Dari Samosir untuk Indonesia

Jones Gultom

Beberapa hari merasakan atmosfer Samosirr, seperti membuka catatan-catatan sejarah yang mulai rapuh kertasnya. Ada danau, tapi masyarakat kekurangan air. Dikelilingi pegunungan, tetapi udara kosong melompong. Ada lembah-lembah, tapi tak bisa bercocok tanam. Ada petani, tetapi tak ada lahan yang bisa dikerjakan.

Lanjutkan membaca “Dari Samosir untuk Indonesia”

Warna Batak dan Teori Freud

Jones Gultom

Arus utama kebudayaan adalah universalisme. Dapat kita lihat dari keterkaitan antarproduk kebudayaan, bahkan lintas negara. Apalagi jika menyangkut nilai-nilai yang dikandungnya. Namun sayang, seringkali nilai-nilai ini tak sempat digali. Baik dikarenakan ketakmampuan pemilik budayanya, atau akibat dari trend keseragaman global.

Contohnya adalah warna Batak (Toba). Seperti kita tahu, ciri khas warna Batak adalah hitam-putih-merah. Warna-warna ini akan bermakna bila susunannya tepat. Jika bentuknya piramida, maka merah adalah yang paling dasar. Selanjutnya putih, kemudian hitam pada bagian atas. Begitu juga bila dipakai dalam seni ukir atau lazim disebut gorga.Ornamen-ornamen kecil adalah merah, yang sisinya putih. Sedangkan bagian penampang berwarna hitam. Memang aturan ini terkesan kaku. Namun jika orientasinya berdasarkan nilai, maka harusnya pakem-pakem itu dipatuhi. Secara simbol, masing-masing warna itu dapat kita artikan sebagai berikut.

Lanjutkan membaca “Warna Batak dan Teori Freud”

Teori Fisika Modern Lebih Dulu Ada di Batak

Jones Gultom

Jauh sebelum ditemukannya hukum kekekalan energi oleh James Prescott Joule (1818-1889) serta teori black hole oleh Hawkings, masyarakat tradisional Batak telah lebih dulu meyakini kebenaran kedua teori tersebut. Bahkan telah dimanifestasikan ke dalam pola laku serta sistem kehidupan mereka sehari-hari. Misalnya kita mengenal konsep “tondi na marsahala”. Prinsip “tondi na marsahala” adalah pengakuan terhadap adanya kekekalan ruh bagi segala yang ada di muka bumi. Tidak hanya makhluk hidup, tetapi juga terhadap semua benda. Termasuk tanah, air, udara, api dan batu. Dalam arti, semua benda yang mendukung kehidupan di bumi memiliki “tondi na marsahala” yang secara harafiah berarti roh yang menghidupkan. Dalam ilmu modern kita sebut sebagai energi.

Lanjutkan membaca “Teori Fisika Modern Lebih Dulu Ada di Batak”

Musik Ekologis dalam Kebudayaan Batak Toba

Jones Gultom

Berbicara tentang musik Batak Toba, tidak terlepas dari berbagai aspek. Seperti kita tahu, fungsi musik bagi bangsa ini, selalu terkait dengan ritus-ritus yang bersifat spiritual. Ia dipakai dalam upacara-upacara tertentu. Sebagaimana ciri kosmologis mereka, orang Batak Toba mendasarkan pengalaman empiris dan sipritualitas mereka, salah satunya melalui musik. Itu sebabnya, status sosial pemusik Batak Toba, mendapat tempat khusus di masyarakat. Mereka dianggap sosok pandai yang terpilih. Yang mempunyai kepekaan khusus dalam memandang hidup dan alam sekitarnya. Bahkan dalam konteks yang lebih sakral mereka disebut sebagi manifestasi Batara Guru. Batara Guru sendiri adalah satu dari trinitas dewa tertinggi Batak Toba (Batara Guru-Bala Bulan-Bala Sori) yang salah satu tugasnya menjadi mediator manusia dengan Mulajadi Nabolon ( Sang Pencipta).

Lanjutkan membaca “Musik Ekologis dalam Kebudayaan Batak Toba”

Sumbangan Kebudayaan Batak Untuk Lingkungan

Jones Gultom

Dasar kebudayaan orang Batak (Toba) adalah penghormatan atas seluruh makhluk hidup. Bahkan bukan hanya fisikal, tetapi kadang juga yang bersifat spiritual. Landasannya berdasarkan regalia atas pengakuan akan relasi mikrosmos dengan makrokosmos. Tujuannya, menciptakan keharmonisan antara mikrosmos (jagat kecil-manusia) dengan makrosmos (jagat besar-lingkungan). Itulah sebabnya, dalam spiritualitas Batak, dikenal tokoh-tokoh suci (disebut malim) yang bertugas menyelaraskan itu. Hal inilah yang diyakini oleh masyarakat Parmalim (Penganut Ugamo Malim; Agama Batak) sebagai usaha untuk mengharmoniskan konsep (buatan) manusia dengan konsep alam.

