Identitas ‘Batak’ dalam Konteks Etnisitasnya

Jones Gultom.

BICARA tentang "Batak" sebagai identitas etnik, memang cukup kompleks. Dari asal-usul penyebutan kata "Batak" saja, sudah beragam serta sering menuai kontroversi. Hampir secara umum, menyebutkan, kata "Batak" merupakan stereotif negatif yang dilabelkan oleh orang non "Batak" terhadap sebuah kelompok masyarakat yang berdiam di tempat tertentu.

Lanjutkan membaca “Identitas ‘Batak’ dalam Konteks Etnisitasnya”

Quichote Menunggu Godot

Sulaiman Sitanggang  (CEPITO 010)

 

"Bagaimana jadinya, ya?" Ucapmu, di penghujung senja saat mata-langit mengatup ke balik bukit. Tak lupa memancarkan sinarnya yang tinggal satu-satu. Sinar terakhir pada hari itu. Tidak ada hari yang sama di bawah matahari yang sama, bukan? Hari berganti bulan berganti tahun. Semua bergerak, tak pernah sama. Pendar keindahan itu seperti berkata-kata melalui lukisan sore. Membisikkan isyarat pertemuan dan perpisahan yang dicari-cari pencinta senja. Nikmatilah untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Sebuah desis halus yang menyiksa perindu keindahan. Nyaring berkumandang di sudut-sudut kawasan kaldera tua dan terbesar di dunia ini. Sebuah negeri yang berbatas kabut di pagi hari, beratap bintang di malamnya. Gunung-gunung  berlomba menyelonjorkan kakinya ke permukaan danau hingga tampak seperti lekuk-lekuk yang melenakan sekaligus menggairahkan. Bukit-bukit disini, tinggi menjulang langit, jatuh menghujam di kedalaman Danau Toba, salah satu danau yang memiliki kedalaman yang masyhur ke seluruh dunia.

Lanjutkan membaca “Quichote Menunggu Godot”

Investasi Bisnis versus Hak Adat

 

Nestor Rico Tambunan

Keadilan, kata pengarang Prancis Emile Zola, tak mungkin ada kecuali dalam kebenaran. Dan kebahagiaan tak mungkin ada, kecuali dalam keadilan.

Kebenaran ucapan Emile Zola ini akan amat terasa bila merenungi nasib masyarakat adat di berbagai belahan bumi Nusantara saat ini. Perusahaan-perusahaan besar terus menerobos deras menanam investasi sampai ke jantung pemukiman suku-suku dan masyarakat adat, menguasai tanah dan segala kekayaannya, dan memarjinalkan hak-hak ulayat masyarakat adat setempat.

Masyarakat-masyarakat adat semakin tersingkir dan dimiskinkan. Padahal, masyarakat-masyarakat itu sudah turun-temurun hidup di sana, jauh sebelum perusahaan itu ada, bahkan sebelum negeri ini berdiri.

Lalu, dimana kebenaran dan keadilan?

Lanjutkan membaca “Investasi Bisnis versus Hak Adat”

Api Nan Tak Kunjung Padam

 

Sulaiman Sitanggang  (Cepito 006)

Adalah kalimat yang ditorehkan para cendekiawan bumi persada ini bahwa pembangunan tidak akan berhasil apabila di dalam masyarakat yang sedang membangun itu sendiri tidak ada api semangat. Yang menjadi sumber pendorong, memotivasi masyarakat yang bersangkutan untuk senantiasa membangun dirinya sendiri secara berkesinambungan.

Lanjutkan membaca “Api Nan Tak Kunjung Padam”

Batak dan Postkolonialisme

Jones Gultom

Saya menyadari semangat dan nafas tulisan Arief adalah bentuk pencarian makna kata "Batak" tanpa tendensi apapun, seperti yang berusaha ia "dirikan" dalam diskusi Karo bukan Batak itu. Terasa sangat kental pula apa yang hendak digugat; ketika ia masuk dalam terminologi "Postkolonialisme di Indonesia" versi Prof. Dr. Nyoman Kutha Ratna.

Lanjutkan membaca “Batak dan Postkolonialisme”

BATUK SINABUNG, TOBA DAN BLACK HOLE

Jones Gultom

sinabungSangat rasional jika “batuknya” Sinabung dikaitkan sebagai indikasi akan ketakseimbangan sturuktur bukit barisan yang mengakar sampai ke pesisir Sumatera. Dan amat logis pula, jika kemudian kekhawatiran terbesar adalah dampaknya terhadap konsistensi penopang Danau Toba seperti dilansir beberapa media, mengutip pridiksi ilmuwan. Apalagi wacana menyebut, Samosir kini retak, rawan terbelah dua. Getaran Sinabung tentu membentuk pola baru dalam lapisan tanah, di persekitaran Danau Toba.

Lanjutkan membaca “BATUK SINABUNG, TOBA DAN BLACK HOLE”

untuk Cinta Danau Toba, Tak Hanya Diam

Sulaiman Sitanggang (CEPITO 003: judul Asli : Tak Hanya Diam)

 

Ada yang menyeru dalam relung terdalam. Menyusup di pelataran hati yang riuh oleh jaman. Dia yang merajut rindu akan sebuah pertemuan. Menguntai cinta dalam isyarat tak berujung. Rindu ini hanya kepadamu. Cinta ini hanya untukmu. O Danau Toba.

Namun mengapa, Anginmu hanya diam? Tak kah kau ijinkan aku mengarungi ombakmu?

Lanjutkan membaca “untuk Cinta Danau Toba, Tak Hanya Diam”