Euforia Nasionalisme Tor-tor dan Gordang Sambilan

Jones Gultom

Sensitivitas masyarakat Indonesia kembali teruji, ketika pemerintah Malaysia menunjukkan sinyalemen akan mengklaim Tor-tor dan Gordang Sambilan Mandailing sebagai warisan negaranya. Sejumlah reaksi pun bermunculan. Mulai dari sekedar diskusi sampai demonstrasi. Termasuk yang dilakukan oleh belasan seniman yang ada di Medan, beberapa waktu lalu. Sehabis berdiskusi, mereka kemudian menggelar aksi panggung bersama di trotoar depan Taman Budaya Sumatera Utara. Tak tanggung-tanggung, seperangkat gordang sambilan dihadirkan lengkap dengan para penarinya. Gordang ditabuh, penari-penari meliuk dan masyarakat pun berkumpul menikmati pertunjukan gratis itu. Secara bergantian para seniman ini membacakan pernyataan sikap dan orasi kebudayaannya. Beberapa di antara masyarakat yang datang menonton, mulai terpancing suasana. Salah satunya, ada yang sampai “nyeletuk” dengan kalimat-kalimat provokatif. “Perang pun jadi”, katanya. Lanjutkan membaca “Euforia Nasionalisme Tor-tor dan Gordang Sambilan”

Danau Toba Milik Warga Dunia

Jones Gultom*

Beberapa bulan terakhir ada dua isu penting terkait Danau Toba. Pertama, soal dukungan danau vulkano ini sebagai geopark. Kedua, terkait penolakan perpanjangan izin operasi PT Aquafarm. Menyangkut geopark, Danau Toba memang sudah diusulkan pemerintah menjadi geopark bersamaan dengan Danau Batur, Pacitan dan Raja Ampat.

Menyusul kemudian Taman Nasional Gunung Rinjani. Namun baru Danau Batur, Pacitan dan Taman Nasional Gunung Rinjani yang masuk nominasi. Raja Ampat dan Danau Toba masih dalam tahap penjajakan lebih lanjut. Karena itu sudah sepatutnya seluruh elemen masyarakat Indonesia bersatu membangun opini serta memberikan kontribusi sosialnya untuk mewujudkan visi ini.

Lanjutkan membaca “Danau Toba Milik Warga Dunia”

Guru Parmabuk (2)

Monang Naipospos

Baliga binaligagon, barita binaritahon….

Adong ma ninna si Hendry Lumbangaol di sada inganan marbalokhon Pakkat tarsoding pareak harangan. Disi jongjong do sada Singkola Dasar, ima nasomal didok SD. Ndang apala sadia anak singkolana, jala guru pangajari pe ndang piga.

Marhatohoan pangisi ni luat i angka marga Marbun do dohot Sihotang. Guruna i pe tong do Marbun. Molo tung adong pe sian anak singkola i marga na asing ba, na marhatohoan ma angka bere ni luat i.
Ompu Jatingkos do guru nalumeleng disi jala nunga pareak pensiun. Sugari pensiun ibana olo ma holan sada guru pangajari di singkola i.

Lanjutkan membaca “Guru Parmabuk (2)”

Akulturasi Batak dengan Eropa

Sulaiman Sitanggang  (CEPITO 12)

Samosir Art Festival 28-28 Desember 2011.

Apapun latar belakang event ini, siapapun yang terlibat, bagaimanapun manajemen organisasinya, bukan menjadi persoalan bagi saya, dan itu bukan bagian dari tema tulisan ini. Yang jelas saya melihat sebuah fenomena yang menjadi pertanda. Lantas apa yang terjadi disana? Setidaknya nama "Samosir Art" telah menggugah kehadiran saya kesana.

Tak banyak areal melandai bisa ditemui di tepian Danau Toba. Mengingat geografis vulkanik kaldera Toba yang didominasi lereng terjal, curam dan berbatu. Sebuah keindahan lain yang memacu adrenalin. Pasir Putih Parbaba adalah pengecualian. Ia telah menjelma menjadi sebuah kawasan wisata keluarga. Barangkali, sejenak kembali mengakrabi alam setelah lelah bertarung dengan aspal dan kemacetan lampu merah, tembok gedung tinggi yang penuh teror, arus modal uang dan segala tuntutan jaman yang serba modern dan mencekik ini. Pantai sederhana itu perlahan mulai didatangi masyarakat pulau dan turis-turis dari luar pulau.

Lanjutkan membaca “Akulturasi Batak dengan Eropa”

Identitas ‘Batak’ dalam Konteks Etnisitasnya

Jones Gultom.

BICARA tentang "Batak" sebagai identitas etnik, memang cukup kompleks. Dari asal-usul penyebutan kata "Batak" saja, sudah beragam serta sering menuai kontroversi. Hampir secara umum, menyebutkan, kata "Batak" merupakan stereotif negatif yang dilabelkan oleh orang non "Batak" terhadap sebuah kelompok masyarakat yang berdiam di tempat tertentu.

Lanjutkan membaca “Identitas ‘Batak’ dalam Konteks Etnisitasnya”

Pondok Imajiner

Sulaiman Sitanggang  (CEPITO 011)

berada di ketinggian 999 m dpl, kampung itu hanya berjarak beberapa ratus meter dari kota kecil pangururan, sebagai ibukota kabupaten yang masih relatif muda, baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-8. dialah kabupaten samosir yang dikelilingi keindahan danau toba, danau yang juga dikelilingi pegununan bukit barisan, dan beberapa gunung yang telah menjadi mitos bagi kebudayaan bangsa batak sejak dulu kala. dari sini, peradaban bermula, kehidupan generasi demi generasi silih berganti takluk oleh waktu yang tak mungkin berulang, yang membentuk ingatan manusia.

Lanjutkan membaca “Pondok Imajiner”

Quichote Menunggu Godot

Sulaiman Sitanggang  (CEPITO 010)

 

"Bagaimana jadinya, ya?" Ucapmu, di penghujung senja saat mata-langit mengatup ke balik bukit. Tak lupa memancarkan sinarnya yang tinggal satu-satu. Sinar terakhir pada hari itu. Tidak ada hari yang sama di bawah matahari yang sama, bukan? Hari berganti bulan berganti tahun. Semua bergerak, tak pernah sama. Pendar keindahan itu seperti berkata-kata melalui lukisan sore. Membisikkan isyarat pertemuan dan perpisahan yang dicari-cari pencinta senja. Nikmatilah untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Sebuah desis halus yang menyiksa perindu keindahan. Nyaring berkumandang di sudut-sudut kawasan kaldera tua dan terbesar di dunia ini. Sebuah negeri yang berbatas kabut di pagi hari, beratap bintang di malamnya. Gunung-gunung  berlomba menyelonjorkan kakinya ke permukaan danau hingga tampak seperti lekuk-lekuk yang melenakan sekaligus menggairahkan. Bukit-bukit disini, tinggi menjulang langit, jatuh menghujam di kedalaman Danau Toba, salah satu danau yang memiliki kedalaman yang masyhur ke seluruh dunia.

Lanjutkan membaca “Quichote Menunggu Godot”