DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMARAN AIR DANAU TOBA

Monang Naipospos

      Sehubungan dengan adanya isu berkembang tentang adanya perusahaan yang hendak melakukan investasi Keramba Jala Apung di Danata Toba yang saat ini sedang berusaha mendapatkan Ijin Prisnsip dari Pemerintah Daerah Kabupaten Toba Samosir, tergerak hati melakukan konsultasi dengan Badan Lingkungan Hidup Propinsi Sumatera Utara di Medan.

Lanjutkan membaca “DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMARAN AIR DANAU TOBA”

Dari Samosir untuk Indonesia

Jones Gultom

Beberapa hari merasakan atmosfer Samosirr, seperti membuka catatan-catatan sejarah yang mulai rapuh kertasnya. Ada danau, tapi masyarakat kekurangan air. Dikelilingi pegunungan, tetapi udara kosong melompong. Ada lembah-lembah, tapi tak bisa bercocok tanam. Ada petani, tetapi tak ada lahan yang bisa dikerjakan.

Lanjutkan membaca “Dari Samosir untuk Indonesia”

Sumbangan Kebudayaan Batak Untuk Lingkungan

Jones Gultom

Dasar kebudayaan orang Batak (Toba) adalah penghormatan atas seluruh makhluk hidup. Bahkan bukan hanya fisikal, tetapi kadang juga yang bersifat spiritual. Landasannya berdasarkan regalia atas pengakuan akan relasi mikrosmos dengan makrokosmos. Tujuannya, menciptakan keharmonisan antara mikrosmos (jagat kecil-manusia) dengan makrosmos (jagat besar-lingkungan). Itulah sebabnya, dalam spiritualitas Batak, dikenal tokoh-tokoh suci (disebut malim) yang bertugas menyelaraskan itu. Hal inilah yang diyakini oleh masyarakat Parmalim (Penganut Ugamo Malim; Agama Batak) sebagai usaha untuk mengharmoniskan konsep (buatan) manusia dengan konsep alam.

Lanjutkan membaca “Sumbangan Kebudayaan Batak Untuk Lingkungan”

Menguatkan Wacana Geopark Toba

Jones Gultom

WACANA Geopark Toba, terkesan kesepian! Meski sudah bergulir kurang lebih 3 tahun, reaksi pemerintah masih terbilang rendah. Padahal gagasan ini, termasuk salah satu cara untuk menyelamatkan Danau Toba berikut kawasan-kawasan penyanggahnya, dari eksploitasi besar-besaran yang terjadi selama ini. Seperti yang disosialisasikan sebelumnya, semangat yang mendasari geopark adalah integrasi pengelolaan warisan geologi (geological heritages) dengan warisan budaya (cultural heritages) di suatu daerah. Geopark mengandung beberapa aspek penting karena di dalamnya ada unsur konservasi, edukasi dan sustainable development.

Seperti yang kita ketahui, konsep ini dikembangkan pertama kali di Eropa sejak tahun 1999 dan mendapat dukungan dari UNESCO. Saat ini sedikitnya sudah ada 78 wilayah di 21 negara yang sudah ditetapkan sebagai geopark. Semua kawasan tersebut dihuni manusia yang hidup berdampingan dengan alam, memanfaatkan alam secara bijaksana bagi kelangsungan manusia.

Lanjutkan membaca “Menguatkan Wacana Geopark Toba”

Hentikan Eksploitasi Danau Toba

Jones Gultom

Limbah Sehari = 77 Tahun Pencemaran

PASCA kunjungan Duta Besar (Dubes) Swiss untuk Indonesia, Heinz Walker Nederkoorn 21-23 Januari 2013 lalu, menyisakan kecurigaan sekaligus kekecewaan di kalangan pecinta Danau Toba. Maklum di tengah maraknya penolakan terhadap PT. Aquafarm Nusantara (AN), pejabat daerah ini, justru memohon PT milik Swiss ini, menambah investasi (Kerambah Jaring Apung) di Danau Toba. Padahal jelas-jelas usaha kerambah itu telah mencemari danau volcano-tektonik terbesar di dunia ini.

Lanjutkan membaca “Hentikan Eksploitasi Danau Toba”

Danau Toba Milik Warga Dunia

Jones Gultom*

Beberapa bulan terakhir ada dua isu penting terkait Danau Toba. Pertama, soal dukungan danau vulkano ini sebagai geopark. Kedua, terkait penolakan perpanjangan izin operasi PT Aquafarm. Menyangkut geopark, Danau Toba memang sudah diusulkan pemerintah menjadi geopark bersamaan dengan Danau Batur, Pacitan dan Raja Ampat.

Menyusul kemudian Taman Nasional Gunung Rinjani. Namun baru Danau Batur, Pacitan dan Taman Nasional Gunung Rinjani yang masuk nominasi. Raja Ampat dan Danau Toba masih dalam tahap penjajakan lebih lanjut. Karena itu sudah sepatutnya seluruh elemen masyarakat Indonesia bersatu membangun opini serta memberikan kontribusi sosialnya untuk mewujudkan visi ini.

Lanjutkan membaca “Danau Toba Milik Warga Dunia”

Investasi Bisnis versus Hak Adat

 

Nestor Rico Tambunan

Keadilan, kata pengarang Prancis Emile Zola, tak mungkin ada kecuali dalam kebenaran. Dan kebahagiaan tak mungkin ada, kecuali dalam keadilan.

Kebenaran ucapan Emile Zola ini akan amat terasa bila merenungi nasib masyarakat adat di berbagai belahan bumi Nusantara saat ini. Perusahaan-perusahaan besar terus menerobos deras menanam investasi sampai ke jantung pemukiman suku-suku dan masyarakat adat, menguasai tanah dan segala kekayaannya, dan memarjinalkan hak-hak ulayat masyarakat adat setempat.

Masyarakat-masyarakat adat semakin tersingkir dan dimiskinkan. Padahal, masyarakat-masyarakat itu sudah turun-temurun hidup di sana, jauh sebelum perusahaan itu ada, bahkan sebelum negeri ini berdiri.

Lalu, dimana kebenaran dan keadilan?

Lanjutkan membaca “Investasi Bisnis versus Hak Adat”

siapa tuan di danau toba?

 

Mja Nashir

Nashir Di tepi kapal aku berdiri memandangi danau Toba. Dua perahu mesin mengapung di depanku. Di atasnya para lelaki berompi memanen ikan dari keramba-keramba besar yang bertebar di atas danau Toba. Keramba-keramba yang menguasai danau Toba dalam skala besar itu kabarnya adalah milik perusahan asing. Meskipun ada beberapa yang milik swasta setempat. Konon ikan-ikan Nila dari danau Toba ini rasanya enak. Namun yang jelas untuk konsumsi luar negri.

Lanjutkan membaca “siapa tuan di danau toba?”