SULANGSULANG HARIAPAN DALAM TRADISI TOBA

Monang Naipospos

Sulangsulang Hariapan adalah ritual budaya Batak Toba yang paling agung. Penyampaian penghormatan tertinggi sesuai adat istiadat kepada orangtua semasih hidup. Dalam syair lagu Batak Toba ada juga menyiratkan agar melakukan kebaikan yang bisa dinikmati orangkua semasih hidup. Kebaikan itu bukan saya sebagai perbuatan antara anak dengan orang tua, namun sebaikbaiknya diaplikasikan dalam tatanan adat yang sudah tersidat dalam kebudayaan luhur itu.

Saat acara sulangsulang hariapan dilaksanakan, beberapa waktu sebelumnya, atau sehari sebelumnya, dihadapan para kerabat, orangtua mengaturkan pewarisan harta benda kepada anakanaknya. Inilah Legislasi Hukum Adat Hak Waris tingkat kedua. (Tingkat Pertama adalah saat manggoli sinamot)

Lalu di kemudian hari banyak menghindari pelaksanaan upacara ini dengan berbagai alasan yang mengada-ada, seperti;

1. “Kalau orang tua yang sudah disulangi semakin sehat maka akan berdampak buruk kepada anak anaknya”

2. “Orang tua yang sudah menerima sulangsulang hariapan tidak bisa lagi mengilkuti upacara adat kepada kerabatnya”

Atau masih ada lagi alasan lain yang menakutkan? Saya katakan semua itu tidak ada dasar kebenarannya Lanjutkan membaca “SULANGSULANG HARIAPAN DALAM TRADISI TOBA”

MANGALAHAT HORBO DALAM TRADISI BATAK

Monang Naipospos

Disampaikan pada diskusi yang diselenggarakan WAG FGD BATAKOLOGI, 19 Desember 2021

MANGALAHAT.

Pengertian.

Mangalahat bersumber dari kata dasar “lahat”. Lahat itu artinya giring, mangalahat adalah kata kerja yang artinya, sesuatu kegiatan menggiring kerbau atau lembu ke tiang “lahatan”. Lahatan itu disebut “borotan” atau tambatan.


Borotan.

Borotan dalam pengertian mangalahat horbo adalah tujuan untuk menambatkan kerbau tersebut. Borotan itu adalah lambang “hau sangkamadeha” yang diartikan memiliki cabang membentang yang menjadi radius lingkaran yang terbentuk oleh ujung ujung cabang itu. Batangnya sendiri adalah tegak sampai kepucuk, yang melambangkan “hau sundung dilangit”. Lanjutkan membaca “MANGALAHAT HORBO DALAM TRADISI BATAK”

Warna Batak dan Teori Freud

Jones Gultom

Arus utama kebudayaan adalah universalisme. Dapat kita lihat dari keterkaitan antarproduk kebudayaan, bahkan lintas negara. Apalagi jika menyangkut nilai-nilai yang dikandungnya. Namun sayang, seringkali nilai-nilai ini tak sempat digali. Baik dikarenakan ketakmampuan pemilik budayanya, atau akibat dari trend keseragaman global.

Contohnya adalah warna Batak (Toba). Seperti kita tahu, ciri khas warna Batak adalah hitam-putih-merah. Warna-warna ini akan bermakna bila susunannya tepat. Jika bentuknya piramida, maka merah adalah yang paling dasar. Selanjutnya putih, kemudian hitam pada bagian atas. Begitu juga bila dipakai dalam seni ukir atau lazim disebut gorga.Ornamen-ornamen kecil adalah merah, yang sisinya putih. Sedangkan bagian penampang berwarna hitam. Memang aturan ini terkesan kaku. Namun jika orientasinya berdasarkan nilai, maka harusnya pakem-pakem itu dipatuhi. Secara simbol, masing-masing warna itu dapat kita artikan sebagai berikut.

Lanjutkan membaca “Warna Batak dan Teori Freud”

Musik Ekologis dalam Kebudayaan Batak Toba

Jones Gultom

Berbicara tentang musik Batak Toba, tidak terlepas dari berbagai aspek. Seperti kita tahu, fungsi musik bagi bangsa ini, selalu terkait dengan ritus-ritus yang bersifat spiritual. Ia dipakai dalam upacara-upacara tertentu. Sebagaimana ciri kosmologis mereka, orang Batak Toba mendasarkan pengalaman empiris dan sipritualitas mereka, salah satunya melalui musik. Itu sebabnya, status sosial pemusik Batak Toba, mendapat tempat khusus di masyarakat. Mereka dianggap sosok pandai yang terpilih. Yang mempunyai kepekaan khusus dalam memandang hidup dan alam sekitarnya. Bahkan dalam konteks yang lebih sakral mereka disebut sebagi manifestasi Batara Guru. Batara Guru sendiri adalah satu dari trinitas dewa tertinggi Batak Toba (Batara Guru-Bala Bulan-Bala Sori) yang salah satu tugasnya menjadi mediator manusia dengan Mulajadi Nabolon ( Sang Pencipta).

