PELESTARIAN BUDAYA, KATANYA

Monang Naipospos

Banyak kelompok dan grup di FB dan WA yang bergenre Pelestarian Budaya dan Adat Batak. Banyak yang mengundang saya di FB dan melibatkan langsung di WA.

Jarang saya memberi umpan disana dan tidak pernah berkomentar. Pernah pertama sekali saat populernya group FB saya memberi pendapat, lalu diserang habis oleh mereka yang tidak saya kenal. Mereka kebanyakan kaum muda yang sebaya anak sulung saja. Ampun …….., saya tidak pernah lagi memasuki grup seperti itu. Dan dari GWA perlahan menunggu waktu saya keluar agak lebih senyap. Lanjutkan membaca “PELESTARIAN BUDAYA, KATANYA”

ANTITESIS SIPELEBEGU

Monang Naipospos

Dalam PEMAHAMAN TENTANG BEGU DALAM TRADISI TOBA sudah saya uraikan tentang pemahaman apa itu begu dan praktik masa lalu dan masa kini.

Bicara Sipelebegu orang akan langsung menuding ke belakang. Itu praktik yang dilakukan para leleuhur. Namun, bila fakta silepebegu di cerna lebih mendalam, bahwa sipelebegu itu tidak terbatas jaman masa lalu, saat ini juga masih ada bahkan lebih masif. Lanjutkan membaca “ANTITESIS SIPELEBEGU”

Dari Samosir untuk Indonesia

Jones Gultom

Beberapa hari merasakan atmosfer Samosirr, seperti membuka catatan-catatan sejarah yang mulai rapuh kertasnya. Ada danau, tapi masyarakat kekurangan air. Dikelilingi pegunungan, tetapi udara kosong melompong. Ada lembah-lembah, tapi tak bisa bercocok tanam. Ada petani, tetapi tak ada lahan yang bisa dikerjakan.

Lanjutkan membaca “Dari Samosir untuk Indonesia”

Kembalikan Engineer Eropa ke Tanah Batak?

 

Sulaiman Sitanggang (Cepito 07)

Manusia mengamati, sejarah mencatat. Ada jejak yang tersisa pada setiap peristiwa mengisi detik waktu. Sayup-sayup jejak itu membayang, terkadang samar, namun masih terlihat cukup jelas. Jejak-jejak itu adalah petualangan bangsa Eropa di bumi pertiwi. Mereka pun meninggalkan cukup banyak legacy nya di tano batak. Disamping penjajahannya yang tidak manusiawi, masih tersisa jejak politik etis mereka pada bangunan sekolah, pada dinding Rumah Sakit, dan pada jalan-jalan raya memanjang membelah bumi Sumatera.

Lanjutkan membaca “Kembalikan Engineer Eropa ke Tanah Batak?”

Api Nan Tak Kunjung Padam

 

Sulaiman Sitanggang  (Cepito 006)

Adalah kalimat yang ditorehkan para cendekiawan bumi persada ini bahwa pembangunan tidak akan berhasil apabila di dalam masyarakat yang sedang membangun itu sendiri tidak ada api semangat. Yang menjadi sumber pendorong, memotivasi masyarakat yang bersangkutan untuk senantiasa membangun dirinya sendiri secara berkesinambungan.

Lanjutkan membaca “Api Nan Tak Kunjung Padam”

BILA DIA MEMANGGIL

 

Jones Gultom

TIBA-TIBA aku mengingatmu lagi, ketika lama  tak saling bertegur sapa. Dua puluh 4 tahun kita pernah bersama, mengeja kearifan-kearifan yang begitu kau agungkan. Sebagaimana anak-anak, tentu aku tak mengerti kisah Sinabung yang berkelahi dengan Pusuk Buhit, tentang Ompunta Raja Uti, yang katamu bisa melompat dari bintang ke bintang, tentang naga penjaga tao, tentang kalau jumpa begu ganjang mesti aku mengelilingi tanah tempat kuberpijak sebanyak 3 kali, tentangmu yang mengajariku untuk marsantabi di mana saja, tentangku yang tak mesti takut dengan hantu jika merasa akrab dengannya, tentang pulau tulas, tentang makna pangir yang kerap kau suguhkan bila aku demam atau tartondi, katamu.

Lanjutkan membaca “BILA DIA MEMANGGIL”

Tona ni Tao

Sulaiman Sitanggang  (CEPITO 04 : Sangkamadeha dan Hariara Sundung Dilangit)

 

"Sedikit tentang batak, apa yang sudah pernah ada kini menjadi tiada. Dan ada upaya untuk melupakannya sama sekali". Hingga pada satu titik, manusia bertanya dan menunggu jawaban.Tak hanya menunggu, ia bergerak dalam sebuah jalan pencarian. Mencari jawaban. Tentang apa dan mengapa segala keberadaan ini. Sejenak merenung dan mengingat kembali. Apa saja yang pernah dicapai oleh sebuah peradaban, dan apa saja yang terlupa dan terabaikan oleh peradaban. Ialah insan sejati, sang manusia yang melangkah dan meninggalkan jejak di bawah matahari yang sama, menuang dan meneguk kelegaan dari sumber mata air yang sama, dalam rentang ruang dan waktu kesementaraan ini.

Lanjutkan membaca “Tona ni Tao”

Pak Donald di Mata Hati Saya

MJA Nashir

28 Mei 2007, ketika malam di Pantura Jawa terasa dingin, saya terima kabar via sms; “Mas, bapak sudah pulang ke rumah Tuhan”. Rasanya angin semakin dingin, tak sekadar tulang yang ngilu. Tapi juga hati ini ! Kenyataan harus dihadapi, Donald Hutabarat, sahabat terbaik di planet Bumi ini telah pergi untuk selama-selamanya, di usianya yang ke 57 .

Lanjutkan membaca “Pak Donald di Mata Hati Saya”