. Kegiatan ini disebut “Mangarintari Jujungan” atau Gondang Jujungan.
Bila para Datu Bolon masa lalu melihat ini pastilah mereka iri. Karena mereka menempuh ilmu bertahuntahun, eh ini ada yang datang dalam satu malam.
Namun, menurut pengamatan saya, Datu Parjujungan seperti ini jarang bertahan lama. Sering muncul Datu Parjujungan, populer di awalnya, lalu kemudian menghilang dari peredaran.

Ada kalanya, agar bertahan lama ada yang berpurapura kesurupan kalau ada yang datang berkunjung minta petunjuk dan pengobatan.
Mereka tidak menguasai ramuan berdasarkan uji coba. Tidak mengenal ragam racun sehingga tidak mengenal bahan penawar.
Ramuan itu bukan hasil penelitiannya dan bukan hasil praktik uji coba, maka sulit baginya melakukan kajian atas beberapa ragam penyakit.
Yang seperti itu perlu melakukan pendekatan pematangan ilmu dengan Datu Bolon (kalau masih ada dan saling mengakui).

Coba tebak, kalau ada anjuran cuci muka dan mandi di makam orang tua/leluhur, kirakira datu yang mana menurutmu memberi petunjuk seperti itu?

Tinggalkan komentar