Monang Naipospos
Saya hendak memberi komentar pada tulisan lae Suhunan Situmorang Cucu Panggoaran. Cerita itu menggelitik membuat saya tertawa.
Lanjutkan membaca “DI BATAK, NAMA ITU PENTING”
Monang Naipospos
Saya hendak memberi komentar pada tulisan lae Suhunan Situmorang Cucu Panggoaran. Cerita itu menggelitik membuat saya tertawa.
Lanjutkan membaca “DI BATAK, NAMA ITU PENTING”
Suhunan Situmorang
MESKI petang kian merapat, Nai Posma masih lelap di pondok humanya; tak lagi giat mengusir burung-burung kecil berwarna coklat yang terus berdatangan untuk menyantapi padinya. Sebagaimana padi yang terhampar di seluruh wilayah Janji Matogu, padi milik Nai Posma pun sudah mulai bunting dan menguning.
Lanjutkan membaca “Cucu “Panggoaran””
Suhunan Situmorang
TARINA sadar malam sudah tua, namun resah yang sudah berbilang minggu menggelinjang di hatinya, membuat dirinya tak bisa tidur. Dibukanya lagi jendela depan rumah kayu berkolong itu seraya melepas pandang ke hamparan sawah dan danau yang samar-samar terlihat di kejauhan. Malam tak begitu gelap, bulan purnama merayap ke ufuk barat. Sunyi malam sesekali diusik suara jangkrik.
Lanjutkan membaca “Kebaya Pengantin”
Monang Naipospos
Setelah novel SORDAM kuterima tgl 03 Mei 2007 langsung dari penulisnya Lae Suhunan Situmorang di Jakarta, saya berkeinginan mengomentari isi novelnya itu. Setibanya di Toba, saya melanjutkan membaca yang belum tuntas selama dalam perjalanan.