TUNGKOT SIALAGUNDI DI TANGAN SITUNGGIK

Monang Naipospos

Tungkot adalah alat bantu menuntun perjalanan. Bila turunan menopang badan agar tak terjerumus kebawah, bila mendaki menahan badan antuk lebih ringan melangkah.

Sialagundi adalah tumbuhan pinggiran hutan dengan perkampungan. Ada yang sengaja ditanam di “parik” pinggir jalan karena batangnya agak langsing panjang dan luru. Rantingnya juga lurus dan kuat. Saat dalam perjalanan dan merasa kelelahan dan butuh tongkat maka solusinya adalah ranting salagundi itu.

Dalam tradisi yang sudah disiratkan leluhur, semua didasari foilosofi kehidupan dan memiliki makna spritual. Maka, bila anda mencari; “Apa sebenarnya Spirit of Batak?”, yaitu adat istiadat yang di pagari dengan hukum dengan “ruhut” (aturan) pelaksanaan. Tak lupa pula mereka menyiratkan spritualitas budaya itu dengan simbol simbol.

Semuanya itu menjadi pedoman pelaksanaan untuk merangkai harmoni kehidupan bermasyarakat.

Ada 4 tingkatan rangkai kehidupan yang diatur tatanan hubungan kemanusiaan itu, yaitu bilangan; 5, 4 , 3, dan 1.

BILANGAN LIMA;

Sering disebut “Sisiasia na lima Habatahon”. Adalan 5 dasar atau lima sila habatahon itu sendiri yang menjadi landasan ber peri kehidupan, yaitu; 1. Marpatik, 2 Maruhum, 3. Martutur, 4. Marraja, 5. Mardebata.

BILANGAN EMPAT

Sering disebut “Suhi Ni Ampang Naopat”. Mencakup 3 aspek kehidupan masyarakat, yaitu; 1. Kepemimpinan (Ketataprajaan), 2. Relasi Sosial dan 3. Legislasi perkawinan

Kepemimpinan; Terdiri dari unsur pemimpin empat, disebut raja naopat atau raja maropat. Para pemimpin itu adalah 1. Pargomgom, 2 Parthi, 3 Pamngumei, 4. Namora.

Pada relasi sosial disebut; 1. Somba marhulahula, 2. Manat mardongantubu, Elek marboru, 4. Pantun (Hormat, Taat) Marraja.

Dalam legislasi perkawinan, maka disebut unsur dari kedua pihak, seperti; 1. Pamarai, 2.Simolohon, 3. Parorot 4. Tulang.

BILANGAN TIGA

Sering disebut “Dalihan Natolu”. Adalah unsur yang menopang keutuhan keluarga. Karena satu keluarga adalah hitungan KK atau dalam masyarakat Batak Toba disebut “tataring”. Keutuhan satu tataring itu karena ada disana tiga unsur penopang. Bukti kedekatan dan sentuhan langsung antara dalihan itu dengan (hudon, kehidupan, sukacita, dukacita, panas dan dingin) adalah, bila ada kebahagiaan yang didapatkan satu tataring maka ke 3 unsur itulah yang merasakan kehangatan. Bila ada duka cita dalam satu tataring, maka ketiga unsur itulah yang terdekat merasakan dukacita.

Karena dalihan natolu itu adalan unsur terdekat dalam keluarga, dan sikap dan rasa yang diberikannya kepada keluarga itu, maka falsafahnya adalah “sada panuhuhon songon dalihan natolu”.

(Karena filosofi kehidupan yang digambarkan dalihan itu yang satu pemikulan, maka pada masa pembrontakan ada batalion yang disebut Batalion Dalihan Natolu.)

BILANGAN SATU

Sering disebut “Siborotan”. Adalah sebuah tujuan dan pencapaian. Ini merupakan mercu atau puncak pencapaian dalam kehidupan itu. Puncak itu diadopsi dalam simbol motif tenunan yang disebut “punsa”, punca(k). Makanya ulos yang dibuat kepalanya pakai mercu (punsa) harus disandang agar berdiri tegak.

Bilangan satu dalam masyarakat ada angka yang diselipkan makna, seperti sat “siborotan”, dua “Sipat ni manuk”, tiga “Sitiang ni langgatan, empat “Sipat ni pansa,….dll.

Satu tambatan dalam acara tradisional yang ditancapkan berdiri kokoh, kuat dan tegal lurus, dan bisa menahan pembrontakan seeokor kerbau. Ini bisa dilihat saat horja bius, mangalahat horbo dan acar saurmatua di sebagian Toba.

