Dari Samosir untuk Indonesia

Jones Gultom

Beberapa hari merasakan atmosfer Samosirr, seperti membuka catatan-catatan sejarah yang mulai rapuh kertasnya. Ada danau, tapi masyarakat kekurangan air. Dikelilingi pegunungan, tetapi udara kosong melompong. Ada lembah-lembah, tapi tak bisa bercocok tanam. Ada petani, tetapi tak ada lahan yang bisa dikerjakan.

Lanjutkan membaca “Dari Samosir untuk Indonesia”

Prasasti Dolok tolong

Humala Simanjuntak

Eksistensi prasasti Dolok Tolong dinyakini merupakan bukti utama atas persinggungan budaya batak dengan pradaban Hindu dan Budha di Indonesia. Prasasti Dolok Tolong merupakan Prasasti atas existensi, orang Majapahit di Tanah Batak

Saat itu Pasukan Marinir Kerajaan Majapahit, mengalami kekalahan pahit di Selat Malakka, mereka melalui Sungai Barumun menyelamatkan diri ke daratan Sumatera sampai ke suatu daerah di Portibi Tapanuli selatan, Disana mereka dicegat, di hadang masyarakat, sehingga mereka melanjutkan pelarian kearah utara ke Bukit Dolok Tolong di daerah Tampahan Balige. Di Gunung itulah mereka meminta suaka politik kepada seorang Raja dari Rumpun Marga Sumba (Isumbaon), yaitu Tuan Sorbadibanua yang saat itu menguasai daerah tersebut.

Lanjutkan membaca “Prasasti Dolok tolong”

Hutissa Mr A

Jones Gultom

HEBOH kali orang-orang di senayan bahas tentang Mr. A, sampai pake tunjuk-tunjuk hidung segala. Maklum, nama jago-jago politik di negeri ini, banyak yang dimulai dari huruf A. Contoh; Akbar Tandjung, Abu Rizal Bakrie, Anas Urbaningrum, Andi Malarangeng, Amien Rais, Aboe Bakar, Annis Matta, de el el. Ketika isu Mr A dimunculkan, jantunganlah mister-mister ini.
Lanjutkan membaca “Hutissa Mr A”

SOROTAN ANAK KEPADA PARMITU

Monang Naipospos

Anak bungsuku perempuan kelas 5 SD minta tolong cara ngeprint. Ada tugas sekolah yang sudah selesai dikerjakan. Setelah selesai memberi petunjuk, mereka dengan 4 orang temannya satu grup merasa puas atas hasil kerja mereka.

Saya ingin tau isi tugas sekolahnya itu, dan….saya tertawa dan merasa bangga dengan kreatifitas pengamat cilik ini yang dengan tegas melakukan kritikan terhadap sosial lingkungannya.

Lanjutkan membaca “SOROTAN ANAK KEPADA PARMITU”

Kembalikan Engineer Eropa ke Tanah Batak?

 

Sulaiman Sitanggang (Cepito 07)

Manusia mengamati, sejarah mencatat. Ada jejak yang tersisa pada setiap peristiwa mengisi detik waktu. Sayup-sayup jejak itu membayang, terkadang samar, namun masih terlihat cukup jelas. Jejak-jejak itu adalah petualangan bangsa Eropa di bumi pertiwi. Mereka pun meninggalkan cukup banyak legacy nya di tano batak. Disamping penjajahannya yang tidak manusiawi, masih tersisa jejak politik etis mereka pada bangunan sekolah, pada dinding Rumah Sakit, dan pada jalan-jalan raya memanjang membelah bumi Sumatera.

Lanjutkan membaca “Kembalikan Engineer Eropa ke Tanah Batak?”

