Monang Naipospos
Banyak kelompok dan grup di FB dan WA yang bergenre Pelestarian Budaya dan Adat Batak. Banyak yang mengundang saya di FB dan melibatkan langsung di WA.
Jarang saya memberi umpan disana dan tidak pernah berkomentar. Pernah pertama sekali saat populernya group FB saya memberi pendapat, lalu diserang habis oleh mereka yang tidak saya kenal. Mereka kebanyakan kaum muda yang sebaya anak sulung saja. Ampun …….., saya tidak pernah lagi memasuki grup seperti itu. Dan dari GWA perlahan menunggu waktu saya keluar agak lebih senyap.
Betapa gerakan pelestarian ini selalu muncul, namun seiring perkembangan jaman satupersatu gerakan ini redup juga. Kenapa demikian?
Ada satu hal yang perlu kita renungi tentang defenisi “pelestarian” itu. Yang dilestarikan itu sebenarnya apa? Kalau tidak ketemu rohnya, tentu akan redup jiwanya.
Apakah budaya Batak yang kita lihat, kita rasakan dan kita lakoni saat ini yang akan dipelihara dan dilestarikan? Tentu saja kita perlu merenungkan kembali, bahwa kebudayaan kita saat ini sudah banyak yang bergeser dari nilai nilai kebudayaan yang disiratkan leluhur.
Kalau ada simbol budaya saat ini bertambah dan berkurang, apakah kita semua memahami simbol budaya itu? Apakah kita masih memahami makna dan nilai serta budi dan keluhuran budaya itu?
Setulusnya saya katakan bagi semua yang ingin melakukan niat baiknya dengan penuh semangat itu. Maknailah dulu dasar dasar kebudayaan itu, maknai dan nilai keluhuran budaya itu. Tak ada artinya kita melestarikan simbol simbol budaya yang tak kita pahami, apalagi telah melakukan perubahan arti dan makna.
Filsafat kebudayaan Batak Toba itu perlu dikaji. Budaya dengan simbol simbol aneh yang berubah, kelak atau sudah kehilangan makna perlu dikaji.
Nilai budaya itu sudah tergerus. Menurut pandangan saya, sudah mengarah kepada pajangan kehidupan saja dalam apa yang saya disebut “asesori adat batak”
Horas.