BATAK ?

Ahmad Arief Tarigan

Sebelum memulai tulisan ini, ada baiknya, penulis menjelaskan ‘posisi’ terlebih dahulu agar tidak terjebak dalam perdebatan emosional primordial serta tidak bias dengan subjektifitas manapun. Sekaligus juga menjadi penekanan bahwa tulisan ini mencoba untuk menempatkan perdebatan pada ranah yang lebih kritis dalam memandang permasalahan. Sebagaimana layaknya berdiskusi, kita semestinya bersikap terbuka (menerima perbedaan pendapat dan kritik), berpandangan luas, bebas dari praduga dan meyakini bahwa prasangka (kebencian pribadi maupun golongan) adalah ‘pembunuhan kejam’ sehingga tak pantas untuk dilakoni.

Lanjutkan membaca “BATAK ?”

PENGOLAHAN KOMPOS CAIR DAN PADAT ALA SH INSTITUTE

Parlin Pakpahan

Pengolahan Kompos Cair dan Padat ala SH Institute yang dimotori Sofian Simanjuntak telah membagikan kompos cuma-cuma kepada petani yg memerlukannya. Workshop SH Institute juga siap memberikan pelayanan lainnya seperti bibit penghijauan (Sengon, Sampinur, Gaharu dll), termasuk bagaimana cara berbudidaya tanaman yg baik dan cocok dengan kondisi bonapasogit.

Lanjutkan membaca “PENGOLAHAN KOMPOS CAIR DAN PADAT ALA SH INSTITUTE”

Agama dan Budaya

Jones Gultom*

MASIHKAH agama dengan nilai-nilai normatifnya itu, menjadi bagian vital di tengah hidup yang melaju cepat ini? Masihkah orang-orang akan berdoa, bila teknologi sudah mampu menjawab persoalan-persoalan dalam hidupnya? Masihkah puja-puji terus dilantunkan bila ketakjuban tak lagi ada di hati masing-masing orang? Pertanyaan ini pernah diutarakan Goenawan Mohammad dalam salah satu catatan pinggirnya di Majalah Tempo. Saya menduga, agama-agama formal yang dianut milyaran orang di dunia ini hanya menjadi identitas sebagai pra syarat statusnya sebagai warga negara. Agama semacam ini hanyalah sebuah lembaga hukum dan perangkat bertatanegara yang gampang bosan.

Lanjutkan membaca “Agama dan Budaya”

Ooooo…. Ompung

Puisi Karya MJA Nashir dengan judul asli BERLAYAR

O Embah!
O Opung!
O Puang!
Wahai para leluhur !
Aku kembali
menyeret kaki di pojok-pojok sunyi peradaban yang berlari
di antara kentucky dan televisi
Kereta-kereta masa silam meluncur perkasa
membelah hijau sawah dan burung-burung manyar berlompat ke udara
Aku kanak-kanak yang berlari di atas rel kereta
mengejar tanda tanya sampai ke mana, lenyap ke dalam hutan para danyang

Lanjutkan membaca “Ooooo…. Ompung”

Kenapa (harus) Karo Bukan Batak?

Jones Gultom

Identitas Karo dalam kaitannya dengan Batak, kembali digugat. Gugatan ini dalam sebuah diskusi bersama Antroplog Karo, Juara Ginting di Rumah Buku, Padang Bulan, beberapa waktu lalu.

Dalam kesempatan itu, Juara mengajak para peserta diskusi yang notabene, Mahasiswa Karo USU, mempertanyakan kembali latarbelakang kata Batak yang lazim disematkan pada sukunya. "Kenapa mesti ada embel-embel Batak, jika tak ada kaitan antara Batak dengan Karo?" Tanya Juara. Sudah sejak lama prokontra itu muncul ke permukaan, terutama di masyarakat Karo. Menurut penulis, mulanya polemik ini muncul sebagai imbas dari persepsi keliru, dimana ketika menyebut Batak, masyarakat seolah-olah terbayang deskripsi akan sub etnis Batak tertentu (Toba). Mungkin tak menjadi soal, jika Batak Karo, Batak Toba, Batak Simalungun serta Batak lain duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.

Lanjutkan membaca “Kenapa (harus) Karo Bukan Batak?”

ANGSA HITAM DI TEPIAN TOBA

Sulaiman Sitanggang (CEPITO 001)

Pada suatu siang di pertengahan Mei 2010 bertempat di sebuah cafe sederhana berlokasi di tepian Danau Toba yang kembali akan saya katakan memiliki potensi dan keindahan yang istimewa. Entah sudah berapa ribu kali ungkapan dan tulisan tentang Danau Toba dan kawasan sekitarnya menjadi topik yang sering saya utarakan. Itu juga yang mengundang kehadiran saya dan beberapa sahabat dalam sebuah pertemuan yang tak terduga. Hanya sebuah SMS telah cukup untuk mempertemukan orang orang yang berasal dari berbagai ragam perbedaan. "Hei anak muda, ayo ngopi, kita duduk dan bertemu di tepian Toba. Kami berangkat sekarang." Demikian pesan yang saya terima.

Lanjutkan membaca “ANGSA HITAM DI TEPIAN TOBA”