TOGUTOGU RO

Monang Naipospos

Beberapa tahun belakangan saya dengar istilah ini. Saat saya konfirmasi maknanya, disebutkan dalam undangan diselipkan uang agar yang diundang itu memberikan ulos. Begitukah menurut yang anda tau?.

Kalau benar begitu maka abadilah kehendak masyarakat adat Batak Toba bahwa, kerennya ulaon pamuli boru/pangoli anak adalah banyaknya ulos yang diberikan uduran parboru.

Lanjutkan membaca “TOGUTOGU RO”

PEMAHAMAN TENTANG BEGU DALAM TRADISI TOBA

Monang Naipospos

BAGIAN  1.

Oke, mari kita menenangkan diri seraya menelusuri dunia perbeguan yang anda pahami masa kini dan yang dipahami leluhur di masa lalu.

Dalam rangka menelisik pengetahuan tentang begu ini, lepaskan dulu kepentingan anda yang sudah seperti cadas memahami sebelumnya bahwa begu itu adalah, roh jahat, setan, hantu dan iblis, dan leluhur kita masa lalu menyembahnya?. Lepaskan dulu kekejaman finah itu. Lanjutkan membaca “PEMAHAMAN TENTANG BEGU DALAM TRADISI TOBA”

BEDA TAMIANG DENGAN TANGIANG, ADA UNSUR SIPELEBEGU?.

Monang Naipospos

Perdebatan ini sudah lama saya dengan. Di Gedung Serbaguna Laguboti 30 tahun yang lalu, seorang pengetua adat diminta berdoa untuk memulai acara. Belau pun berseru “Martamiang ma hita” dengan cara Kristen Protestan. Doa pun berjalan tanpa hambatan. Usai doa dan acara hendak dimulai, ada seorang pembicara yang beletulan Kepala Sekolah berkata; agar jangan lagi menyebut tamiang karena itu unsur hasipelebeguon, agar tetap berpedoman pada pengucapan tangiang saja. Lanjutkan membaca “BEDA TAMIANG DENGAN TANGIANG, ADA UNSUR SIPELEBEGU?.”

MANGGOMAK TUMPAK

Monang Naipospos

Ada ungkapan bijak leluhur masa lalu mengatakan SADAMPANG INDAHAN NI PANINGGALA NIHABOSURHON, SANJOMPUT SIPIR NI TONDI PINARTUAHON.

Dalam tradisi leluhur, saat parohon parumaen (mantu), tumpak pun terkumpul dari boru, aleale dan pariban. Ada tradisi “maniup tua” oleh parumaen, agar rejekinya kedepan selalu melimpah. Lalu dengan bimbingan situatua, parumaen meletakkan kedua tangannya diatas kumpulan tumpak itu, lalu tiga (tolu) jarinya “manjomput” tumpak itu. Tolu selalu dimaknai dengan tubu ngolu.

Seperti halnya sipir ni tondi, sedikit namun bermakna sritual, seperti kerasnya beras begitulah jiwanya (tondi) kokoh dan kuat.

Tumpak itu juga, sanjomput bermakna luas. Parumaen mamuhai, memulai membuka ruang kehidupan dan mendapatkan hasil melimpah (godang) di kemudian hari. Lanjutkan membaca “MANGGOMAK TUMPAK”

TINTIN MARANGKUP

Monang Naipospos

Sian ompunta nahinan nunga ditanda tintin. Atik na marharoroan sian cincin pe i. Na tarbarita tintin pinungka ni ompunta ima tintin pijor dohot tintin harungguan. Ummarga ma harungguan ala ragam logam dipadomu, songon ulos harungguan ragam motif dipadomu.

