Catatan untuk para pengagum I.L. Nommensen

Limantina Sihaloho*

Di luar sudah sepi dan mulai gelap padahal baru pukul 4:00 sore. Dingin. Pohon-pohon meranggas tanpa daun kecuali cemara. Saya berjalan cepat-cepat menuju ruangan yang hangat. Waktu itu awal Desember 2006 di Christian Jensen Kolleg, Breklum, Jerman. Saat berjalan itu, pikiran saya tak dapat lepas dari Ingwer Lodewijk Nommensen ( 1834 – 1918 ) yang terkenal karena dedikasinya mengkristenkan suku bangsa Batak. Kampungnya di Noordstrand, sekitar 20 menit naik mobil dari Breklum. Pikiran saya dipenuhi pertanyaan: Bagaimana kira-kira keadaan Noordstrand pada abad ke-19? Bagaimana kehidupan orang-orang miskin seperti I.L. Nommensen dan keluarganya di era di mana listrik belum ada? Alangkah beratnya hidup di Eropa terutama di musim dingin pada zaman itu terlebih-lebih bagi orang-orang miskin seperti keluarga Nommensen.

Lanjutkan membaca “Catatan untuk para pengagum I.L. Nommensen”

GONDANG BATAK WARISAN YANG KURANG DIHARGAI

Mark Kenyton

Kalau kita dengar istilah “musik Batak”, apakah yang muncul dalam pikiran kita? Istilah “Batak” berkenaan dengan sesuatu bangsa besar yang mengandung beberapa suku yang kebudayaannya dan bahasanya berhubungan, tetapi juga berbeda. Bangsa Batak termasuk suku Batak Toba, Karo, Simalungun, Pakpak-Dairi, Mandiling, dan Angkola. Menurut kebiasaan di Indonesia, kalau kita dengar kata “Batak” kita biasanya pikir tentang kebudayaan Batak Toba. Kemudian, kecuali kita yang bekerja dalam suasana anthropolog atau etnomusikolog, istilah “musik Batak” hampir selalu disamakan dengan musik Batak Toba.
Lanjutkan membaca “GONDANG BATAK WARISAN YANG KURANG DIHARGAI”