Begitulah kepribadian manusia yang teguh, kokoh tak tergoyahkan dari kebenaran hakiki yang dimiliki dengan prinsip “sijujung ni ninggor sitingkos ni ari”

Situnggik adalah perilaku anakanak yang membuat suarasuara sumbang dan suara tiruan. Suara gondang kesedihan, suara harimau menakutkan, suara suara yang menyeramkan, suarasuara tangisan menyedihkan dan lainnya. Biasanya, kalau orang tua bija mendengar itu langsung ditegur; “Tongka”. Makanya ada ungkapan mengatakan; “Situnggik ninna dakdanak, sitongka ninna natuatua”

Itulah jalannya (ruhut paminsangon) teguran oleh para bijak bestari agar tidak menjadi kebiasaan yang berdampak buruk.

SITUNGGIK TELAH DEWASA

Kehadiran situnggik ini pada usia dewasa sudah ada sejak jaman penjajahan. Orang Batak masa itu menjadi kebaratan dan dengan dengan teganya menyesali peradabannya dan memfitnah kebudayaannya. Darisinilah mulainya pembalikan makna dan pergeseran nilai.

Hal yang mengikat batin orang Batak yang mengatakan “Ompunta najolo martungkothon sialagundi, pinungka ni najolo ihuthononta sian pudi”, apa yang dimulai leluhur wajib kita ikuti, dirobah menjadi “kita perbaiki” kemudian hari. Hasilnya? Banyak hal berubah dengan tekanan kata “memperbaiki, melengkapi…dll). Semua diperbaiki sesuai seleranya sendiri. Dampak buruknya sangat hebat dikemudian hari.

Siapa berani menegur? Karena mereka sudah abdi penjajah? Apa yang mereka lakukan bebas tanpa teguran selama tuannya tidak melarang.

PRINSIP SUHI NI AMPANG NAOPAT MENJADI PRINSIP DALIHAN NATOLU MINUS RAJA.

Pertama sekali yang digeser adalah makna suhi ni ampang naopat itu. Pemaknaan Suhi Ni Ampang Naopat ada pada 3 hal, yaitu;

Selama pemaknaannya adalah hormat kepada pemimpin, maka raja tradisional dalam masyarakat akan kuat. Perlawanan terhadap halhal baru dan nilai baru sebagai unsur penjajahan akan sulit dimasyarakatkan.

Maka hormat kepada Raja ini harus diamputasi dari logika budaya tuntunan “tungkot sialagundi” itu. Sahala Raja pun diambil alih menjadi “sahala” bagi para pendatang itu. Disisakanlah tiga dan disematkan dalam pemaknaan dalihan natolu.

Raja Parbaringin yang dulunya sangat dihormati, lalu didirikan Raja Ihutan versi kolonial. Kepada merekalah diwajibkan harus hormat, smentara Raja Parbaringin tertinggal dan tertunduk lesu tak bisa berbuat apa.

Adakah sekarang ini tatanan kemanusiaan/masyarakat yang mewajibkan “Pantun” hormat dan taat kepada pemimpinnya?

Hanya dalam tradisi Batak Toba yang ada penanaman akal budi pekerti kepengikutan. Sementara orang modern pada umumnya memperdalam ilmu kepemimpinan. Inilah ilmu yang digunakan dalam penjajahan, dan pengetahuan moderen. Ilmu kepemimpinan adalah teknik menguasai orang.

Hilangnya prinsip kepengikutan dalam masyarakat Batak Toba saat ini sudah nyata. Terlihat dalam setiap kondisi sangat jarang muncul tokoh yang karismanya merekat kedamaian dan mengidupkan ketaatan hukum adat.

Ketika masih ada pengetua yang melakukan teguran kepada mereka yang melakukan plesetan budaya, apa jawaban mereka yang muda?; “Najolo nama i natuatua”, jawaban menohok membuat mereka yang tau filosofi adat itu terdiam.

Ada juga pendapat orang orang yang sudah berpendidikan yang mengatakan; “Budaya itu berkembang sesuai dengan jaman”. Entah perkembangan apa yang dia maksud, sehingga ketidak jelasan ini memicu orang orang melakukan perubahan.

Pada masa melakukan perubahan ini, sudah tidak ada lagu muncul tokoh penjaga nilai budaya, akhirnya bablas sangat dalam.

