Musik Ekologis dalam Kebudayaan Batak Toba

Jones Gultom

Berbicara tentang musik Batak Toba, tidak terlepas dari berbagai aspek. Seperti kita tahu, fungsi musik bagi bangsa ini, selalu terkait dengan ritus-ritus yang bersifat spiritual. Ia dipakai dalam upacara-upacara tertentu. Sebagaimana ciri kosmologis mereka, orang Batak Toba mendasarkan pengalaman empiris dan sipritualitas mereka, salah satunya melalui musik. Itu sebabnya, status sosial pemusik Batak Toba, mendapat tempat khusus di masyarakat. Mereka dianggap sosok pandai yang terpilih. Yang mempunyai kepekaan khusus dalam memandang hidup dan alam sekitarnya. Bahkan dalam konteks yang lebih sakral mereka disebut sebagi manifestasi Batara Guru. Batara Guru sendiri adalah satu dari trinitas dewa tertinggi Batak Toba (Batara Guru-Bala Bulan-Bala Sori) yang salah satu tugasnya menjadi mediator manusia dengan Mulajadi Nabolon ( Sang Pencipta).

Lanjutkan membaca “Musik Ekologis dalam Kebudayaan Batak Toba”

Sumbangan Kebudayaan Batak Untuk Lingkungan

Jones Gultom

Dasar kebudayaan orang Batak (Toba) adalah penghormatan atas seluruh makhluk hidup. Bahkan bukan hanya fisikal, tetapi kadang juga yang bersifat spiritual. Landasannya berdasarkan regalia atas pengakuan akan relasi mikrosmos dengan makrokosmos. Tujuannya, menciptakan keharmonisan antara mikrosmos (jagat kecil-manusia) dengan makrosmos (jagat besar-lingkungan). Itulah sebabnya, dalam spiritualitas Batak, dikenal tokoh-tokoh suci (disebut malim) yang bertugas menyelaraskan itu. Hal inilah yang diyakini oleh masyarakat Parmalim (Penganut Ugamo Malim; Agama Batak) sebagai usaha untuk mengharmoniskan konsep (buatan) manusia dengan konsep alam.

Lanjutkan membaca “Sumbangan Kebudayaan Batak Untuk Lingkungan”

Simanjuntak Sitolu Sada Ina

Ir.Sahala Simanjuntak ( S15 )

Manatap ahu sian Dolok Tolong

Punsu na i mual Palangka Gading

Sian i tangkas tarida Hutabulu

Tano malambut tano pangareahan

Tano siogungogung di pomparanna

Mardaup, Sitombuk, Hutabulu

Hupasahat somba daulat

Tu raja ni na bisuk

Tu raja ni na malo

Ait adong na pasintak patebur

Songon sabesabe ni na hurang malo

Hurang ahu dihata hurang dipangalaho

Hamu anak ni raja hamu anak ni na malo

Tuturi ajari ahu.

Kumpulan Puisi Multidimensi

Jones Gultom

RESENSI

Judul Buku : Situriak Nauli

Penulis : Monang Naipospos dan kawan-kawan

Penerbit : Gramedia 2013

Tebal : 234 halaman

284422_4230029352108_1866232234_n

Ada beberapa hal menarik dalam buku kumpulan puisi ini. Pertama, puisi-puisinya terikat dalam satu tema khusus, yakni Danau Toba. Memang konteks Danau Toba, tidak muncul begitu saja dalam bentuk kata. Sehingga pembaca akan mendapati beberapa puisi yang (mungkin) sama sekali tidak menyebut-nyebut Danau Toba. Tetapi, Penyusun Buku ini, Monang Naipospos, agaknya punya pendapat berbeda. Boleh jadi, ia tak sekedar melihat tema itu dalam perspektif yang sempit.

Konteks Danau Toba itu, bisa saja terekam lewat perasaan, personifikasi objek, ungkapan khas bahkan tanda yang lebih luas. Apalagi bicara Danau Toba, tak lepas dari aspek lain. Misalnya, kultur masyarakat, lingkungan, kehidupan sosial, ekonomi atau persoalan khusus lainnya. Instrumen itulah yang dijadikan penanda. Kita ambil contoh penggalan bait puisi berikut, // mengapa pucuk-pucuk cemara di sekitar kuburmu masih menjilat-jilat langit // namun akar-akarnya sudah tak karuan membusuk // enggan memeluk bukit-bukit leluhur (“Warisan Leluhur” John Ferry Sihotang).

