Seorang putra Batak, Merdi Sihombing sejak setahun yang lalu sibuk mempersiapkan pengembangan ulos/songket Batak di bonapasogit utk persiapan show tahunan yang II setelah The FORBIDDEN BADUY 2006. Salah satu dari 12 fashion Designer Indonesia yg ditunjuk oleh Pemerintah {Departemen Perindustrian} utk pengembangan kain tenun tradisional Indonesia komoditi songket/ikat untuk daerah Provinsi SUMUT thn 2007.
Apa harapannya dalam menghargai nilai warisan budaya tersebut?MERDI SIHOMBING
[Ethnical Fashion & Textile Designer]
Kategori: Journal
MONUMEN PERANG DI PORSEA
MONUMEN SRIKANDI PUTRI LOPIAN DAN PRASASTI PERANG DUNIA II
Ada dua monumen bersejarah di temukan di kota Porsea. Satu mengisahkan pejuangan Sisingamangaraja dan satu lagi peristiwa perang dunia ke II di Porsea.
Kalimat dalam Prasasti Monumen Srikandi Lopian :
Seorang gadis belia yang ikut berjuang dan berkorban melawan penjajah Belanda, gugur dalam pertempuran tanggal 17 Juni 1907 di Aek Sibulbulon Pearaja Dairi, di adalah Putri Lopian.
Ayahandanya Raja Sisingamangaraja XII, saudaranya Patuan Nagari dan Patuan Anggi gugur bersama pejuang lainnya dalam pertempuran tersebut.Lopian adalah anak ke-3 yang dilahirkan oleh ibunda Boru Sahala, lahir di Pearaja Dairi desa Sionomhudon yaitu ibukota perjuangan Raja Sisingamangaraja XII setelah Bakkara dan Lintong. Disinilah Lopian tumbuh menjadi dewasa dan tumbuh berjiwa pejuang karena sehari-hari bergaul dengan pejuang termasuk Teuku Nyak Bantal dan Teuku Muhammad Ben, para panglima dari Aceh.
Pada awal tahun 1907 pasukan Belanda mulai mendekati Pearaja Dairi karena Raja Sisingamangaraja XII bertekad mempertahankan Pearaja Dairi maka seluruh keluarga kaum wanita dan anak-anak harus menyingkir dari daerah itu, tetapi Lopian yang pada waktu itu anak gadis berusia 17 tahun tidak mau ikut menyingkir karena ia berkeras hati tetap harus ikut berperang melawan penjajah Belanda.
Dalam pertempuran tanggal 17 Juni 1907 di Aek Sibulbulon Pearaja Dairi seluruh pejuang yang berpantang menyerah itu gugur karena jumlah dan persenjataan yang tidak sebanding dengan pasukan Belanda.
Oleh pasukan Belanda, jenazah Raja Sisingamangaraja XII, jenazah putranya Raja Patuan nagari dan Raja Patuan Anggi dibawa melalui Tele ke Balige dan kemudian dikuburkan di Tarutung. Sedang jenazah Lopian Boru Sinambela ditinggalkan dengan ditimbun dalam jurang bersama panglima dari Aceh.
Dan tinggallah Lopian di hutan Pearaja Dairi.Porsea 25 Oktober 2005
Prasasti ini dipersembahkan oleh Prof. Dr. T. Sinambela. K
PRASASTI PERANG DUNIA II
PADA TANGGAL 9 – 10 MARET 1942 SEMASA PERANG DUNIA KEDUA, DITEMPAT INI … TERJADI PERTEMPURAN SENGIT UNTUK PEREBUTAN JEMBATAN ASAHAN.