Apa tidak aneh menurut pandangan para bijak bestari, bila dalam tradisi upacara adat masyarakat batak Toba saai ini lebih banyak memelihara pernik daripada makna? Itulah yang diisyaratkan leluhur masa lalu; “Diholipi uramna impolana”

Sesama orang Batak Toba saat ini sudah saling menyalahkan apa yang terjadi. Banyak juga yang menyesali pergeseran nilai. Namun, apakah mereka punya komitmen melakukan reformasi secara keseluruhan? Entahlah. Situnggik masih berjaya saat ini

Dampak perbuatan situnggik saat ini

  1. Apa yang kita dengar yang menjadi dasar pengetahuan untuk mendeskripsikan kebatakan itu selain dalihan natolu yang berubah makna? Somba Marhulahula, Manat Merdongan Tubu dan Elek marboru saja. Bagainama bersikap kepada pemimpin dihilangkan.
  2. Bgaimana gondang Batak ditinggalkan, sekonyongkonyong dan seolaholah musik barat yang dicangkok dengan seruling itu menjadi “gondang?”
  3. Bagaimana seorang nakaanak hanya karena pintar mangodapi sudah gagah menerima permintaan sipinta gondang dengan “amang panggual pargonsi? Dan diminta mangalulauhon dst….?” Konon perempuan juga judah berperan dengan panggilan luculucuan “inang pargonsi…”.
  4. Bagaimana ulos dengan pewarnaan warisan leluhur adalah merah (maron), hitam dan biru laut (Itom) dan putih, digantilkan dengam merah menyala, ada yang kunig dan biru seperti lagu balonku……
  5. Bagaimana tabiat orang datang ke acara adat saat ada acara dia ikut manortor, lalu mencomot ulos dari orang lain, tak perduli itu layak untuk lakilaki atau perempuan, sambar saja.
  6. Bagaimana penggunaan ulos punsa yang layaknya disandang menjadi abit hanya karena ingin menampilkan corak motif punsanya saja? Tak terpikirkan punsa itu adalah puncak mercu yang seharusnya disandang agar berdiri tegak, dikorbankan menjadi rebah?
  7. Bagaimana tradisi leluhur pakai ikat kepala dengan sebutan talitali menjadi “sollop” segitiga yang dulunya dipakai anak SD saat martumba, merambah menjadi pengganti talitali?
  8. Bagaimana ulos sampe tua kepada pengantin menjadi ulos hela dan ulos tujung menjadi sampe tua?
  9. Bagaimana tambahan mandar hela itu menjadi tradisi baru seolah itu ikutan dari kebudayaan lama?
  10. 9. Bagaimana acara pernikahan yang dilaksanakan di halaman rumah parboru disebut simbol” sementara sebutan “alap jual” sudah hilang dari peredaran?.
  11. Sitombol, sikobol, simokmok agaknya lebih menarik ya.
  12. Bagaimana saat manggohi ulaon pernikahan, yang seharusnya paranak dan dongan tubu yang menggiring pengantin kerumah untuk mandondon tua, digantikan dengan tulang ni pangoli? Tulang…paniaranmu ma togu.
  13. Bagaimana ulaon adat digohi saat matahari masih bersinar, bisa dilewatkan hingga matahari terbenam? Apa masih ada kata panggohi mengatakan; “Di gok ni mataniari on, gok ma panggabean dst? Apa kata panggohi setelah mananiari lonong dan ari golap?
  14. Bagaimana simbol makanan kerbau tapi rasanya daing ternak kecil?
  15. Bagaimana tortor batak sekarang?. Yang dulunya mangahit dan manghaut sekarang gayanya penari kreator menjadi mangungkit dan manungkis. Urdot biasanya tegak lurus, sekarang sudah menggoyang pinggul ala dangdut.
  16. Bagaimana mereka menciptakan bendera batak dengan gabungan tiga warna seperti bentuk bendera belanda dan ada komposisi beda, sementara leluhur punya hembang tiga warna dengan tiang masingmasing warna?
  17. Silahkan ditambahkan…….

Sering ada orang dengan perkataan dan pernyataan bahwa jaman berubah, budaya pun berkembang. Perubahan dan perkembangan adalah keniscayaan, kata mereka. Mungkin mereka akan melihat ini sebagai kewajaran saja.

Apakah mereka melihat sudah banyak mengabaikan makna dan hanya menonjolkan pernak pernik saja? Seperti yang sudah dikatakan leluhur sejak lama bahwa; “Diholipi uramna impolana”. Seperti itukah yang terjadi saat ini?.

Dulunya mereka situnggik meniru merubah arah mengabaikan makna, akan menjadi tradisi yang melekat saat ini. Apakah ada diantara anda yang melihat ini dengan pengakuan penyimpangan?

Korban perbuatan situnggik saat ini tidak merasakan ada kesalahan. Karena apa yang dilikat dan dilakoni adalah seperti apa yang dilakukan ompungnya dan bapaknya. Ya…. Tiga generasi lebih kebudayaan kita tergeser.

Tinggalkan komentar