Monang Naipospos
Mungkin anda penggemar kopi ada mendengar atau membuat sendiri kalimat yang memenuhi makna FILOSOPI KOPI. Namun itu tidak masuk dalam kebudayaan lama, apalagi di Toba.
Toba mengenal tuak dalam kebudayaan dan adat istiadat yang disebut Tuak Natonggi atau Tuak Tangkasan. Tuak Natonggi adalah yang rasanya manis, tuak tangkasan juga rasanya manis. Tuak tangkasan adalah asli tanpa campuran, dan itulah tuak natonggi.
Tuak Tangkasan atau Tuak Natonggi itu apabula dibuarkan berproses fermentasi alami selama setengah hari, maka dia menjadi Tuak standar “MANUR”. Inalah juga yang dikatagorukan “tuak ni ina”. Apabila tuak namanur ini diminum para perempuan maka wajahnya tampil cantik, inilah disebut “MINAR”. Tuak tangkasan adalah sampiran kata yang menyambung frasa “tangkas gabe, tangkas mamora”
Apabila dalam selesai upacara adat pernikahan, biasanya parboru memohon agar diberi “pasituak natonggi”, seperti inilah tuak itu, bisa diminum para ibu ibu.
Seperti apa tuak yang digemari para lelaki? Nah, itu namanya tuak na “PANG”. Pang arti dalam tuak itu adalah keras. Tuak NAPANG bisa terjadi jika semula didalam penampunga ditambah “RARU” dan “PARAK” yaitu ragi tuak itu sendiri. Proses permentasi perubahan gula menjadi alkohol semakin tinggi, menghilangkan aksen MANUR adalah raru itu.
Tuak na PANG bukanlan tuak yang masuk dalam kategori tuak natonggi yang dibicarakan dalam adat. Tuak na Pang dihindari para kaum bijaksana karena sering membuka rahasia, memulai keonaran serta gangguan ekonomi.
Arrroa…..hehehe.