Teori Fisika Modern Lebih Dulu Ada di Batak

Jones Gultom

Jauh sebelum ditemukannya hukum kekekalan energi oleh James Prescott Joule (1818-1889) serta teori black hole oleh Hawkings, masyarakat tradisional Batak telah lebih dulu meyakini kebenaran kedua teori tersebut. Bahkan telah dimanifestasikan ke dalam pola laku serta sistem kehidupan mereka sehari-hari. Misalnya kita mengenal konsep “tondi na marsahala”. Prinsip “tondi na marsahala” adalah pengakuan terhadap adanya kekekalan ruh bagi segala yang ada di muka bumi. Tidak hanya makhluk hidup, tetapi juga terhadap semua benda. Termasuk tanah, air, udara, api dan batu. Dalam arti, semua benda yang mendukung kehidupan di bumi memiliki “tondi na marsahala” yang secara harafiah berarti roh yang menghidupkan. Dalam ilmu modern kita sebut sebagai energi.

Lanjutkan membaca “Teori Fisika Modern Lebih Dulu Ada di Batak”

Pangulu Balang di Pulo Samosir

Ria Sitorus

“Tanpa pemahaman sejarah, jiwa generasi muda akan kosong. Mereka akan menjadi orang-orang pintar yang menjual bangsa dan negaranya sendiri,” demikian sebuah kalimat bijak yang penulis kutip dari sebuah tulisan bertajuk “Kreatif Budaya” di sebuah koran Nasional (Kompas 09/12/2012).

Barangkali pemikiran demikianlah yang menjadi landasan bagi Idris Pasaribu, seorang sastrawan dan budayawan Kota Medan yang sekaligus sebagai ketua KSI-Medan, untuk mengajak kami (anggota KSI-Medan) melakukan karya-wisata ke Pulau Samosir.

Aktifitas dan segala problema kehidupan terkadang menghambat laju kreatifitas seseorang. Sehingga perlulah mencari tempat-tempat yang indah untuk “wisata bhatin”.

Pulau Samosir tentu menjadi pilihan tepat yang sangat refresentatif bagi kami. Selain panoramanya yang nan eksostis, juga masih banyak misteri yang belum terungkap di sana. Pulau Samosir—adalah sebuah pulau di dalam peta Pulau Sumatera. Dan Danau Toba—adalah sebuah danau yang penuh misteri.

Lanjutkan membaca “Pangulu Balang di Pulo Samosir”

SOPO BUDAYA atau PARTUNGKOAN, Mampukah..?

Manahara Tambunan

                       —————————————————-

Manahara TambunanSebuah imajinasi Esai untuk mendukung kualitas kesenian dan kebudayaan guna menopang kepariwisataan di Toba(Sa)mosir.

—————————————————–

 

  “Aku mengandalkan kemampuanku untuk mengkritik diriku sendiri, untuk meneliti ke dalam diriku sendiri. Di samping itu aku juga menghargai kritik sesama manusia, sebagai rangsangan untuk perkembangan baru. Pandanganku di dalam kemasyarakatan pun sama; aku mengandalkan kemampuan masyarakat untuk mengkritik dirinya sendiri, untuk meneliti dirinya sendiri”. -W.S. Rendra (dalam Mastodon dan Burung Kondor 2011: 117).

Pengantar:    

APAKAH kita tahu bahwa seni, budaya dan pariwisata memiliki bangunan masing-masing atas kata itu sendiri?. Bukankah kita mengetahui bahwa seni, budaya dan pariwisata memiliki masing-masing defenisi yang luas atas makna yang terkandung di dalamnya?. Apakah ketiga kata ini akan menjadi sebuah Mahakarya yang sangat bernilai tinggi bila saling merangkul  dan menopang satu sama lain?.  Bisakah kita membangun sebuah opini untuk kita hayati dan renungkan, bahkan kita realisasikan bersama?

Lanjutkan membaca “SOPO BUDAYA atau PARTUNGKOAN, Mampukah..?”