Monang Naipospos
Datu Pulungan adalah tabib pengobatan tradisional. Mereka mengenal obat penawar dan racun. Keseimbangan pengetahuan kedua hal itu menandakan kemampuan hadatuon mereka soal obatobatan. Beda dengan Datu Panusur, Datu Ari dan datu spesialis lainnya (Lho,… datu itu sebutan untuk beberapa kelompok spesialis ya.)
Para Datu Pungungan ini kalau memiliki murid, akan menjadi objek penelitiannya. Kadang diracun dan diberi obatnya. Segala macam racun dikuasai dan segala macam obat penawar juga diciptakan.
Jaman dulu, tak ada lembaga uji kompetensi (Ikatan Datu Indonesia). Mereka sendiri melakukan dan menentukan tempat dimana mereka melakukan uji kompetensi. Ujiannya tidak dihadapan para penguji, namun langsung sesama datu melakukan tanding uji kemampuan.
Kalau tahun ini datu A dikalahkan datu B, maka dalam setahun ini datu B akan merusaha meningkatkan kemampuannya untuk bisa mengalahkan datu A.
Contoh permainannya adalah; si A menyerang si B dengan racun ampuhnya. Si B akan menggerakkan semua potensi dalam tubuhnya melawan kekuatan racun si A. Kadang ada juga ramuan tambahan diminum untuk meningkatkan kekebalan tubuhnya melawan racun si A.
Bila si B bisa selamat dan tak ada gangguan kesehatannya, maka dinyatakan dia menang. Yang membuat dia menang adalah keampuhan obat penawar dan kekebalan tubuhnya. Bila si B ternyata kolaps tak mampu melawan racun si A, maka harus ada pernyataan kalah, lalu si A memberikan obat penawarnya.
Mereka yang sudah bisa memasuki area tanding seperti ini di daerah manapun, merekalah yang layak disebut Datu Bolon. Dalam etika Hadatuon, tidak boleh saling serang diluar musim tandang. Mereka mengutamakan kemampuan meningkatkan kapasitas daripada berguru kepada datu seimbang. Dalam etika haguruon masa lalu, bila seseorang ingin mengetahui ilmu khusus yang dimiliki orang lain, dia harus mengaku jadi “sisean” (murid) lebih dulu. Para datu Bolon mana mau…kan?
Lumban Balian adalah persimpangan menuju kampung saya. Bagian dari Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba. Persimpangan jalan trans Sumatra dengan jalan ke Desa Sidulang. Daerah sekitaran ini adalah area tanding para Datu Pulungan (Daerah lain pasti ada, silahkan telusuri sejarahnya).
Mereka datang dari daerah Habinsaran, Uluan Humbang dan tentu saja dari Toba. Bahkan ada dari tempat yang lebih jauh lagi. Pada situasi ini mereka disebut Tandang (Apakah bisa dikatakan sama dengan Tanding?. Bagaimana pula dengan Martandang?).
Setelah mereka selesai tanding, areanya belum sepenuhnya bersih dari residu racun dalam beberapa jam. Kalau ada yang sengaja atau tak sengaja lewat area itu, kadang mereka merasakan seperti ada tusukan tusukan pada kaki dan tubuh lainnya seperti tusukan nyamuk (rongit). Karena hal itulah daerah ini ada nama tambahan dan populer sampai saai ini SIRONGIT atau Pasar Sirongit.
Satu tanggapan untuk “SIRONGIT TEMPAT TANDING PARA DATU”