Pendidikan Kemajemukan bagi Warga Gereja

Eliakim Sitorus

Pluralitas atau kemajemukan adalah fakta atau kondisi beranekaragamnya masyarakat, baik fisik (rambut, warna kulit, postur tubuh), dan nonfisik seperti suku, bahasa, budaya, keyakinan dan sebagainya. Sedang pluralisme adalah paham dan sikap yang menghargai dan menghormati pluralitas tersebut. Di atas realitas keberanekaragaman itulah, negara ini didirikan oleh para pendahulu kita. Sekalipun ada upaya-upaya sepanjang sejarah negeri ini, untuk menafikan kepelbagaian itu alias ingin menyeragamkan semuanya, namun faktanya negara bangsa Indonesia masih berdiri utuh. Dan, inilah yang kita kehendaki sesungguhnya sebagai masyarakat Indonesia yang berdaulat hidup senang dan damai di dalam tanah air yang berdaulat pula. Lanjutkan membaca “Pendidikan Kemajemukan bagi Warga Gereja”

NGIDAM VERSUS PHOBIA

Jones Gultom

NGIDAM itu lawannya phobia. Yang satu tiba-tiba suka, satunya lagi serta-merta benci. Dua perilaku mendadak ini kadang suka bikin kita gemes. Ngidam biasa datang pas hamil. Mintanya suka aneh-aneh. Dikasih durian, kulitnya yang dimakan. Biasa enggak suka pedas, kini makan nasi pun pake cabe bulat-bulat, rawit pula. Ampun kita dibuatnya. Phobia lain lagi. Sering naik turun gunung, eh tahu-tahunya takut kecoak. Dikenal hobi ngebut-ngebut dan tak kenal takut, rupanya sama kodok aja kecut. Ada ratusan jenis phobia ini.
Lanjutkan membaca “NGIDAM VERSUS PHOBIA”

MABUK

Jones Gultom

SEKALI waktu ketika main-main ke Tigalingga, Sidikalang, aku terkekeh-kekeh mendengar cerita para ompu di parker tuak, tentang pengalaman mereka mabuk. Rupanya ada seorang jago minum. Julukannya aja si tuak. Maklum namanya juga di kampung, tuak lebih diminati daripada minuman botol. Yang cerita ini juga dah tua. Dah ubanan, ceking, ompong pula. Dengan logat Karo-Pakpak, setengah mabuk, dia pun bertutur. “Ia…dah empat teko diminumnya, tak tenggen-tenggen dia.. Tapi teko kelima bilang pintu pun enggak tahu. Mana punti…mana punti..katanya,  ketawa kami setengah mati!!”

Lanjutkan membaca “MABUK”

CALEG JADI KOLLEKTOR

Monang Naipospos

Ambisi menjadi anggota legislatif untuk ukuran kabupaten di hamion ditempuh dengan beragam cara. Para politikus instan dan yang berpengalaman tidak jauh beda. Keputusan ada di tangan rakyat. Rakyat tidak perduli yang akan berbuat baik atau akan menjadi destroyer, “ada duit ada suara” itulah market pemilu yang yang disebut sebagai pesta rakyat.

Lanjutkan membaca “CALEG JADI KOLLEKTOR”