SITUS MAKAM BATU

Monang Naipospos

Photo sarcophagus ini diambil di Tambunan Kecamatan Balige, Janjimatogu Kecamatan Uluan, Lumban Nabolon Kecamatan Porsea dan Sipinggan Kecamatan Porsea.

situs-batu-_01.jpg situs-batu-_02.jpg situs-batu-_03.jpg situs-batu-_04.jpg situs-batu-_05.jpg situs-batu-_06.jpg situs-batu-_07.jpg situs-batu-_08.jpg situs-batu-_09.jpg situs-batu-_10.jpg

Merupakan kehormatan tertinggi bagi orang batak bila dimakamkan didalam batu. Batu itu semasa hidupnya sudah dibangun dan disaksikan sebelum meninggal dunia. Perlakuan itu sama dengan saat pembuatan “abal-abal” keranda dari kayu besar yang diukir. Saat mendatangkan abal-abal dari kayu dan batu ini lajim dilakukan pesta besar diiringi dengan acara pasahat sulang-sulang nagok.
Keranda dari kayu satu itu biasanya harus dikubur dalam tanah, lain halnya dengan keranda batu, biasanya diletakkan diatas permukaan tanah.

Makam batu juga ada digunakan untuk penguburan kemabli tulang belulang atau mayat yang sudah lama disimpan (upacara ini disebut “turun”)

Orang yang memiliki keranda kedua jenis tersebut biasaya orang berada, ulet dan dihormati dalam masyarakat.

Schereiner (1994) melaporkan bahwa peti mayat batu sebagian besar tersebar di pulau Samosir bagian selatan dan pantai barat Danau Toba, antara lain yang paling tua mungkin yang serupa di toba holbung pada bagian tenggara danau toba.

Perubahan konstruksi makam batu dipengaruhi dengan masuknya semen di Toba. Sebelumnya semen yang sangat terbatas, hanya digunakan untuk bangunan pemerintah Belanda. Pasokan semen akhirnya dapat dijangkau orang tertentu masyarakat Toba khusunya yang memiliki akses dengan colonial.
Mereka membuat makam batu dari semen dengan disain menyerupai makam batu asli. Makan seperti itu banyak ditemukan tanah Batak, dan contoh gambar diambil di Tambunan yang dubuat pada tahun 1938

Pergeseran arsitektur makam sudah terjadi pada awal semen diperoleh dan disesuaikan dengan latarbelakang pemiliknya. Para raja yang berpihak ke Belanda mulai membuat disain makamnya dengan hiasan mahkota (crown) seperti mahkota yang digunakan ratu Belanda. Pemuka gereja membuat disain segi empat dengan hiasan mercu gereja.
Para raja bius yang menentang penjajahan biasanya dibuat hiasan gambar beringin.

Dalam tradisi, makam tak seharusnya dari batu atau semen, tapi disebut “tambak” yang dibuat dari lempengan tanah berlapis sesuai dengan lapis keturunannya. Makam tua seperti ini saat ini banyak ditemukan dengan ditumbuhi pohon kayu ara atau beringin yang sangat lebat.

Sejak Indonesia merdeka, kebebasan berekspresi diluar bidang politik semakin terbuka.
Tradisi leluhur bukan lagi ukuran standarisasi penghormatan bagi mereka. Monumen kesatuan marga pun dibagun tanpa seharusnya memasukkan tulang belulang (sebagian melakukan dengan simbolis). Monumen ini dipopulerkan dengan kata TUGU. Pembuatan tugu diadopsi dari pulau jawa yang artinya monument peringatan. Ini jelas bukan tradisi Batak lama. Tugu atau Monumen itu banyak yang dihiasi dengan patung yang belum tentu mirip dengan leluhurnya itu.

MONUMEN PERANG DI PORSEA

porsea_03.jpg porsea_04.jpg porsea_05.jpg porsea_06.jpg porsea_07.jpg porsea_08.jpg porsea_09.jpg porsea_10.jpg porsea_11.jpg porsea_12.jpg

MONUMEN SRIKANDI PUTRI LOPIAN DAN PRASASTI PERANG DUNIA II

Ada dua monumen bersejarah di temukan di kota Porsea. Satu mengisahkan pejuangan Sisingamangaraja dan satu lagi peristiwa perang dunia ke II di Porsea.

porsea_01.jpg MonumenLopian

Kalimat dalam Prasasti Monumen Srikandi Lopian :

Seorang gadis belia yang ikut berjuang dan berkorban melawan penjajah Belanda, gugur dalam pertempuran tanggal 17 Juni 1907 di Aek Sibulbulon Pearaja Dairi, di adalah Putri Lopian.
Ayahandanya Raja Sisingamangaraja XII, saudaranya Patuan Nagari dan Patuan Anggi gugur bersama pejuang lainnya dalam pertempuran tersebut.