Lanjutkan membaca “Sumbangan Kebudayaan Batak Untuk Lingkungan”

Menguatkan Wacana Geopark Toba

Jones Gultom

WACANA Geopark Toba, terkesan kesepian! Meski sudah bergulir kurang lebih 3 tahun, reaksi pemerintah masih terbilang rendah. Padahal gagasan ini, termasuk salah satu cara untuk menyelamatkan Danau Toba berikut kawasan-kawasan penyanggahnya, dari eksploitasi besar-besaran yang terjadi selama ini. Seperti yang disosialisasikan sebelumnya, semangat yang mendasari geopark adalah integrasi pengelolaan warisan geologi (geological heritages) dengan warisan budaya (cultural heritages) di suatu daerah. Geopark mengandung beberapa aspek penting karena di dalamnya ada unsur konservasi, edukasi dan sustainable development.

Seperti yang kita ketahui, konsep ini dikembangkan pertama kali di Eropa sejak tahun 1999 dan mendapat dukungan dari UNESCO. Saat ini sedikitnya sudah ada 78 wilayah di 21 negara yang sudah ditetapkan sebagai geopark. Semua kawasan tersebut dihuni manusia yang hidup berdampingan dengan alam, memanfaatkan alam secara bijaksana bagi kelangsungan manusia.

Lanjutkan membaca “Menguatkan Wacana Geopark Toba”

Sapargondangan Wujudkan Geopark Toba

Jones Gultom

SEBAGAIMANA masyarakat komunal di berbagai belahan dunia, Bangsa Batak (Toba) dikenal sebagai masyarakat yang suka kebersamaan. Hal itu terlihat dari perilaku dan sistem sosial yang mereka ciptakan. Setiap perkerjaan dilakukan secara bergotong-royong, mulai dari menombang (membuka kampung baru) sampai membangun rumah. Bermacam persoalan yang ada juga diselesaikan secara musyawarah untuk mufakat. Mereka berpatokan pada patik dohot uhum (aturan dan hukum), sehingga tak ada masalah yang tak terpecahkan.

Lanjutkan membaca “Sapargondangan Wujudkan Geopark Toba”

Euforia Nasionalisme Tor-tor dan Gordang Sambilan

Jones Gultom

Sensitivitas masyarakat Indonesia kembali teruji, ketika pemerintah Malaysia menunjukkan sinyalemen akan mengklaim Tor-tor dan Gordang Sambilan Mandailing sebagai warisan negaranya. Sejumlah reaksi pun bermunculan. Mulai dari sekedar diskusi sampai demonstrasi. Termasuk yang dilakukan oleh belasan seniman yang ada di Medan, beberapa waktu lalu. Sehabis berdiskusi, mereka kemudian menggelar aksi panggung bersama di trotoar depan Taman Budaya Sumatera Utara. Tak tanggung-tanggung, seperangkat gordang sambilan dihadirkan lengkap dengan para penarinya. Gordang ditabuh, penari-penari meliuk dan masyarakat pun berkumpul menikmati pertunjukan gratis itu. Secara bergantian para seniman ini membacakan pernyataan sikap dan orasi kebudayaannya. Beberapa di antara masyarakat yang datang menonton, mulai terpancing suasana. Salah satunya, ada yang sampai “nyeletuk” dengan kalimat-kalimat provokatif. “Perang pun jadi”, katanya. Lanjutkan membaca “Euforia Nasionalisme Tor-tor dan Gordang Sambilan”

Danau Toba Milik Warga Dunia

Jones Gultom*

Beberapa bulan terakhir ada dua isu penting terkait Danau Toba. Pertama, soal dukungan danau vulkano ini sebagai geopark. Kedua, terkait penolakan perpanjangan izin operasi PT Aquafarm. Menyangkut geopark, Danau Toba memang sudah diusulkan pemerintah menjadi geopark bersamaan dengan Danau Batur, Pacitan dan Raja Ampat.

Menyusul kemudian Taman Nasional Gunung Rinjani. Namun baru Danau Batur, Pacitan dan Taman Nasional Gunung Rinjani yang masuk nominasi. Raja Ampat dan Danau Toba masih dalam tahap penjajakan lebih lanjut. Karena itu sudah sepatutnya seluruh elemen masyarakat Indonesia bersatu membangun opini serta memberikan kontribusi sosialnya untuk mewujudkan visi ini.

Lanjutkan membaca “Danau Toba Milik Warga Dunia”

Identitas ‘Batak’ dalam Konteks Etnisitasnya

Jones Gultom.

BICARA tentang "Batak" sebagai identitas etnik, memang cukup kompleks. Dari asal-usul penyebutan kata "Batak" saja, sudah beragam serta sering menuai kontroversi. Hampir secara umum, menyebutkan, kata "Batak" merupakan stereotif negatif yang dilabelkan oleh orang non "Batak" terhadap sebuah kelompok masyarakat yang berdiam di tempat tertentu.

Lanjutkan membaca “Identitas ‘Batak’ dalam Konteks Etnisitasnya”