Lanjutkan membaca “Musik Ekologis dalam Kebudayaan Batak Toba”

Sumbangan Kebudayaan Batak Untuk Lingkungan

Jones Gultom

Dasar kebudayaan orang Batak (Toba) adalah penghormatan atas seluruh makhluk hidup. Bahkan bukan hanya fisikal, tetapi kadang juga yang bersifat spiritual. Landasannya berdasarkan regalia atas pengakuan akan relasi mikrosmos dengan makrokosmos. Tujuannya, menciptakan keharmonisan antara mikrosmos (jagat kecil-manusia) dengan makrosmos (jagat besar-lingkungan). Itulah sebabnya, dalam spiritualitas Batak, dikenal tokoh-tokoh suci (disebut malim) yang bertugas menyelaraskan itu. Hal inilah yang diyakini oleh masyarakat Parmalim (Penganut Ugamo Malim; Agama Batak) sebagai usaha untuk mengharmoniskan konsep (buatan) manusia dengan konsep alam.

Lanjutkan membaca “Sumbangan Kebudayaan Batak Untuk Lingkungan”

Simanjuntak Sitolu Sada Ina

Ir.Sahala Simanjuntak ( S15 )

Manatap ahu sian Dolok Tolong

Punsu na i mual Palangka Gading

Sian i tangkas tarida Hutabulu

Tano malambut tano pangareahan

Tano siogungogung di pomparanna

Mardaup, Sitombuk, Hutabulu

Hupasahat somba daulat

Tu raja ni na bisuk

Tu raja ni na malo

Ait adong na pasintak patebur

Songon sabesabe ni na hurang malo

Hurang ahu dihata hurang dipangalaho

Hamu anak ni raja hamu anak ni na malo

Tuturi ajari ahu.

Aspek dasar spiritualisme suku bangsa Batak Toba

Sahala Simanjuntak

Langit napitu tindi, Ombun napitu lampis

Mempunyai batas tak bertepi :

Pembahasan  spiritualisme Batak ini lebih termakna dari dasar spiritualisme Batak Toba tetapi tidak menutup kemungkinan persamaan pemahaman dengan suku bangsa Batak secara keseluruhan (Karo, Simalungun, Pakpak/Dairi, Angkola /Mandailing), yang membedakan kemungkinan hanyalah segi bahasa. Apa itu spiritualisme? Dasar katanya adalah spirit, yang biasa diterjemahkan dengan Roh atau Semangat. Spirit telah ada pada diri manusia sebelum dia dilahirkan kemuka bumi ini, yaitu adanya nilai-nilai yang mendorong seseorang mengarah kepada dunia dan merespon dunia secara etis. Pengalaman manusia ini setelah ianya dilahirkan kedunia melampaui apa yang diajarkan agama, rumusan dogma serta ketaatan ritual. Ada 3 kemampuan yang berperan penting dalam proses selektifitas ini, yaitu kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual.  Kecerdasan spiritual diperlukan untuk memampukan seseorang bertindak etis.

Lanjutkan membaca “Aspek dasar spiritualisme suku bangsa Batak Toba”

Prasasti Dolok tolong

Humala Simanjuntak

Eksistensi prasasti Dolok Tolong dinyakini merupakan bukti utama atas persinggungan budaya batak dengan pradaban Hindu dan Budha di Indonesia. Prasasti Dolok Tolong merupakan Prasasti atas existensi, orang Majapahit di Tanah Batak

Saat itu Pasukan Marinir Kerajaan Majapahit, mengalami kekalahan pahit di Selat Malakka, mereka melalui Sungai Barumun menyelamatkan diri ke daratan Sumatera sampai ke suatu daerah di Portibi Tapanuli selatan, Disana mereka dicegat, di hadang masyarakat, sehingga mereka melanjutkan pelarian kearah utara ke Bukit Dolok Tolong di daerah Tampahan Balige. Di Gunung itulah mereka meminta suaka politik kepada seorang Raja dari Rumpun Marga Sumba (Isumbaon), yaitu Tuan Sorbadibanua yang saat itu menguasai daerah tersebut.

Lanjutkan membaca “Prasasti Dolok tolong”

Identitas ‘Batak’ dalam Konteks Etnisitasnya

Jones Gultom.

BICARA tentang "Batak" sebagai identitas etnik, memang cukup kompleks. Dari asal-usul penyebutan kata "Batak" saja, sudah beragam serta sering menuai kontroversi. Hampir secara umum, menyebutkan, kata "Batak" merupakan stereotif negatif yang dilabelkan oleh orang non "Batak" terhadap sebuah kelompok masyarakat yang berdiam di tempat tertentu.

Lanjutkan membaca “Identitas ‘Batak’ dalam Konteks Etnisitasnya”