Tona ni Tao

Sulaiman Sitanggang  (CEPITO 04 : Sangkamadeha dan Hariara Sundung Dilangit)

 

"Sedikit tentang batak, apa yang sudah pernah ada kini menjadi tiada. Dan ada upaya untuk melupakannya sama sekali". Hingga pada satu titik, manusia bertanya dan menunggu jawaban.Tak hanya menunggu, ia bergerak dalam sebuah jalan pencarian. Mencari jawaban. Tentang apa dan mengapa segala keberadaan ini. Sejenak merenung dan mengingat kembali. Apa saja yang pernah dicapai oleh sebuah peradaban, dan apa saja yang terlupa dan terabaikan oleh peradaban. Ialah insan sejati, sang manusia yang melangkah dan meninggalkan jejak di bawah matahari yang sama, menuang dan meneguk kelegaan dari sumber mata air yang sama, dalam rentang ruang dan waktu kesementaraan ini.

Lanjutkan membaca “Tona ni Tao”

Pak Donald di Mata Hati Saya

MJA Nashir

28 Mei 2007, ketika malam di Pantura Jawa terasa dingin, saya terima kabar via sms; “Mas, bapak sudah pulang ke rumah Tuhan”. Rasanya angin semakin dingin, tak sekadar tulang yang ngilu. Tapi juga hati ini ! Kenyataan harus dihadapi, Donald Hutabarat, sahabat terbaik di planet Bumi ini telah pergi untuk selama-selamanya, di usianya yang ke 57 .

Lanjutkan membaca “Pak Donald di Mata Hati Saya”

SURAT TERAKHIR

John Ferry Sihotang

Telah kuminum segala hikmat dunia, dari piala yang sudah diberkahi. Membaca kitab-kitab kebijaksanaan terhebat, mereguk semua anggur paling nikmat, mengidungkan nyanyian dan mensyairkan sajak-sajak paling indah, hingga menjalani sudut kota-kota paling megah yang kupuja bertahun-tahun. Sampai aku lupa asalu-sulku. Lupa pulang merindu kampung halaman, bumi moyangku yang sekarang dikhianati anak-cucunya sendiri. Disayat anak-cucunya sendiri dengan sembilu.

Lanjutkan membaca “SURAT TERAKHIR”

Batak dan Postkolonialisme

Jones Gultom

Saya menyadari semangat dan nafas tulisan Arief adalah bentuk pencarian makna kata "Batak" tanpa tendensi apapun, seperti yang berusaha ia "dirikan" dalam diskusi Karo bukan Batak itu. Terasa sangat kental pula apa yang hendak digugat; ketika ia masuk dalam terminologi "Postkolonialisme di Indonesia" versi Prof. Dr. Nyoman Kutha Ratna.

Lanjutkan membaca “Batak dan Postkolonialisme”

BATUK SINABUNG, TOBA DAN BLACK HOLE

Jones Gultom

sinabungSangat rasional jika “batuknya” Sinabung dikaitkan sebagai indikasi akan ketakseimbangan sturuktur bukit barisan yang mengakar sampai ke pesisir Sumatera. Dan amat logis pula, jika kemudian kekhawatiran terbesar adalah dampaknya terhadap konsistensi penopang Danau Toba seperti dilansir beberapa media, mengutip pridiksi ilmuwan. Apalagi wacana menyebut, Samosir kini retak, rawan terbelah dua. Getaran Sinabung tentu membentuk pola baru dalam lapisan tanah, di persekitaran Danau Toba.

Lanjutkan membaca “BATUK SINABUNG, TOBA DAN BLACK HOLE”

untuk Cinta Danau Toba, Tak Hanya Diam

Sulaiman Sitanggang (CEPITO 003: judul Asli : Tak Hanya Diam)

 

Ada yang menyeru dalam relung terdalam. Menyusup di pelataran hati yang riuh oleh jaman. Dia yang merajut rindu akan sebuah pertemuan. Menguntai cinta dalam isyarat tak berujung. Rindu ini hanya kepadamu. Cinta ini hanya untukmu. O Danau Toba.

Namun mengapa, Anginmu hanya diam? Tak kah kau ijinkan aku mengarungi ombakmu?

Lanjutkan membaca “untuk Cinta Danau Toba, Tak Hanya Diam”

Sisi Lain, Pesta Danau Toba 2010

Sulaiman Sitanggang (CEPITO 002)

Kebudayaan Batak dibangun diatas fondasi keluarga marga. Dengan menganut sistem kemasyarakatan yang terstruktur dengan rapi dan sistematis. Seperti Tarombo, Partuturon, Dalihan Natolu dan konsepsi sosiallainnya yang menjadi benang pengikat interaksi sosial dan kehidupanbermasyarakat. Menjadi Batak adalah dengan memahami dan menjalankan adat-istiadat. Sebutan "tak beradat" kerap menjadi hukuman sosial paling menyedihkan dan menyakitkan dalam interaksi sosial masyarakat Batak.

Lanjutkan membaca “Sisi Lain, Pesta Danau Toba 2010”