Nilai Keberadaan Hutan Sebagai Penyangga Kehidupan

Adonia Sihotang
[Pertahankan Hutan di Ramba Partungkot Na Ginjang di Kab. Samosir]

Hutan merupakan penyangga kehidupan, sehingga harus dimanfaatkan dengan bijak. Hutan mampu memproduksi oksigen (O2) yang kita hirup. Di sekolah dasar diajarkan, bernapas adalah menghirup O2 dan mengeluarkan CO2. Nah, O2 yang kita hirup ini dihasilkan oleh tumbuhan. Fungsi lain dari hutan adalah menyerap gas karbon dioksida (CO2) sebagai salah satu gas penyebab global warming. Saat transpirasi (bernapas) tumbuhan justru berlaku sebaliknya dengan manusia. Tumbuhan justru menghirup CO2 dan mengeluarkan O2. Makanya terasa segar saat duduk sejenak berteduh di bawah rindangnya pohon Mahoni dan Angsana di Taman Surapati, mengasingkan diri sejenak dari kebisingan kota Jakarta yang tingkat pencemaran udaranya nomor tiga di dunia.
Lanjutkan membaca “Nilai Keberadaan Hutan Sebagai Penyangga Kehidupan”

Tung Mansai Arga do Tao Toba di Halak Batak

Adonia Sihotang

Na di tanggal 9 bulan Agustus 2008 taon na salpu, ibotanta Sylvia Sipayung mambahen sada tulisan do di blog Bersama Toba.Com. Songon on ma judul ni surat i : TOHO DO ARGA TAO TOBA DI AKKA HALAK KITA ? Tung malo do ibotonta on mamillit judul ni surat i, suang songoni nang dohot isina. Sungkun-sungkun i tung pas situtu, tarlumobi ma di tingki saonari on, siala di angka parungkilon na ditaonton tao na uli i.
Lanjutkan membaca “Tung Mansai Arga do Tao Toba di Halak Batak”

DPRD 2009-2014 Akankah Membawa Perubahan?

Roy R. Simanjuntak*)

Saat yang dinanti-nanti itu telah tiba, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) periode 2009-2014 seluruh Indonesia telah dilantik. Tentu membahagiakan dan sepatutnya pula memunculkan rasa syukur yang besar. Perjuangan panjang yang melelahkan dan membutuhkan banyak biaya sejak masa mendaftar sebagai calon anggota legislatif sampai saat-saat kampanye dan mengawal perhitungan suara, tertebuslah sudah.
Lanjutkan membaca “DPRD 2009-2014 Akankah Membawa Perubahan?”

Lelaki yang Ingin Dikubur di Samosir itu Bernama Nahum Situmorang

Suhunan Situmorang

SUDAH 40 tahun ia wafat, namun namanya kian sering disebut-sebut. Lagu-lagu gubahannya pun tiada putus disenandungkan; menghibur orang-orang, menafkahi pekerja dunia malam, mengalirkan keuntungan bagi pengusaha hiburan dan industri rekaman. Tapi, orang-orang, khususnya etnis Batak dan yang familiar dengan lagu Batak, segelintir saja yang tahu siapa dia sesungguhnya. Ironisnya lagi banyak yang tak sadar bahwa sejumlah lagu yang selama ini begitu akrab di telinga mereka, lahir dari rahim kreativitas lelaki yang hingga ajalnya tiba tetap melajang itu.
Lanjutkan membaca “Lelaki yang Ingin Dikubur di Samosir itu Bernama Nahum Situmorang”

