FACEBOOKERS UNTUK SESAMA DI TANAH BATAK

Limantina Sihaloho (Pematang Siantar)

APA YANG DAPAT KITA LAKUKAN UNTUK SESAMA DI TANAH BATAK?
(SEBUAH USULAN)

Kamis, 12 November 2009, saya membaca status Pak Monang Naipospos yang dipostingkannya di dinding fesbuknya sehari sebelumnya. Isinya: “Seorang ibu meneteskan airmata tadi pagi dirumahku. Anaknya dioperasi di P.Baru butuh tebusan 12 jt Uangnya kurang 10 juta. Dia memahami alasanku tdk memberi pinjaman karena tau anakku juga baru opname dan tiap 20 hari kontrol. Tak kuasa melihat airmatanya akhirnya kujamini pinjamannya kpd sahabatku. Kulihat rahasia Tuhan yg pertemukan org dlm derita yg sama Semoga anak2 kami sgr pulih spt sediakala.”
Lanjutkan membaca “FACEBOOKERS UNTUK SESAMA DI TANAH BATAK”

Haminjon-Batak, Riwayatmu Kini…!

Limantina Sihaloho

Konon, kemenyan yang dibawa orang-orang bijak dari timur (majus) kepada Yesus di palungan di Betlehem berasal dari Tanah Batak. Ini saja sudah lebih dari cukup untuk membuat saya ingin melihat langsung seperti itu pohon kemenyan. Begitulah, saya sampai di Sipituhuta pada awal bulan ini untuk melihat pohon kemenyan mereka.
Lanjutkan membaca “Haminjon-Batak, Riwayatmu Kini…!”

Sikap Orang Batak terhadap Lingkungan

Limantina Sihaloho

“Sebelum agama Kristen masuk di Tanah Batak, pohon-pohon besar itu masih berdiri; setelah agama Kristen masuk, pohon-pohon besar itu ditebangi antara lain untuk membuktikan bahwa pohon itu tak mempunyai kekuatan apapun”, begitu kata salah seorang teman kelas saya yang kebetulan orang Batak di Fakultas Teologia Universitas Kristen Duta Wacana di pertengahan tahun 1990-an. Kala itu, istilah global-warming masih jauh dari telinga dan wacana publik. Jogja pada waktu itu masih relatif dingin malah; tidur pada malam hari masih perlu pakai selimut. Di awal 2000-an Jogjakarta telah berubah menjadi gerah, sumuk. Seperti Pematang Siantar pada masa sekarang ini yang juga sudah bertambah panas walau jauh dari tepi laut.
Lanjutkan membaca “Sikap Orang Batak terhadap Lingkungan”

SOPO KOMIL JANGAN SAMPAI BUNTUNG

Adonia Sihotang

Tanggapan untuk Untung Atau Buntung

Saya ikut memberikan pendapat dan opini terhadap topik yang kita bahas dalam forum ini “Untung atau Buntung”. Sangat bagus tulisan ito Limantina Sihaloho menggambarkan kondisi Desa Sopo Komil yang sangat eksotis. Kondisi desa ini sangat khas pedesaan Batak Highland yang umumnya terletak di punggung bukit, di lereng (di robean), atau lembah Bukit Barisan yang menjulang tinggi menantang awan, sehingga jalan-jalan yang menghubungkan antara satu desa dengan desa lainnya harus meluk-liuk melintasi lereng-lereng bukit yang bertebing curam atau menaiki punggung bukit dan menuruni lembah yang dalam.

Lanjutkan membaca “SOPO KOMIL JANGAN SAMPAI BUNTUNG”

Untung atau Buntung?

Limantina Sihaloho
[Kisah penduduk desa Sinar Pagi dan Sopo Komil]

Desa Sinar Pagi

Ruth Butar-butar, diakones dari Perkumpulan Diakones Pelangi Kasih (PDPK) yang tinggal di Parongil bercerita kepada saya bagaimana ia dan kawan-kawannya harus berjalan kaki paling tidak selama 4 jam untuk sampai ke sebuah desa bernama Sinar Pagi di Kecamatan Tanah Pinem Kabupaten Dairi.
Lanjutkan membaca “Untung atau Buntung?”

Catatan untuk para pengagum I.L. Nommensen

Limantina Sihaloho*

Di luar sudah sepi dan mulai gelap padahal baru pukul 4:00 sore. Dingin. Pohon-pohon meranggas tanpa daun kecuali cemara. Saya berjalan cepat-cepat menuju ruangan yang hangat. Waktu itu awal Desember 2006 di Christian Jensen Kolleg, Breklum, Jerman. Saat berjalan itu, pikiran saya tak dapat lepas dari Ingwer Lodewijk Nommensen ( 1834 – 1918 ) yang terkenal karena dedikasinya mengkristenkan suku bangsa Batak. Kampungnya di Noordstrand, sekitar 20 menit naik mobil dari Breklum. Pikiran saya dipenuhi pertanyaan: Bagaimana kira-kira keadaan Noordstrand pada abad ke-19? Bagaimana kehidupan orang-orang miskin seperti I.L. Nommensen dan keluarganya di era di mana listrik belum ada? Alangkah beratnya hidup di Eropa terutama di musim dingin pada zaman itu terlebih-lebih bagi orang-orang miskin seperti keluarga Nommensen.

Lanjutkan membaca “Catatan untuk para pengagum I.L. Nommensen”