SEMBILAN SERDADU KETURUNAN BELANDA DAN BEBERAPA ANGGOTA PASUKAN JEPANG TERBUNUH DAN SUNGAI ASAHAN MENJADI TEMPAT KUBURANNYA
MASING-MASING MEMPERTAHANKAN KEMAUANNYA.PERANG HANYA MEMBAWA KEHANCURAN BAGI MANUSIA
SEMOGA PERANG TIDAK TERULANG LAGIPERSAUDARAAN ANTAR BANGSA-BANGSA
BERDASARKAN PANCASILA
MENJAMIN PERDAMAIAN ABADI
Prasasti ini dibangun oleh Dinas Pariwisata Propinsi Daerah TK I SU
Diresmikan tanggal 16 November 1997
Peristiwa Perang Porsea
Pada bulan Pebruari 1942, sebanyak satu kompi (± 200 orang) pasukan Belanda telah bermarkas di gedung Sekolah Dasar (Vervolg School) Porsea, yang terletak di desa Parparean sebelah selatan kota Porsea. Pada tiang-tiang jembatan diikatkan dinamit-dinamit berukuran besar dan dihubungkan dengan kawat listrik ke suatu pusat di gedung sekolah dasar tersebut, dengan maksud agar setiap saat, jembatan tersebut dapat diledakkan melalui alat pemicu ledak.
Pada akhir bulan Pebruari 1942, tentara Jepang telah menduduki kota Medan dan pada Minggu pertama bulan maret, mereka telah sampai di Parapat. Pada waktu yang sama, tentara Belanda terus mundur melalui jembatan Porsea kea rah Selatan, pada waktu itu, setiap hari siang dan malam, rakyat Porsea menyaksikan patroli pasukan Belanda dari Porsea kearah Barat yaitu Ulubius, Lumban Manurung hingga Janjimatogu.
Pada tanggal 09 Maret 1942 sore hari antara jam 18.00 dan 19.00, rakyat janjimatogu melihat dua buah kapal yang mirip kapal karet mengapung di danau Toba,bergerak kea rah sungai Asahan. Sekitar jan 20.00, rakyat desa Lumban manurung melihat pasukan Jepang mendarat dan keluar dari kapal karet. Beberapa orang tentara Jepang berenang pada malam itu sampai dibawah jembatan dan memotong seluruh kawat-kawat penghubung dinamit. Semua itu berlangsung sebelum terdengar tembakan.
Sekitar jam 21.00 seorang patroli Belanda bersepeda motor dari arah utara tiba di Porsea dan berhenti di hadapan jembatan. Patroli ini memberi isyarat dengan lampu sepeda motornya kepada tentara Belanda di seberang jembatan dan ketika itu dia tertembak dengan letusan pertama pada malam itu. Letusan itu menjadi isyarat bagi pecahnya perang tembak menembak antara tentara Belanda dan tentara Jepang di sekitar jembatan Porsea.
(Dikutip dari penuturan Prof. Dr Midian Sirait dan Prof. Dr Firman Manurung)
——————————————————————————————–
Porsea banyak menyimpan kenangan masa lalu. Yang berusia 50 tahun saat ini mungkin masih mengingat popularitas onan Porsea yang disebut “onan tombis”. Ciri pekan kita adalah padat dan sesak, sehingga para anak muda menyempatkan diri masuk di kerumunan sesak itu untuk bersenggolan dengan para gadis. Waaahhh…. ada juga yang kecantol … berlanjut…. dan jadian…. Siapa berani ngaku…?
Itulah kondisi saat itu dan masih dalam koridor tata krama dan menjadi pandangan yang lucu bagi para orang tua.
Porsea selain monumen perang, juga seperti apa yang dikatakan Forum Tapanuli sangat kritis terhadap pelestarian lingkungan hidup dan menentang pengoperasian Indorayon yang saat ini ganti nama menjadi TPL.
Cagar budaya batak dapat juga di klaim porsea, karena masih banyak situs budaya ditemukan seperti sarkofagus, rumah tradisional, kisah kisah legenda dan panorama alam yang indah.
Porsea juga banyak menyimpan potensi seniman batak seperti “pargonsi” paerajin tenun dan panggorga.