Lopian adalah anak ke-3 yang dilahirkan oleh ibunda Boru Sahala, lahir di Pearaja Dairi desa Sionomhudon yaitu ibukota perjuangan Raja Sisingamangaraja XII setelah Bakkara dan Lintong. Disinilah Lopian tumbuh menjadi dewasa dan tumbuh berjiwa pejuang karena sehari-hari bergaul dengan pejuang termasuk Teuku Nyak Bantal dan Teuku Muhammad Ben, para panglima dari Aceh.

Pada awal tahun 1907 pasukan Belanda mulai mendekati Pearaja Dairi karena Raja Sisingamangaraja XII bertekad mempertahankan Pearaja Dairi maka seluruh keluarga kaum wanita dan anak-anak harus menyingkir dari daerah itu, tetapi Lopian yang pada waktu itu anak gadis berusia 17 tahun tidak mau ikut menyingkir karena ia berkeras hati tetap harus ikut berperang melawan penjajah Belanda.

Dalam pertempuran tanggal 17 Juni 1907 di Aek Sibulbulon Pearaja Dairi seluruh pejuang yang berpantang menyerah itu gugur karena jumlah dan persenjataan yang tidak sebanding dengan pasukan Belanda.
Oleh pasukan Belanda, jenazah Raja Sisingamangaraja XII, jenazah putranya Raja Patuan nagari dan Raja Patuan Anggi dibawa melalui Tele ke Balige dan kemudian dikuburkan di Tarutung. Sedang jenazah Lopian Boru Sinambela ditinggalkan dengan ditimbun dalam jurang bersama panglima dari Aceh.
Dan tinggallah Lopian di hutan Pearaja Dairi.

Porsea 25 Oktober 2005

Prasasti ini dipersembahkan oleh Prof. Dr. T. Sinambela. K

PRASASTI PERANG DUNIA II

PADA TANGGAL 9 – 10 MARET 1942 SEMASA PERANG DUNIA KEDUA, DITEMPAT INI … TERJADI PERTEMPURAN SENGIT UNTUK PEREBUTAN JEMBATAN ASAHAN.
SEMBILAN SERDADU KETURUNAN BELANDA DAN BEBERAPA ANGGOTA PASUKAN JEPANG TERBUNUH DAN SUNGAI ASAHAN MENJADI TEMPAT KUBURANNYA
MASING-MASING MEMPERTAHANKAN KEMAUANNYA.

PERANG HANYA MEMBAWA KEHANCURAN BAGI MANUSIA
SEMOGA PERANG TIDAK TERULANG LAGI

PERSAUDARAAN ANTAR BANGSA-BANGSA
BERDASARKAN PANCASILA
MENJAMIN PERDAMAIAN ABADI

Prasasti ini dibangun oleh Dinas Pariwisata Propinsi Daerah TK I SU
Diresmikan tanggal 16 November 1997

Peristiwa Perang Porsea

Pada bulan Pebruari 1942, sebanyak satu kompi (± 200 orang) pasukan Belanda telah bermarkas di gedung Sekolah Dasar (Vervolg School) Porsea, yang terletak di desa Parparean sebelah selatan kota Porsea. Pada tiang-tiang jembatan diikatkan dinamit-dinamit berukuran besar dan dihubungkan dengan kawat listrik ke suatu pusat di gedung sekolah dasar tersebut, dengan maksud agar setiap saat, jembatan tersebut dapat diledakkan melalui alat pemicu ledak.

Pada akhir bulan Pebruari 1942, tentara Jepang telah menduduki kota Medan dan pada Minggu pertama bulan maret, mereka telah sampai di Parapat. Pada waktu yang sama, tentara Belanda terus mundur melalui jembatan Porsea kea rah Selatan, pada waktu itu, setiap hari siang dan malam, rakyat Porsea menyaksikan patroli pasukan Belanda dari Porsea kearah Barat yaitu Ulubius, Lumban Manurung hingga Janjimatogu.