STOP PERAMBAHAN HUTAN KEMENYAN DI HUMBANG HASUNDUTAN

Benget Silitonga

HENTIKAN KRIMINALISASI TERHADAP RAKYAT

Praktik Kriminalisassi Kepolisian Ressort Humbang Hasundutan (Humbahas) terhadap rakyat (Petani Kemenyan) di Pandumaan dan Sipituhuta yang sedang berkonflik dengan PT. Toba Pulp Lestari (TPL) tampaknya masih akan terus berlangsung. Menurut informasi yang kami terima, 7 (tujuh) orang petani kemenyan yang memperjuangkan haknya kembali dijadikan sebagai tersangka baru, sesuai dengan surat Polres Humbahas tgl 28 Agustus 2009. Mereka adalah Jibbo Sihite, 45 tahun, Anto Nainggolan, 25 tahun, Ama Ritta Sitanggang, 40, Jabonar Munthe,40, Jahot Situmorang, 40 tahun, Urupan Sinambela, 50 tahun, dan Tipak Nainggolan 25 tahun. Lanjutkan membaca “STOP PERAMBAHAN HUTAN KEMENYAN DI HUMBANG HASUNDUTAN”

Haminjon-Batak, Riwayatmu Kini…!

Limantina Sihaloho

Konon, kemenyan yang dibawa orang-orang bijak dari timur (majus) kepada Yesus di palungan di Betlehem berasal dari Tanah Batak. Ini saja sudah lebih dari cukup untuk membuat saya ingin melihat langsung seperti itu pohon kemenyan. Begitulah, saya sampai di Sipituhuta pada awal bulan ini untuk melihat pohon kemenyan mereka.
Lanjutkan membaca “Haminjon-Batak, Riwayatmu Kini…!”

Sikap Orang Batak terhadap Lingkungan

Limantina Sihaloho

“Sebelum agama Kristen masuk di Tanah Batak, pohon-pohon besar itu masih berdiri; setelah agama Kristen masuk, pohon-pohon besar itu ditebangi antara lain untuk membuktikan bahwa pohon itu tak mempunyai kekuatan apapun”, begitu kata salah seorang teman kelas saya yang kebetulan orang Batak di Fakultas Teologia Universitas Kristen Duta Wacana di pertengahan tahun 1990-an. Kala itu, istilah global-warming masih jauh dari telinga dan wacana publik. Jogja pada waktu itu masih relatif dingin malah; tidur pada malam hari masih perlu pakai selimut. Di awal 2000-an Jogjakarta telah berubah menjadi gerah, sumuk. Seperti Pematang Siantar pada masa sekarang ini yang juga sudah bertambah panas walau jauh dari tepi laut.
Lanjutkan membaca “Sikap Orang Batak terhadap Lingkungan”

PLASTIK.. MAKANAN TERLEZAT ABAD INI

Dr Sabam JMT Simatupang

Perhatikan tempat makanan/minuman anda yang terbuat dari bahan plastik. Lihat bagian bawah wadah. Standart wadah plastik tempat makanan dan minuman dari bahan plastik harus mencantumkan kode resin plastik sehingga orang dapat menggunakannya sesuai kemampuan bahan plastik tsb. Bila tidak maka dapat mengakibatkan "bermigrasinya/lumer/larutnya" bahan2 plastik berbahaya ke dalam darah kita.Bisa terjadi gangguan penyakit saraf/hormonal, s/d kanker.

Lanjutkan membaca “PLASTIK.. MAKANAN TERLEZAT ABAD INI”

Pendidikan Kemajemukan bagi Warga Gereja

Eliakim Sitorus

Pluralitas atau kemajemukan adalah fakta atau kondisi beranekaragamnya masyarakat, baik fisik (rambut, warna kulit, postur tubuh), dan nonfisik seperti suku, bahasa, budaya, keyakinan dan sebagainya. Sedang pluralisme adalah paham dan sikap yang menghargai dan menghormati pluralitas tersebut. Di atas realitas keberanekaragaman itulah, negara ini didirikan oleh para pendahulu kita. Sekalipun ada upaya-upaya sepanjang sejarah negeri ini, untuk menafikan kepelbagaian itu alias ingin menyeragamkan semuanya, namun faktanya negara bangsa Indonesia masih berdiri utuh. Dan, inilah yang kita kehendaki sesungguhnya sebagai masyarakat Indonesia yang berdaulat hidup senang dan damai di dalam tanah air yang berdaulat pula. Lanjutkan membaca “Pendidikan Kemajemukan bagi Warga Gereja”