Horas Porsea, Horas Tano batak, Horas Bangso Batak.
AKU, ANAKKU DAN NOVEL SORDAM
Monang Naipospos
Setelah novel SORDAM kuterima tgl 03 Mei 2007 langsung dari penulisnya Lae Suhunan Situmorang di Jakarta, saya berkeinginan mengomentari isi novelnya itu. Setibanya di Toba, saya melanjutkan membaca yang belum tuntas selama dalam perjalanan.
Melayang diatas Danau Toba
Perkara “Pahabang Losung” sudah terkenal di Tanah Batak. Namun terbang melayang, apalagi sambil memandang Danau Toba yang indah belum ada pengalaman.
Para penerbang “gentolle” ini berasal dari Pulau Jawa dan sebagian dari Kota Medan. Mereka memanfaatkan lokasi stategis di Hutaginjang Kabupaten Tapanuli Utara. Pertandingan ini dilaksanakan sejak Selasa hingga Sabtu 2 Juni 2007.
Menurut pelatih terbang layang ini, Dolok Tolong di Kabupaten Tobasa juga strategis untuk permainan ini.
Masyarakat yang menyaksikan permainan/pertandingan ini cukup terpukau, dan berteriak….mengikuti suara peserta…. go….. go …… go….
Tautan :
Panorama Danau Toba
Memandang dari Sipinsur
Masihol tu Muara
Memandang dari Dolok Tolong
HARKTNAS DI HAMBURG
HARKTNAS 20 Mei 1908-2007
DI KJRI HAMBURG
(Catatan : ND HUTABARAT – Hamburg – Jerman)
INFO
Harktnas, Hari Kebangkitan Nasional, (Indonesia) 20 Mei 1908 telah diselenggarakan KJRI Hamburg Hari Senin 21 Mei 2007 Hari Kerja Jam 14.00 diikuti Seluruh Staf KJRI, mengundang nyata hadir dari Ikatatan Alumni Indonesia IASI saja dari Organisasi Masyarakat. Dari IASI hadir seorang dari Pimpinan dan bersama saya juga 2 Orang, Ibu Toda dan Ibu Narang-Huth. Beberapa waktu lalu Konjen RI Dermawan telah memperkenalkan diri kepada masyarakat Indonesia dan Lembaga- Lembaga dan tamu Jerman dihadiri sangat banyak. Terutama Konjen asal kelahiran Aceh, sekaligus menyatakan terimakasih banyak kepada Masyarakat di Jerman, telah memberikan Dana Bantuan Besar pada Korban Bencana Alam Tsunami khususnya di Aceh, langsung dialami beliau dari Deplu Tugas Kordinator di Aceh beberapa waktu.
Sisingamangaraja
Untuk renungan menjelang peringatan 100 tahun Raja Sisingamangaraja XII
Kutipan dari tulisan PANGGORGA (A. Morlan Simanjuntak ) Desa Hutabulu Balige
…………. Raja Parbaringin di daerah Toba mempunyai kedudukan tertinggi di dalam bius mengenai soal-soal adat, pembagian tanah melaksanakan upacara persembahan tahunan kepada TUHAN atau dalam bahasa belanda JAARLITKS OFFER FEEST. Raja Parbaringin pada satu-satu waktu bertindak selaku wakil dari Sisingamangaraja di dalam bius berhak dan mampu meminta hujan di musim kemarau atas nama Sisingamangaraja.
BATU MARPINGKIR DI LAGUBOTI
Untuk memenuhi permintaan pengunjung halaman batu marpingkir pada blog ini yaitu penambahan gambar Laguboti, sebagian kami tambahkan.
Balairung Balige
Bangunan ini dibuat pada jaman Belanda. Dipenuhi ornamen gorga batak yang indah dari berbagai wilayah Toba. Setiap bangunan mewakili ciri daerah Tanah Batak Toba. Lanjutkan membaca “Balairung Balige”