Pada tanggal 09 Maret 1942 sore hari antara jam 18.00 dan 19.00, rakyat janjimatogu melihat dua buah kapal yang mirip kapal karet mengapung di danau Toba,bergerak kea rah sungai Asahan. Sekitar jan 20.00, rakyat desa Lumban manurung melihat pasukan Jepang mendarat dan keluar dari kapal karet. Beberapa orang tentara Jepang berenang pada malam itu sampai dibawah jembatan dan memotong seluruh kawat-kawat penghubung dinamit. Semua itu berlangsung sebelum terdengar tembakan.

Sekitar jam 21.00 seorang patroli Belanda bersepeda motor dari arah utara tiba di Porsea dan berhenti di hadapan jembatan. Patroli ini memberi isyarat dengan lampu sepeda motornya kepada tentara Belanda di seberang jembatan dan ketika itu dia tertembak dengan letusan pertama pada malam itu. Letusan itu menjadi isyarat bagi pecahnya perang tembak menembak antara tentara Belanda dan tentara Jepang di sekitar jembatan Porsea.

(Dikutip dari penuturan Prof. Dr Midian Sirait dan Prof. Dr Firman Manurung)

——————————————————————————————–

Porsea banyak menyimpan kenangan masa lalu. Yang berusia 50 tahun saat ini mungkin masih mengingat popularitas onan Porsea yang disebut “onan tombis”. Ciri pekan kita adalah padat dan sesak, sehingga para anak muda menyempatkan diri masuk di kerumunan sesak itu untuk bersenggolan dengan para gadis. Waaahhh…. ada juga yang kecantol … berlanjut…. dan jadian…. Siapa berani ngaku…?
Itulah kondisi saat itu dan masih dalam koridor tata krama dan menjadi pandangan yang lucu bagi para orang tua.

Porsea selain monumen perang, juga seperti apa yang dikatakan Forum Tapanuli sangat kritis terhadap pelestarian lingkungan hidup dan menentang pengoperasian Indorayon yang saat ini ganti nama menjadi TPL.

Cagar budaya batak dapat juga di klaim porsea, karena masih banyak situs budaya ditemukan seperti sarkofagus, rumah tradisional, kisah kisah legenda dan panorama alam yang indah.
Porsea juga banyak menyimpan potensi seniman batak seperti “pargonsi” paerajin tenun dan panggorga.

Horas Porsea, Horas Tano batak, Horas Bangso Batak.

Melayang diatas Danau Toba

Perkara “Pahabang Losung” sudah terkenal di Tanah Batak. Namun terbang melayang, apalagi sambil memandang Danau Toba yang indah belum ada pengalaman.

a-gentolle_03.jpg a-gentolle_05.jpg a-gentolle_04.jpg a-gentolle_06.jpg a-gentolle_10.jpg a-gentolle_11.jpg a-gentolle_17.jpg a-gentolle_19.jpg a-gentolle_22.jpg a-gentolle_24.jpg a-gentolle_26.jpg a-gentolle_25.jpg

Para penerbang “gentolle” ini berasal dari Pulau Jawa dan sebagian dari Kota Medan. Mereka memanfaatkan lokasi stategis di Hutaginjang Kabupaten Tapanuli Utara. Pertandingan ini dilaksanakan sejak Selasa hingga Sabtu 2 Juni 2007.

Menurut pelatih terbang layang ini, Dolok Tolong di Kabupaten Tobasa juga strategis untuk permainan ini.

Masyarakat yang menyaksikan permainan/pertandingan ini cukup terpukau, dan berteriak….mengikuti suara peserta…. go….. go …… go….


Bookmark and Share

Tautan :

Panorama Danau Toba
Memandang dari Sipinsur
Masihol tu Muara
Memandang dari Dolok Tolong

Perajin Ulos

perajin_16.jpg perajin_08.jpgKerajinan Tenun Ulos Batak di Desa Meat Tobasa semakin diminati generasi muda. Mereka sudah menikmati manfaat secara ekonomi kegiatan ini dan tidak terpikir lagi untuk merantau mencari pekerjaan ke kota besar dan Batam. Hitung-hitung, lebih baik daripada buruh di industri.

Tautan :

Ulos Produk Eksotik
Proses Pembuatan Ulos
Ulos Mesa
Sopo dohot Ulos
Baliga Ditangan Pria
Ulos batau Untuk Sultan Jogya
Songket Batak Tandingi Songket Palembang
Tenun Ulos ATBM
Mengenal Ulos Batak