Tembok bambu yang kian usang

 Sulaiman Sitanggang  (CEPITO 009)

Sore itu sebilah pelangi terlihat membelah langit toba, warna warninya menikam tepat di jantung kota kecil Balige. Matahari meniti senja dari balik bukit barisan sejajar tebing curam Tarabunga. Seolah hendak ikut ambil bagian menyapukan seberkas sinar kekuningan yang dipantulkan oleh dinding rumah-rumah penduduk. Rumah-rumah yang terdapat di tepian danau biru itu tak juga mau balik kanan, dengan wajah mengarah dan menghadap ke danau. Hingga sore ini, Danau Toba belum menjadi orientasi tata kota. Lembaran sejarah kembali terisi dengan pola pembangunan yang asal, tanpa perencanaan yang rasional, berestetika, dan harmoni. Padahal di belahan pulau sana, semisal Yogya, Laut Selatan dengan mudah menjadi orientasi pembangunan tata kota. Artinya, sebelum Danau Toba menjadi orientasi, tidak bisa berharap banyak akan kemajuan dan pengembangan yang harmonik.

Lanjutkan membaca “Tembok bambu yang kian usang”

Hutissa Mr A

Jones Gultom

HEBOH kali orang-orang di senayan bahas tentang Mr. A, sampai pake tunjuk-tunjuk hidung segala. Maklum, nama jago-jago politik di negeri ini, banyak yang dimulai dari huruf A. Contoh; Akbar Tandjung, Abu Rizal Bakrie, Anas Urbaningrum, Andi Malarangeng, Amien Rais, Aboe Bakar, Annis Matta, de el el. Ketika isu Mr A dimunculkan, jantunganlah mister-mister ini.
Lanjutkan membaca “Hutissa Mr A”

Teluk Harapan Danau Biru

Sulaiman Sitanggang (Cepito 08)

Ada yang terlupa dari sifat dan sikap purba yang melekat pada darah kemanusiaan kini, terkhusus bangso Batak. Dengan apakah leluhur menitipkan sejarah dan etika hidup kepada generasi kemudian? Dengan api unggun yang dilingkari anak-anak jaman. Penuh simak mengikuti gerak tubuh tetua-tetua kampung menuturkan kisah. Dingin berbalut hangat. Kuriositas berbalut amanah. Yang diantara jilatan lidah nyala api, barisan leluhur menanamkan semangat kearifan dan kesejatian. Dengan cara jamannya. Tercatatlah kisah-kisah cerita rakyat lagu rakyat yang hanya efektif penyampaiannya melalui mulut sejarah semata. Tak hanya itu, budaya aksara pun digurat untuk mencatatkan inspirasi dan tata cara kehidupan yang beretika, berbudaya, berkesenian, dan berkemanusiaan. Buku-buku laklak itu pun raib di tangan-tangan penjajah dan penakluk peradaban. Dan kita hanya tinggal diam di tengah gerak sejarah yang dipaksa membelot? Tak hanya itu, kita pun tak punya peninggalan kearifan untuk generasi kemudian.

Lanjutkan membaca “Teluk Harapan Danau Biru”

SOROTAN ANAK KEPADA PARMITU

Monang Naipospos

Anak bungsuku perempuan kelas 5 SD minta tolong cara ngeprint. Ada tugas sekolah yang sudah selesai dikerjakan. Setelah selesai memberi petunjuk, mereka dengan 4 orang temannya satu grup merasa puas atas hasil kerja mereka.

Saya ingin tau isi tugas sekolahnya itu, dan….saya tertawa dan merasa bangga dengan kreatifitas pengamat cilik ini yang dengan tegas melakukan kritikan terhadap sosial lingkungannya.

Lanjutkan membaca “SOROTAN ANAK KEPADA PARMITU”

Kembalikan Engineer Eropa ke Tanah Batak?

 

Sulaiman Sitanggang (Cepito 07)

Manusia mengamati, sejarah mencatat. Ada jejak yang tersisa pada setiap peristiwa mengisi detik waktu. Sayup-sayup jejak itu membayang, terkadang samar, namun masih terlihat cukup jelas. Jejak-jejak itu adalah petualangan bangsa Eropa di bumi pertiwi. Mereka pun meninggalkan cukup banyak legacy nya di tano batak. Disamping penjajahannya yang tidak manusiawi, masih tersisa jejak politik etis mereka pada bangunan sekolah, pada dinding Rumah Sakit, dan pada jalan-jalan raya memanjang membelah bumi Sumatera.

Lanjutkan membaca “Kembalikan Engineer Eropa ke Tanah Batak?”

Investasi Bisnis versus Hak Adat

 

Nestor Rico Tambunan

Keadilan, kata pengarang Prancis Emile Zola, tak mungkin ada kecuali dalam kebenaran. Dan kebahagiaan tak mungkin ada, kecuali dalam keadilan.

Kebenaran ucapan Emile Zola ini akan amat terasa bila merenungi nasib masyarakat adat di berbagai belahan bumi Nusantara saat ini. Perusahaan-perusahaan besar terus menerobos deras menanam investasi sampai ke jantung pemukiman suku-suku dan masyarakat adat, menguasai tanah dan segala kekayaannya, dan memarjinalkan hak-hak ulayat masyarakat adat setempat.

Masyarakat-masyarakat adat semakin tersingkir dan dimiskinkan. Padahal, masyarakat-masyarakat itu sudah turun-temurun hidup di sana, jauh sebelum perusahaan itu ada, bahkan sebelum negeri ini berdiri.

Lalu, dimana kebenaran dan keadilan?

Lanjutkan membaca “Investasi Bisnis versus Hak Adat”