Ketika Ganjil Tegur Genap

Jones Gultom

BAGI kebanyakan orang Batak (Toba) tradisional (mungkin juga umumnya masyarakat tradisi lain) angka ganjil punya makna tersendiri. Dikatakan, angka ganjil diyakini membawa keberuntungan. Keyakinan itu didasarkan atas kepercayaan lokal mereka yang mengaitkan angka ganjil sebagai miliknya tondi sahala (ruh). Tapi ada yang memplesetkan ganjil sebagai miliknya para hantu, sehingga perlu diwaspadai. Misalnya dalam penerapan keseharian, orang Batak (Toba) berupaya menghindari aktivitas besar di tanggal maupun bulan ganjil. Contohnya membangun rumah. Yang jelas kedua persefsi tentang ganjil itu sama-sama mengandung kesamaan nilai, yakni “mistikal”. Aku lebih suka menyebutnya “kebatinan”.

Lanjutkan membaca “Ketika Ganjil Tegur Genap”

BILA DIA MEMANGGIL

 

Jones Gultom

TIBA-TIBA aku mengingatmu lagi, ketika lama  tak saling bertegur sapa. Dua puluh 4 tahun kita pernah bersama, mengeja kearifan-kearifan yang begitu kau agungkan. Sebagaimana anak-anak, tentu aku tak mengerti kisah Sinabung yang berkelahi dengan Pusuk Buhit, tentang Ompunta Raja Uti, yang katamu bisa melompat dari bintang ke bintang, tentang naga penjaga tao, tentang kalau jumpa begu ganjang mesti aku mengelilingi tanah tempat kuberpijak sebanyak 3 kali, tentangmu yang mengajariku untuk marsantabi di mana saja, tentangku yang tak mesti takut dengan hantu jika merasa akrab dengannya, tentang pulau tulas, tentang makna pangir yang kerap kau suguhkan bila aku demam atau tartondi, katamu.

Lanjutkan membaca “BILA DIA MEMANGGIL”

BATUK SINABUNG, TOBA DAN BLACK HOLE

Jones Gultom

sinabungSangat rasional jika “batuknya” Sinabung dikaitkan sebagai indikasi akan ketakseimbangan sturuktur bukit barisan yang mengakar sampai ke pesisir Sumatera. Dan amat logis pula, jika kemudian kekhawatiran terbesar adalah dampaknya terhadap konsistensi penopang Danau Toba seperti dilansir beberapa media, mengutip pridiksi ilmuwan. Apalagi wacana menyebut, Samosir kini retak, rawan terbelah dua. Getaran Sinabung tentu membentuk pola baru dalam lapisan tanah, di persekitaran Danau Toba.

Lanjutkan membaca “BATUK SINABUNG, TOBA DAN BLACK HOLE”

BATAK ?

Ahmad Arief Tarigan

Sebelum memulai tulisan ini, ada baiknya, penulis menjelaskan ‘posisi’ terlebih dahulu agar tidak terjebak dalam perdebatan emosional primordial serta tidak bias dengan subjektifitas manapun. Sekaligus juga menjadi penekanan bahwa tulisan ini mencoba untuk menempatkan perdebatan pada ranah yang lebih kritis dalam memandang permasalahan. Sebagaimana layaknya berdiskusi, kita semestinya bersikap terbuka (menerima perbedaan pendapat dan kritik), berpandangan luas, bebas dari praduga dan meyakini bahwa prasangka (kebencian pribadi maupun golongan) adalah ‘pembunuhan kejam’ sehingga tak pantas untuk dilakoni.

Lanjutkan membaca “BATAK ?”

Agama dan Budaya

Jones Gultom*

MASIHKAH agama dengan nilai-nilai normatifnya itu, menjadi bagian vital di tengah hidup yang melaju cepat ini? Masihkah orang-orang akan berdoa, bila teknologi sudah mampu menjawab persoalan-persoalan dalam hidupnya? Masihkah puja-puji terus dilantunkan bila ketakjuban tak lagi ada di hati masing-masing orang? Pertanyaan ini pernah diutarakan Goenawan Mohammad dalam salah satu catatan pinggirnya di Majalah Tempo. Saya menduga, agama-agama formal yang dianut milyaran orang di dunia ini hanya menjadi identitas sebagai pra syarat statusnya sebagai warga negara. Agama semacam ini hanyalah sebuah lembaga hukum dan perangkat bertatanegara yang gampang bosan.

Lanjutkan membaca “Agama dan Budaya”

Kenapa (harus) Karo Bukan Batak?

Jones Gultom

Identitas Karo dalam kaitannya dengan Batak, kembali digugat. Gugatan ini dalam sebuah diskusi bersama Antroplog Karo, Juara Ginting di Rumah Buku, Padang Bulan, beberapa waktu lalu.

Dalam kesempatan itu, Juara mengajak para peserta diskusi yang notabene, Mahasiswa Karo USU, mempertanyakan kembali latarbelakang kata Batak yang lazim disematkan pada sukunya. "Kenapa mesti ada embel-embel Batak, jika tak ada kaitan antara Batak dengan Karo?" Tanya Juara. Sudah sejak lama prokontra itu muncul ke permukaan, terutama di masyarakat Karo. Menurut penulis, mulanya polemik ini muncul sebagai imbas dari persepsi keliru, dimana ketika menyebut Batak, masyarakat seolah-olah terbayang deskripsi akan sub etnis Batak tertentu (Toba). Mungkin tak menjadi soal, jika Batak Karo, Batak Toba, Batak Simalungun serta Batak lain duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.

Lanjutkan membaca “Kenapa (harus) Karo Bukan Batak?”