Monang Naipopos
Dalam pernikahan Batak Toba, kedua kata ini menjadi penunjuk adanya proses yang dilakukan seorang pria dan wanita.
Dalam ANAK TUBU BORU SORANG sudah diterangkan bahwa anak itu disebut “tubu” karena dia tunas yang langsung bertautan dengan batang utama,“bona”. Sementara boru itu disebut “sorang”, maisorang, datang dan kelak akan pulang.
Anak lakilaki yang tubu adalah tunas, selanjutnya disebut sinuan tunas, dan anak perempuan “sorang” adalah beu ibarat cairan yang menempel pada kulit dan selanjutnya disebut sinuan beu. (Bila kulit kena panas, maka ada muncul benjolan berisi cairan, cairan inilah yang disebut aek beu)
Tunas adalah yang tumbuh langsung dari batangnya dan berkembang sekitaran batangnya. Sementara beu dimaknai yang menempel pada tubuh bentuk cairan dan kelak akan mengalir pergi menuju tempat sejatinya.
Bagaimana beu lepas dari kulit? Tentu saja ada unsur yang mempengaruhi. Bila ada kekuatan yang menarik dirinya lepas dari kulit itu, maka perlahan dia akan beralih melepaskan diri. Yang membuat dia melepas diri adalah karena ada upaya pihak lain “mangaririt”, memilih, menyesuaikan, mendekatkan usnur pengaruh itu.
Bagaimana beu itu bisa melepas diri dan pergi? Semua itu karena “rongkap”. Seperti air nira keluar menetes karena di “oli” (bukan minyak pelumas ya waw….) dengan bahan penarik yang disebut rongkap.
Pekerjaan ini secara total adalah “mangoli”. Beu itu dioli agar melepaskan diri dan dibawa “muli”, pulang bersama ke kampung bersama.
Perempuan lahir adalah beu yang kelak muli kekampungnya. Jadi sejak lahirnya dia sudah punya kampung imajiner.
Para gadis yang belum ada rongkap, ingatlah bahwa kampungmu sudah ada, tinggal menunggu rongkap yang menggoda dirimu dioli menuju kampungmu itu.