Monang Naipospos
Photo sarcophagus ini diambil di Tambunan Kecamatan Balige, Janjimatogu Kecamatan Uluan, Lumban Nabolon Kecamatan Porsea dan Sipinggan Kecamatan Porsea.
Merupakan kehormatan tertinggi bagi orang batak bila dimakamkan didalam batu. Batu itu semasa hidupnya sudah dibangun dan disaksikan sebelum meninggal dunia. Perlakuan itu sama dengan saat pembuatan “abal-abal” keranda dari kayu besar yang diukir. Saat mendatangkan abal-abal dari kayu dan batu ini lajim dilakukan pesta besar diiringi dengan acara pasahat sulang-sulang nagok.
Keranda dari kayu satu itu biasanya harus dikubur dalam tanah, lain halnya dengan keranda batu, biasanya diletakkan diatas permukaan tanah.
Makam batu juga ada digunakan untuk penguburan kemabli tulang belulang atau mayat yang sudah lama disimpan (upacara ini disebut “turun”)
Orang yang memiliki keranda kedua jenis tersebut biasaya orang berada, ulet dan dihormati dalam masyarakat.
Schereiner (1994) melaporkan bahwa peti mayat batu sebagian besar tersebar di pulau Samosir bagian selatan dan pantai barat Danau Toba, antara lain yang paling tua mungkin yang serupa di toba holbung pada bagian tenggara danau toba.
Perubahan konstruksi makam batu dipengaruhi dengan masuknya semen di Toba. Sebelumnya semen yang sangat terbatas, hanya digunakan untuk bangunan pemerintah Belanda. Pasokan semen akhirnya dapat dijangkau orang tertentu masyarakat Toba khusunya yang memiliki akses dengan colonial.
Mereka membuat makam batu dari semen dengan disain menyerupai makam batu asli. Makan seperti itu banyak ditemukan tanah Batak, dan contoh gambar diambil di Tambunan yang dubuat pada tahun 1938
Pergeseran arsitektur makam sudah terjadi pada awal semen diperoleh dan disesuaikan dengan latarbelakang pemiliknya. Para raja yang berpihak ke Belanda mulai membuat disain makamnya dengan hiasan mahkota (crown) seperti mahkota yang digunakan ratu Belanda. Pemuka gereja membuat disain segi empat dengan hiasan mercu gereja.
Para raja bius yang menentang penjajahan biasanya dibuat hiasan gambar beringin.
Dalam tradisi, makam tak seharusnya dari batu atau semen, tapi disebut “tambak” yang dibuat dari lempengan tanah berlapis sesuai dengan lapis keturunannya. Makam tua seperti ini saat ini banyak ditemukan dengan ditumbuhi pohon kayu ara atau beringin yang sangat lebat.
Sejak Indonesia merdeka, kebebasan berekspresi diluar bidang politik semakin terbuka.
Tradisi leluhur bukan lagi ukuran standarisasi penghormatan bagi mereka. Monumen kesatuan marga pun dibagun tanpa seharusnya memasukkan tulang belulang (sebagian melakukan dengan simbolis). Monumen ini dipopulerkan dengan kata TUGU. Pembuatan tugu diadopsi dari pulau jawa yang artinya monument peringatan. Ini jelas bukan tradisi Batak lama. Tugu atau Monumen itu banyak yang dihiasi dengan patung yang belum tentu mirip dengan leluhurnya itu.