Monang Naipospos
Beberapa tahun belakangan saya dengar istilah ini. Saat saya konfirmasi maknanya, disebutkan dalam undangan diselipkan uang agar yang diundang itu memberikan ulos. Begitukah menurut yang anda tau?.
Kalau benar begitu maka abadilah kehendak masyarakat adat Batak Toba bahwa, kerennya ulaon pamuli boru/pangoli anak adalah banyaknya ulos yang diberikan uduran parboru.
Waaw…keren…banyak sekali olos mereka dapat….. begitulah harapan dan kebanggaan orang Batak Toba terutama para ibu ibu (mohon maaf para ibu ibu). Usai acara adat, kain itu digulung dalam goni dijual kembali ke pedagang dengan harga murah. Pedagang yang dapat untung.
Kalau tidak ada hubungan dekat partuturon dengan parboru biasanya yang muncul adalah seka (sengka, sekka, menirukan motif ulos yang berwarna warni tak standar ulos Batak Toba. Ada yang tak pakai sirat dan hanya dibordir mesin) yang disebut seorang pemerhati ulos sebagai “ulos sampah”. Banyak yang menghujat beliau saat itu walau pun saya setuju dengan itu.
Pada saat saya Manggoli Sinamot untuk parumaen saya, dengan hormat saya minta kepada parboru agar yang memberikan ulos hanya mereka bersaudara saompu dan tulang saompu aja. Harahara tidakperlulah memberikan ulos (sekka) karena saya menduga nantinya menyemak tak menarik hati seraya menindih ulos “namarhadohoan” yang diberikan hulahula. Saya juga minta agar tidak memberikan mandar, kalau ada disediakan nantilah diberikan saat helanya dan borunya datang berkunjung.
Parboru merenung, mungkin dianggap ada benarnya. Namun akhirnya mereka menolak, karena sudah memberikan (manggarar adat) kepada saparharaan, lalu kapan mereka menerima kembali?
Inilah dilema, saat mengembalikan pada hakekat adat dan mengurangi hal hal yang tidak penting, sudah sulit merubahnya.
Hanya penolakan saya memberikan mandar saja yang disetujui dan terlaksana.