Ketika Ganjil Tegur Genap

Jones Gultom

BAGI kebanyakan orang Batak (Toba) tradisional (mungkin juga umumnya masyarakat tradisi lain) angka ganjil punya makna tersendiri. Dikatakan, angka ganjil diyakini membawa keberuntungan. Keyakinan itu didasarkan atas kepercayaan lokal mereka yang mengaitkan angka ganjil sebagai miliknya tondi sahala (ruh). Tapi ada yang memplesetkan ganjil sebagai miliknya para hantu, sehingga perlu diwaspadai. Misalnya dalam penerapan keseharian, orang Batak (Toba) berupaya menghindari aktivitas besar di tanggal maupun bulan ganjil. Contohnya membangun rumah. Yang jelas kedua persefsi tentang ganjil itu sama-sama mengandung kesamaan nilai, yakni “mistikal”. Aku lebih suka menyebutnya “kebatinan”.

Lanjutkan membaca “Ketika Ganjil Tegur Genap”

BILA DIA MEMANGGIL

 

Jones Gultom

TIBA-TIBA aku mengingatmu lagi, ketika lama  tak saling bertegur sapa. Dua puluh 4 tahun kita pernah bersama, mengeja kearifan-kearifan yang begitu kau agungkan. Sebagaimana anak-anak, tentu aku tak mengerti kisah Sinabung yang berkelahi dengan Pusuk Buhit, tentang Ompunta Raja Uti, yang katamu bisa melompat dari bintang ke bintang, tentang naga penjaga tao, tentang kalau jumpa begu ganjang mesti aku mengelilingi tanah tempat kuberpijak sebanyak 3 kali, tentangmu yang mengajariku untuk marsantabi di mana saja, tentangku yang tak mesti takut dengan hantu jika merasa akrab dengannya, tentang pulau tulas, tentang makna pangir yang kerap kau suguhkan bila aku demam atau tartondi, katamu.

Lanjutkan membaca “BILA DIA MEMANGGIL”

Tona ni Tao

Sulaiman Sitanggang  (CEPITO 04 : Sangkamadeha dan Hariara Sundung Dilangit)

 

"Sedikit tentang batak, apa yang sudah pernah ada kini menjadi tiada. Dan ada upaya untuk melupakannya sama sekali". Hingga pada satu titik, manusia bertanya dan menunggu jawaban.Tak hanya menunggu, ia bergerak dalam sebuah jalan pencarian. Mencari jawaban. Tentang apa dan mengapa segala keberadaan ini. Sejenak merenung dan mengingat kembali. Apa saja yang pernah dicapai oleh sebuah peradaban, dan apa saja yang terlupa dan terabaikan oleh peradaban. Ialah insan sejati, sang manusia yang melangkah dan meninggalkan jejak di bawah matahari yang sama, menuang dan meneguk kelegaan dari sumber mata air yang sama, dalam rentang ruang dan waktu kesementaraan ini.

Lanjutkan membaca “Tona ni Tao”

BATUK SINABUNG, TOBA DAN BLACK HOLE

Jones Gultom

sinabungSangat rasional jika “batuknya” Sinabung dikaitkan sebagai indikasi akan ketakseimbangan sturuktur bukit barisan yang mengakar sampai ke pesisir Sumatera. Dan amat logis pula, jika kemudian kekhawatiran terbesar adalah dampaknya terhadap konsistensi penopang Danau Toba seperti dilansir beberapa media, mengutip pridiksi ilmuwan. Apalagi wacana menyebut, Samosir kini retak, rawan terbelah dua. Getaran Sinabung tentu membentuk pola baru dalam lapisan tanah, di persekitaran Danau Toba.

Lanjutkan membaca “BATUK SINABUNG, TOBA DAN BLACK HOLE”

Sisi Lain, Pesta Danau Toba 2010

Sulaiman Sitanggang (CEPITO 002)

Kebudayaan Batak dibangun diatas fondasi keluarga marga. Dengan menganut sistem kemasyarakatan yang terstruktur dengan rapi dan sistematis. Seperti Tarombo, Partuturon, Dalihan Natolu dan konsepsi sosiallainnya yang menjadi benang pengikat interaksi sosial dan kehidupanbermasyarakat. Menjadi Batak adalah dengan memahami dan menjalankan adat-istiadat. Sebutan "tak beradat" kerap menjadi hukuman sosial paling menyedihkan dan menyakitkan dalam interaksi sosial masyarakat Batak.

Lanjutkan membaca “Sisi Lain, Pesta Danau Toba 2010”