Monang Naipospos
Ada ungkapan bijak leluhur masa lalu mengatakan SADAMPANG INDAHAN NI PANINGGALA NIHABOSURHON, SANJOMPUT SIPIR NI TONDI PINARTUAHON.
Dalam tradisi leluhur, saat parohon parumaen (mantu), tumpak pun terkumpul dari boru, aleale dan pariban. Ada tradisi “maniup tua” oleh parumaen, agar rejekinya kedepan selalu melimpah. Lalu dengan bimbingan situatua, parumaen meletakkan kedua tangannya diatas kumpulan tumpak itu, lalu tiga (tolu) jarinya “manjomput” tumpak itu. Tolu selalu dimaknai dengan tubu ngolu.
Seperti halnya sipir ni tondi, sedikit namun bermakna sritual, seperti kerasnya beras begitulah jiwanya (tondi) kokoh dan kuat.
Tumpak itu juga, sanjomput bermakna luas. Parumaen mamuhai, memulai membuka ruang kehidupan dan mendapatkan hasil melimpah (godang) di kemudian hari. Lanjutkan membaca “MANGGOMAK TUMPAK”