Lanjutkan membaca “Kumpulan Puisi Multidimensi”

Menguatkan Wacana Geopark Toba

Jones Gultom

WACANA Geopark Toba, terkesan kesepian! Meski sudah bergulir kurang lebih 3 tahun, reaksi pemerintah masih terbilang rendah. Padahal gagasan ini, termasuk salah satu cara untuk menyelamatkan Danau Toba berikut kawasan-kawasan penyanggahnya, dari eksploitasi besar-besaran yang terjadi selama ini. Seperti yang disosialisasikan sebelumnya, semangat yang mendasari geopark adalah integrasi pengelolaan warisan geologi (geological heritages) dengan warisan budaya (cultural heritages) di suatu daerah. Geopark mengandung beberapa aspek penting karena di dalamnya ada unsur konservasi, edukasi dan sustainable development.

Seperti yang kita ketahui, konsep ini dikembangkan pertama kali di Eropa sejak tahun 1999 dan mendapat dukungan dari UNESCO. Saat ini sedikitnya sudah ada 78 wilayah di 21 negara yang sudah ditetapkan sebagai geopark. Semua kawasan tersebut dihuni manusia yang hidup berdampingan dengan alam, memanfaatkan alam secara bijaksana bagi kelangsungan manusia.

Lanjutkan membaca “Menguatkan Wacana Geopark Toba”

Aspek dasar spiritualisme suku bangsa Batak Toba

Sahala Simanjuntak

Langit napitu tindi, Ombun napitu lampis

Mempunyai batas tak bertepi :

Pembahasan  spiritualisme Batak ini lebih termakna dari dasar spiritualisme Batak Toba tetapi tidak menutup kemungkinan persamaan pemahaman dengan suku bangsa Batak secara keseluruhan (Karo, Simalungun, Pakpak/Dairi, Angkola /Mandailing), yang membedakan kemungkinan hanyalah segi bahasa. Apa itu spiritualisme? Dasar katanya adalah spirit, yang biasa diterjemahkan dengan Roh atau Semangat. Spirit telah ada pada diri manusia sebelum dia dilahirkan kemuka bumi ini, yaitu adanya nilai-nilai yang mendorong seseorang mengarah kepada dunia dan merespon dunia secara etis. Pengalaman manusia ini setelah ianya dilahirkan kedunia melampaui apa yang diajarkan agama, rumusan dogma serta ketaatan ritual. Ada 3 kemampuan yang berperan penting dalam proses selektifitas ini, yaitu kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual.  Kecerdasan spiritual diperlukan untuk memampukan seseorang bertindak etis.

Lanjutkan membaca “Aspek dasar spiritualisme suku bangsa Batak Toba”

Hentikan Eksploitasi Danau Toba

Jones Gultom

Limbah Sehari = 77 Tahun Pencemaran

PASCA kunjungan Duta Besar (Dubes) Swiss untuk Indonesia, Heinz Walker Nederkoorn 21-23 Januari 2013 lalu, menyisakan kecurigaan sekaligus kekecewaan di kalangan pecinta Danau Toba. Maklum di tengah maraknya penolakan terhadap PT. Aquafarm Nusantara (AN), pejabat daerah ini, justru memohon PT milik Swiss ini, menambah investasi (Kerambah Jaring Apung) di Danau Toba. Padahal jelas-jelas usaha kerambah itu telah mencemari danau volcano-tektonik terbesar di dunia ini.

Lanjutkan membaca “Hentikan Eksploitasi Danau Toba”

Prasasti Dolok tolong

Humala Simanjuntak

Eksistensi prasasti Dolok Tolong dinyakini merupakan bukti utama atas persinggungan budaya batak dengan pradaban Hindu dan Budha di Indonesia. Prasasti Dolok Tolong merupakan Prasasti atas existensi, orang Majapahit di Tanah Batak

Saat itu Pasukan Marinir Kerajaan Majapahit, mengalami kekalahan pahit di Selat Malakka, mereka melalui Sungai Barumun menyelamatkan diri ke daratan Sumatera sampai ke suatu daerah di Portibi Tapanuli selatan, Disana mereka dicegat, di hadang masyarakat, sehingga mereka melanjutkan pelarian kearah utara ke Bukit Dolok Tolong di daerah Tampahan Balige. Di Gunung itulah mereka meminta suaka politik kepada seorang Raja dari Rumpun Marga Sumba (Isumbaon), yaitu Tuan Sorbadibanua yang saat itu menguasai daerah tersebut.

Lanjutkan membaca “Prasasti Dolok tolong”