Jones Gultom
BAGI kebanyakan orang Batak (Toba) tradisional (mungkin juga umumnya masyarakat tradisi lain) angka ganjil punya makna tersendiri. Dikatakan, angka ganjil diyakini membawa keberuntungan. Keyakinan itu didasarkan atas kepercayaan lokal mereka yang mengaitkan angka ganjil sebagai miliknya tondi sahala (ruh). Tapi ada yang memplesetkan ganjil sebagai miliknya para hantu, sehingga perlu diwaspadai. Misalnya dalam penerapan keseharian, orang Batak (Toba) berupaya menghindari aktivitas besar di tanggal maupun bulan ganjil. Contohnya membangun rumah. Yang jelas kedua persefsi tentang ganjil itu sama-sama mengandung kesamaan nilai, yakni “mistikal”. Aku lebih suka menyebutnya “kebatinan”.