Monang Naipospos
Ada penggunaan pemakaian ulos yang sudah salah kaprah saat ini. Kesalahan ini sudah terjadi sejak lama, bahkan sudah mulai sejak jaman penjajahan. Siapa memelintir makna tidak akan terjadi apaapa. Saat itulah pergeseran terjadi.
Adakan anda lihat Ulos Pinunsaan dipakaikan jadi abit atau hobahoba? Itu yang digunakan melilit pinggang hingga kaki? Ini sudah lajim saat ini.
Ada alasan yang terdengat, agar motif yang indah itu terlihat. Karena bila hanya digunjakan sebagai handehande, motif itu tak terlihat. Itulah alasan “hatihalon dan hatuiton” dibandingkan mereka yang mengerti makna.
Insert photo, sumber Tribun Medan.
Lihatlah ulos pinunsaan itu. Ulos yang diberi kepala/punsa yang bermotip dinamis dan berkembang apabila ditegakkan. Jadi penggunaannya harus tegak dan disandang di bahu. Motif punsa itu adalah siratan hidup dari dasar dan ada pagar pagar penjaga hingga menjulang keatas seperti mercu yang runcing, dan itulah punsanya atau bisa diartikan “puncak”
Kedua puncak itu pun berbeda. Paham ulos mengatakan, ama dohot ina. Bila ama yang menggunakan maka motif amalah didepan, dan begitu sebaliknya.
Bayangkan, bila itu digunakan mejadi abit, berart anda merebahkan yang sogianya berdiri tegak. Dan ada satu mercu yang disembunyikan.
Namun, saat ini manalah makna lagi yang di pedomani. Masibaen lomona ma. Sesuka hati menerabas makna dan nilai.