Apa yang perlu kita kembangkan ke depan ?

Mdiuk Hutabarat [ dari perjalanan ]

Horas ….
Pada 17 Juni 2008 kemaren, Kami 17 orang ; ada Raja Tonggo Tua Sinambela, Raja Parlagutan Sinembela dari Siantar, R.A.J. Sinambela dan keluarga Raja SM XIi di Balige dan di luar keturunan yaitu Panitia 100 tahun (lalu) gugurnya Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII melakukan Ziarah ke Tugu/Makam Ompung di Soposurung Balige.
Lanjutkan membaca “Apa yang perlu kita kembangkan ke depan ?”

PEREMPUAN BATAK MEMECAHKAN KEBISUAN

Monang Naipospos

Ketika Deak Parujar putri para Dewata minta kepada Mulajadi Nabolon untuk diberi ijin membentuk alam baru dan tinggal disana, cukup membuat para penghuni alam Dewata tercenung. Batara Guru mencemaskan kehendak putrinya itu dan mencoba untuk tidak dilanjutkan. Restu Mulajadi Nabolon tidak dapat menyurutkan niatnya atas permintaan Batara Guru yang sangat menyayanginya.
Lanjutkan membaca “PEREMPUAN BATAK MEMECAHKAN KEBISUAN”

APA YANG HARUS DILAKUKAN UNTUK DANAU TOBA ?

Monang Naipospos

Spirit otonomi daerah semula diharapkan mengembangkan partisipasi masyarakat dalam program-program pembangunan daerah. Tujuan pengembangan partisipasi masyarakat dalam hal ini adalah untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas program-program pembangunan. Oleh karena itu segenap potensi yang ada pada setiap daerah harus digali untuk menggali inisiatif masyarakat lokal dalam sebuah proses pembangunan.
Lanjutkan membaca “APA YANG HARUS DILAKUKAN UNTUK DANAU TOBA ?”

JANJI LINTONG KE BAKKARA

Monang Naipospos

Perlawanan seru Sisingamangaraja XII bersama pendukungnya terhadap Belanda semakin seru. Ada yang membuat hati sang ratu Belanda begitu geram. Entah siapa yang membuat surat atas nama Sisingamangaraja, masih kurang jelas. Sisingamangaraja tidak menulis suratnya sendiri dan stempel dipegang sekretarisnya yang disebut parmaksi.
Lanjutkan membaca “JANJI LINTONG KE BAKKARA”

BAKKARA, KELAHIRAN SANG RAJA

Monang Naipospos

Banyak yang sudah tau, bahkan dunia banyak mengenal namanya. Sisingamangaraja, Raja orang Batak. Beliau mengaturkan hukum, adat, ketetaprajaan dengan konsep bius yang disempurnakan. Beliau menegakkan HAM, membebaskan orang dari pasungan, memberi pengampunan hukuman bagi yang bertobat dari kesalahan.
Lanjutkan membaca “BAKKARA, KELAHIRAN SANG RAJA”

REFLEKSI, LIMA TAHUN KABUPATEN SAMOSIR

Monang Naipospos [Apa perubahan di Samosir ?]

Saudara Suhunan Situmorang kirim SMS kepada saya tentang adanya rencana Pemerintah Samosir untuk membabat hutan 2000 HA untuk dijadikan taman bunga proyek investor Korea. Saya terkejut dengan kebijakan itu. Saya belum bisa memastikan kebenaran itu hanya dengan melalui pesan singkat. Saya jadi terkenang awal masyarakat Samosir mengimpikan daerah ini menjadi Kabupaten.

Lanjutkan membaca “REFLEKSI, LIMA TAHUN KABUPATEN SAMOSIR”

Adat dan kepentingan ekonomi sebagai perekat masyarakat Sumut

Limantina Sihaloho

Medan, kota terbesar ketiga di Indonesia, yang lahir pada 1 Juli 1590 ini dikenal sebagai kota yang multi etnis sampai hari ini. Penduduknya lebih dari 12 juta jiwa. Berdasarkan sensus penduduk yang dilakukan BPS Sumut pada tahun 2000, peta jumlah penganut agama-agama yang ada di kota ini adalah sebagai berikut: Islam 65,45%, Kristen 26,62%, Katolik 4,78%, Buddha 2,82%, Hindu 0,19% dan lain-lain 0,14%. Lanjutkan membaca “Adat dan kepentingan ekonomi sebagai perekat masyarakat Sumut”