TINTIN

Tanda ni paralealeon olo do masileonan tintin. Tanda ni holong pe olo do masileonan tintin. Di angka namora molo pamuli boru, dileon parboru ma tintin tu nampuna bere di helana.
Rahut ni holong ma i asa sisada hela nasida sisada boru. “Borum ma borunghi, helam ma beremi. Asa rap mangamoni ma hita di nasida ampara sidoli”, ninna parboru, dileon ma tintin parpadanan. Adong ma tintin pijor, adong ma i nadeba mangalehon tintin harungguan. Ala dilehon do tong ringgit sitio soara sian najinalona somba ni uhum sian paranak, didok ma tintin marangkup ringgit sitio soara.
Alai dipudian ni ari, dang sai sude tabahen mangalehon tintin. Tung ringgit sitio soara pe i, nilapatanna tarsongon tintin tanda ni parpadanan do i di parboru dohot parbere.

Lanjutkan membaca “TINTIN MARANGKUP”

HULAHULA (TULANG) MANOGU PARUMAEN TU JABU, APA ALASANNYA?

Monang Naipospos

Ini pengalaman sendiri. Saat bere saya mangoli. Di penghujung acara, raja parhata berkata; “Mangarade ma hamu tulangnami manogu parumaennami tu jabu”, begitulah siarannya.

Saya kaget, di Laguboti tak pernah terjadi hal seperti itu. Tiba saatnya saya bertanya kepada raja parhata, lalu dijawab; “Songon i do namasa di hami rajanami”, katanya dengan hormat. Mau saya tolak, saya melihat wajah ito saya yang pasrah apa kata raja parhata. Dengan maksud agar ito saya tidak kecewa lalu saya malakukan walau terasa janggal dan tidak pernah menerima dalam hati. Lanjutkan membaca “HULAHULA (TULANG) MANOGU PARUMAEN TU JABU, APA ALASANNYA?”

TODOAN NI PARSUHIAN VS TODOAN NI TULANG

Monang Naipospos

Di Sumatera bagian timur, parsuhian sangat penting dan dituntut dengan serius. Toba pun hampir ikutikutan menetapkan todoan parsuhian. Kita jangan hanya memberi, kapan kita menerima? Itu alasana sebagian Toba.

Lebih pentingkah menuntut todoan untuk parsuhian daripada todoan ni tulang ni calon parumaen? Lanjutkan membaca “TODOAN NI PARSUHIAN VS TODOAN NI TULANG”

ADAKAH ADAT SITOMBOL?

Monang Naipospos

Sitombol, Sibotang, Sikobol, Simokmok, Sigulopong, adalah kata yang mendekati pengertiannya, “kekar”. “Sitombol Bitis” Adalah orang yang tinjunya keras dan kuat.
Pernahkah anda mendengar pelaksanaan adat perkawinan disebut SITOMBOL?

Pasti sama yang kita dengar bahwa Sitombol adalah pelaksanaan pernikahan di halaman parboru? Betul kan?

Nah, inilah yang membangongkan, siapa memulai istilah ini dan sejak kapan? Kayaknya sudah lama ya, karena sudah mengakar dan berbuah dan banyak yang sudah memakan pemahaman ini dan ada yang menabur kembali.

Kapan istilah adat pernikahan “Sitombol” itu muncul dala perbincangan masyarakat adat Toba? Tahun 90 an belum ada saya terdengar. Lanjutkan membaca “ADAKAH ADAT SITOMBOL?”

UNGKAP HOMBUNG DALAM TRADISI TOBA

Monang Naipospos

Geli kadang saya melihat namasa, ….
Saat ada acara kematian saur matua, usai penguburan, pihak parboru/tulang meminta langsung kepada hasuhuton agar diberikan uang ungkap hombung kepada mereka. Tuntutan itu dilakukan karena mereka akan segera pulang…hahahahaha.. Ini adat jadijadian demi dapat uang.

Bukankan itu aneh? Dan kebanyakan orang Batak Toba sudah lama bercokol dalam keanehan itu menjadi tradisi yang legal. Kalau disangkal, akan ditentang; “…ah…ido namasa…”, kata mereka.

Apa menurutmu makna ungkap hombung itu? Lanjutkan membaca “UNGKAP HOMBUNG DALAM TRADISI TOBA”