Monang Naipospos
Bunga nangka muda (serasera), bunga nangka tua (jenggajengga), ditumbuk bersama. Daun pepaya, inggiringgir (saya tidak tau bahasa Indonesianya), ditambah cabai secukupnya, asam secukupnya, garam secukupnya, hasilnya adalah rabar.
Mengerjakannya disebut mangarabar.
Untuk apa? Ya, dimakan.
Manfaatnya? Ya, katanya untuk kesehatan.
Biasanya saat bagaimana dilakukan?
Pertama : Bila seorang ibu muda mulai mengandung, kadang meminta makanan yang aneh aneh. Biasanya para gadis dan para ibu lainnya melakukan mangarabar untuk dimakan bersama. Diyakini memenuhi hasrat si ibu muda dan menyehatkan janinnya.
Kedua :
Pada kalender Batak Toba, setiap bulan ada harinya disebut HURUNG. Biasanya aktivitas kerja dan ada dihentikan saat itu. Pelajaran bagi kaum muda untuk mengenal pembatasan, dan kaum dewasa adalah belajar berkontemplasi, kaum tua adalah melakukan pendekatan khusus penyatuan diri pada semesta dan penciptanya, disebut marbahudung. Para permpuan bianyanya mangarabar pada saat itu.
Dalam kalender itu, bulan terakhir disbut juga HURUNG dan hari terakhir juga ada HURUNG dan RINGKAR
Disilah puncak renungan akhir tahun. Tidak hanya membatasi aktivitas keseharian, tapi ada yang melakukan pembatasan makanan. Pada saat itu tubuh tidak meresap energi dari makanan kebiasaan, tapi mereka hanya makan RABAR. Itu diyakini akan melekukan proses pembersihan pada tubuh melalui proses makanan di usus yang tak biasanya. Hingga pada kondisi ini tubuh dalam keadaan RABAR merubuah kondisi buruk menjadi kondisi baik.